Malam hari .... Dingin makin terasa. Di kamar hotel, Kania memeluk tubuhnya sendiri. Jaket yang ia kenakan tadi siang jatuh dan berakhir di laundry. Kali ini, ia hanya mengandalkan selimut sebagai penghangat. Tidak berselang lama, ketukan pintu terdengar. Kania berjalan pelan untuk membukakan pintu. “Elang?” Adiknya itu membawa dua cup cokelat panas. Satunya ia berikan pada Kania. “Buat Kakak. Dibeliin Om tadi.” Kania tanpa ragu menerimanya. Tangan yang gemetar itu membuat cup di genggaman seperti goyang. “Thanks, Elang.” Elang mengangguk, tapi ia langsung menyentuh dahi Kania. “Badan Kakak panas. Wajah Kak Kania juga pucat.” Gadis itu menepis ucapan Elang. “Nggak, Lang. Cuma kedinginan dikit.” Lelaki itu tidak bereaksi. Ia tahu betul jika jaket kakaknya juga belum selesai di laun

