Kunjungan ke tempat itu sebenarnya sudah lama mereka rencanakan, namun baru hari ini sempat terwujud. Kania langsung turun dari mobil. Ia melangkah pelan ke depan, lalu tanpa sadar mulutnya membentuk huruf O saat kedua matanya menyapu setiap sudut bangunan itu. Toko tersebut cukup besar—bahkan terbilang luas untuk ukuran toko buku milik pribadi, bukan jaringan besar seperti toko-toko komersial pada umumnya. Dinding bercat cokelat, dipadu desain interior bernuansa vintage, menciptakan suasana hangat yang terasa begitu sempurna di mata Kania. “Ayo, masuk!” Naren mengajak sembari tersenyum tipis. Ia meraih tangan Kania untuk digandeng. Kania mengangguk satu kali, tanpa menjawab. Ia membiarkan Naren menggandeng tangannya untuk masuk. Lagi-lagi Kania dibuat terpukau begitu disambut denga

