“Kamu nggak mau bawa bekal?” Melati terlihat begitu peduli pada Kania. Gadis tersebut menggeleng. “Nanti makan di kantin.” “Uang sakunya, ada?” Ditanya seperti itu, Kania terdiam beberapa saat. Jujur semenjak tinggal di mansion Biantara, ia tidak pernah mendapat saku sedikit pun. Gadis tersebut hanya mengandalkan uang hasil kemenangan olimpiade yang sebelumnya sempat diberikan pada Hans, tapi ditolak mentah-mentah oleh pria itu. “Mas, kamu nggak kasih dia uang saku selama tinggal di sini?” Biantara berdeham singkat. “Nanti saya transfer. Akhir-akhir ini saya sibuk sama pekerjaan sampai lupa hal itu.” Pria tersebut melempar tatapan tajamnya pada Kania. Ia menyangka jika Kania memang sengaja memercikkan api kecil antara dirinya dan Melati. “Aku berangkat dulu, Kak. Masalah uang

