Ia menoleh Kania lagi. “Hujan, Kania. Biar kakak antar pulang. Nanti apa kata Mba Yasmin kalo kamu pulang sendiri.” Tidak ada bantahan. Kania biarkan Melati menggenggam tangannya lalu dituntun untuk berjalan. Begitu sampai tepat di depan Biantara, Kania menghentikan langkah. Ia mengarahkan tatapannya pada sang paman. “Baiklah.” Kania menegakkan tubuh. Ia memaku matanya pada Biantara, dalam sekaligus tajam. “Aku bakal berikan desain itu buat Kak Melati setelah aku menambah detail di bagian ekor, sesuai permintaan kemarin.” Melati tidak menyangka jika akhirnya kesanggupan itu ia dengar dengan telinganya sendiri. Wajahnya terlihat terkejut mendengar pernyataan Kania. “Bagus kalau kamu berubah pikiran.” Biantara berdecih sinis. Ia menyaku kedua tangannya di saku celana. “Jangan, Kani

