Namun, tidak. Tidak mungkin ia membiarkan semuanya terlepas begitu saja. Biantara tahu, ia harus tetap memiliki batas. Ia tidak boleh tunduk pada hasrat yang jelas-jelas terlarang bagi dirinya sendiri. Dengan sisa kesadaran yang masih ia genggam, Biantara mendorong bahu Kania. Ia menjauh, memutus jarak dari gadis yang kini terang-terangan menggoda tanpa rasa gentar. “Hentikan semua ini, Kania!” Kania berdiri. Ia melangkah mendekat, jaraknya kembali menipis. Ujung jari telunjuknya terangkat, menyentuh bibir Biantara dengan sentuhan ringan namun sarat makna. “Sssttt ... jangan keras-keras. Om mau Kak Melati dengar?” ucapnya dengan nada dibuat semenggoda mungkin. “Atau ... Om memang mau ngundang dia ke sini lalu kita main bertiga?” S.h.it! Berulang kali Biantara mengumpat. Kania sungguh

