“Bia.” Kania menghampiri Yasmin. Ia duduk di sebelahnya. Yasmin merangkul Kania setelah gadis itu duduk. Kentara betapa sayangnya ia terhadap anak sulung yang tidak pernah dianggap oleh keluarga suaminya. “Kamu ada waktu luang, Sayang?” Kania mengangguk. “Lumayan, Bia. Memangnya kenapa?” Belum sampai Yasmin menjawab, Melati sudah lebih dulu angkat bicara. “Jadi, begini, Kania. Aku suka banget sama desain gaun yang kamu buat. Boleh nggak, kalo desain itu aku minta buat dijadikan gaun pernikahanku sama Mas Bian?” Kania tertegun sejenak. Ia menggeser pandangannya pada Biantara. Seperti biasa, wajah pria itu selalu datar. Gadis tersebut lantas kembali memandang ke arah Melati. “Maaf, desain gaun yang mana, ya, Kak?” Melati lantas memperlihatkan desain yang masih terlihat di layar i

