Dokter Wina memiringkan kepala, sedikit heran dengan permintaan itu. Namun, akhirnya ia tersenyum dan mengangguk. “Ya, seperti yang tadi aku bilang. Dia cantik banget.” “Yang lebih spesifik, Win,” balas Biantara tenang. “Cantik itu relatif buat saya,” Dokter Wina mendongak, menatap langit-langit ruangan sejenak, berusaha mengingat dengan jelas paras dan postur gadis yang dimaksud. “Kulitnya putih bersih. Rambutnya panjang sepunggung,” ia mulai menjelaskan perlahan, lalu semakin lancar. “Giginya rapi—ada gigi kelinci dan sedikit gingsul. Senyumnya manis, ada lesung pipi di kedua sudut bibirnya.” Ia berhenti sejenak, memastikan setiap detail yang ia ucapkan sampai dengan tepat. “Matanya bulat kayak warna hazel gitu, bening. Bulu matanya juga lentik. Hidungnya mancung.” Setelah menyelesa

