“Baik-baik di rumah Om. Jangan sungkan bilang ke Bia kalo butuh sesuatu. Kamu masih tanggung jawab Bia sepenuhnya.” Kania mengangguk pelan di d.a.da mamanya. Dalam diam, ia menyimpan kalimat itu rapat-rapat di hatinya, sebagai satu-satunya penguat sebelum melangkah pergi. Pelukan itu diakhiri oleh Kania. Ia mengangguk, menatap wajah Yasmin sebegitu dalam. Ada rasa berat, tapi gadis tersebut berusaha agar tidak mengungkapkannya. “Iya. Kania pergi dulu, Bia.” Gadis tersebut menyalami tangan Yasmin. Cukup lama, ia mengecup dan mengusapnya lembut. “Hati-hati, Sayang.” “Hm, oke.” Kania langsung keluar dari kamar tersebut. Ia menutup pintunya pelan. Jalannya begitu lirih saat menuju ujung tangga. Kepalanya memutar. Ia menoleh lagi ke arah kamar mamanya. Satu titik air mata menetes, tapi

