Kania hanya membisu. Ia tidak menjawab ucapan Yasmin. Ada sesuatu yang menahannya dari dalam. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan, tapi cukup membuat suasana hatinya makin berkecamuk. Pernikahan Biantara. Hanya dua kata itu yang berputar di kepala Kania. Gadis tersebut bahkan hanya melamun ketika teringat dengan hal tersebut. Besok, pamannya akan menikah dengan wanita yang bahkan terlihat sempurna di mata Kania. Ia sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika harus menjadi bridesmaid pernikahan lelaki yang bahkan sudah menghamilinya dengan wanita lain. Ada rasa sakit yang menyelinap ketika pikirannya tidak bisa teralih sama sekali. Bodoh. Bisa-bisanya Kania memikirkan pria itu. Padahal, jelas-jelas ia tidak akan pernah bisa mengungkap status bayi di perutnya.

