Berbagai pertanyaan terlontar. Keduanya menjawab ringkas, bergantian. Sesekali mereka menampilkan senyum tipisnya yang ramah. Di belakang mereka, Biantara berdiri. Wajah tegasnya terlihat tidak berekspresi, sedangkan kedua netranya mengamati semuanya dari jauh. Saat satu wartawan menoleh ke arahnya dan mencoba menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab singkat dan lugas. Nadanya cepat, tapi tetap terukur. Selesai sesi foto singkat, rombongan dibawa ke mobil dinas yang menjemput. Sepanjang perjalanan ke sekolah, Kania duduk diam, masih menatap medali di tangannya. Hans. Nama pria yang memiliki pengaruh di kehidupannya seketika muncul. Kania akan mempersembahkan benda tersebut kepada sang papa. Sekeji apa pun Hans memberi hukuman, Kania selalu menyematkan pikiran positif di sana. Mungki

