“Awas aja! Aku nggak bakal biarin dia buat aturan seenak jidat!” ** Mata Kania terlihat lelah ketika selesai menyiapkan sarapan untuk Biantara. Ia bahkan menguap beberapa kali. Gadis tersebut menumpukan wajahnya pada meja pantri. Ia terduduk dalam kondisi lesu. Kania memejamkan mata selama beberapa detik. “Berapa lama kamu meladeni dia sampai selelah ini?!” Teguran keras itu membuat Kania mengangkat kepalanya dari meja. Ia menoleh ke sumber suara. Biantara sudah berada di meja makan. Kania lekas beranjak dan berdiri di samping Biantara. “Kembaliin hapeku, Om.” “Duduk dan makan.” Biantara malah menjawab lain. Tatapannya tertuju pada lontong sayur buatan Kania pagi ini. Tanpa santan dan tidak pedas—sesuai dengan seleranya. “Nggak!” Kania menolak. Ia bersedekap d.a.da dan meleng

