“Kemasi barang-barang kamu! Setengah jam lagi, ikut anak saya ke mansion!” Ranti memberi perintah tegas. Ia berbalik, menyingkir dari gadis yang tampak tidak tahu arah dan dianggap selalu menyusahkan. “Ini kesempatan terakhir bagi kamu. Kalau sampai kamu macam-macam di tempat tinggal putra kedua saya, jangan harap kamu bertemu dengan Bia kamu lagi!” Ucapan itu menghantam Kania tanpa ampun. Kepalanya terangkat perlahan, menatap wajah Hanggara yang dingin dan tak berperasaan. Tatapan pria tua itu mengunci dirinya—pekat, mengintimidasi, tanpa sedikit pun ruang untuk harapan. Mata itu bukan sedang memberi peringatan, melainkan vonis. “Cepat kemasi barang-barang kamu! Setelah ini, ikut Biantara pulang.” Tidak ada jawaban keluar dari bibir Kania. Tenggorokannya terlalu sesak untuk sekadar b

