Yasmin bergetar, memohon dengan matanya yang basah. Tetapi Kania justru semakin membeku. Kata-kata yang ingin keluar, mati. Ia seperti terperangkap di antara dua prahara: tuduhan yang menyesakkan dan luka yang sudah lama menggerogoti batinnya. Ingin rasanya Kania berteriak memberi pernyataan bahwa foto itu adalah kesalahan. Namun, lagi-lagi otaknya memberi perintah untuk tetap diam. Sampai akhirnya, Hans yang kepalang marah langsung mendorong tubuh Kania hingga terjatuh ke lantai. Lutut itu membentur lantai, cukup keras. Kania bersimpuh. Wajahnya tertunduk, sambil menahan perih di luka bakarnya. “Mas! Tolong. Jangan beri dia pukulan. Sudah cukup dia menanggung semua emosi kamu selama ini!” Seruan Yasmin tidak ditanggapi oleh Hans. Pria tersebut mengambil sapu dan mengangkatnya ke

