“Aku memang gila!” teriak Kania. “Kalian yang bikin aku sakit jiwa!” Ia menatap satu per satu orang di hadapannya. Tidak ada lagi rasa takut di sana. Hanya kemarahan yang semakin t.e.lanjang. “Aku nggak pernah minta dibesarkan sama keluarga brngsek kayak kalian!” Kata-kata itu menghantam telinga Biantara. Ia tertegun. Tubuhnya kaku, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk melangkah lebih jauh. Ia mendengar hinaan itu dengan jelas—namun entah kenapa tidak mampu bereaksi. “Tita…” suara Kania mendadak merendah dan lirih. Tatapannya tetap datar dan tidak berkedip. Ia melangkah mendekat ke arah Ranti.“Tita udah ngelahirin keturunan brngsek,” ucapnya pelan, menekan tiap kata. Ranti membeku. “Anak-anak Tita sama Opa itu semuanya brngsek,” lanjut Kania, suaranya bergetar, tapi tak goyah. “

