Gadis itu kelimpungan. Ia berusaha menahan sensasi yang menjalar ke tubuh. Tubuhnya melengkung ke atas. Punggungnya menjauhi kasur. Ia ingin menghentikan. Namun, tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Hanya ada pekikan suara yang tidak bisa keluar ketika sesuatu menahannya dari dalam. Demi apa pun, makin berusaha ia bungkam, makin hebat pula sensasi alat itu. Kania merasa berbeda. Seluruh tubuhnya seperti digelitik sesuatu yang tak kasat mata. Tidak ada sedikit pun kalimat yang bisa menjelaskan kondisinya sekarang. Sekali lagi, tidak ada. Sampai akhirnya, Kania sadar. Ia merasakan sebuah r.a.n.g.s.angan. “O–Omh ... please, ahhh ....” Biantara merasa menang ketika melihat Kania menahan mati-matian sesuatu yang ingin dikeluarkan. Ia menambah intensitas getarannya. “Akhhh ....” E

