Dan Kania … gadis yang berdiri di depannya sekarang, dengan mata penuh harap dan tangan kecil yang masih menyodorkan medali itu—tetap saja, di mata Hans, ia adalah bayangan hidup dari pengkhianatan Davina. Anak hasil perselingkuhan. Anak yang tidak pernah ia pilih. Anak yang dianggap “haram” sejak hari pertama ia tahu kebenaran itu. Mengingat semuanya, amarah Hans kembali naik ke permukaan. Meski di hadapannya berdiri seorang anak yang begitu lembut dan penuh ketulusan, hatinya tetap terkunci rapat. Tidak ada ruang untuk Kania, sebesar apa pun usahanya mengetuk pintu itu. Suasana ruang makan berubah pekat. Hening yang tadinya biasa menjadi hening yang menyesakkan. Yasmin sampai menahan napas, takut pada kalimat apa yang akan keluar. Kania masih menunggu, menahan medali dan amplop it

