Ucapan itu meretakkan hati Kania lebih parah. Jadi, Biantara benar-benar mencintai Melati? “Secinta itu Om sama Kak Melati?” Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Kania. Gadis itu menatap dalam ke mata Biantara. Ditanya demikian, justru membuat pria tersebut terpaku. Kemampuan bicaranya seperti dikunci. Netra Kania yang tengah menatapnya begitu dalam seakan membuatnya lumpuh. Biantara seperti dikunci. Tiap gerakannya seolah sedang dikendalikan. Tatapannya ... meredup secara perlahan. Tangisan dan derai air mata itu bahkan membuat Biantara tertegun. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi tidak mampu. Hatinya yang keras seperti tergores, menumbuhkan rasa iba dalam hati yang tidak bisa dikontrol oleh akal sehatnya. Seharusnya, Biantara tidak merasakan ini. Dari kecil, ia s

