Ada keheningan sejenak. Nala menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kalau dia aman … itu udah cukup buat aku,” katanya akhirnya. “Makasih … makasih buat pertolongannya.” Mendengar seluruh penuturan Nala, Adrian kini semakin memahami betapa berat beban yang ditanggung Kania. Gadis malang itu… benar-benar menyedihkan. Dan lebih dari itu, ia jelas membutuhkan pertolongan. Jika persahabatannya dengan Biantara harus menjadi taruhannya, maka biarlah ia mempertaruhkan semuanya. Bukan semata-mata untuk menghancurkan hubungan baik yang selama ini sudah terjalin, melainkan agar suatu hari sahabatnya itu belajar. Agar lelaki itu mengerti bahwa apa yang selama ini ia sia-siakan adalah sesuatu yang barangkali paling berharga dalam hidupnya. ** Pagi

