Bab 31-3

749 Words

Di kamar hotel, Kania menaruh medalinya di meja. Cincin cahaya lampu kamar memantul di permukaan emas itu, menciptakan kilau lembut yang menenangkan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela besar yang menghadap kota. Entah kenapa, perasaannya kosong. Matanya belum mengantuk meski jam sudah larut. Pemandangan di luar jendela terlihat memikat—jalan-jalan yang penuh cahaya dan orang-orang yang masih berlalu-lalang di tengah udara malam Beijing. “Di luar kayaknya menarik banget…” gumamnya pelan. Ia mencondongkan tubuh, menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Dari lantai sepuluh, pemandangan itu terasa hidup, menggoda rasa penasarannya. “Keluar kali, ya. Sekalian cari makanan. Lihat kota malamnya.” Kania tersenyum kecil pada bayangan dirinya di kaca, lalu berdiri. Tanpa banyak pikir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD