Napas Kania tersendat. Tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena rasa sakit yang ia tahan, melainkan karena emosi dan keras kepalanya sendiri hingga menyebabkan sang paman terluka. Entah bagaimana, perasaan itu muncul begitu saja. Rasa bersalah yang besar kini tumbuh dari dasar hatinya yang paling dalam, menekan hingga dadanya terasa sesak. “A–aku … aku nggak sengaja, Om.” Suaranya pecah. Lirih. Penuh penyesalan. Satu tangan Biantara yang tidak terluka terangkat, mencubit dagu Kania dan mengangkatnya tinggi agar menatapnya. Jarak di antara mereka terpangkas. Wajah Biantara mendekat, terlalu dekat, membuat napas Kania tertahan. “Listen,” ucapnya datar. Ia berbicara tepat saat bibirnya menyentuh bibir Kania—sentuhan singkat, dingin, tanpa kehangatan sedikit pun. “Kalau mau hancur, jangan p

