Kania menoleh perlahan. Pandangannya beralih pada dua sosok yang menatap tanpa kehangatan. Hanggara dan Ranti terlihat dingin. Kehadirannya seolah tak berarti apa-apa. Keduanya hanya menyapa Yasmin, sama sekali tak melirik ke arahnya. “Duluan aja. Kania masih mau di sini.” Dengan keras kepala, Kania menolak ajakan itu. Ia tetap memaku diri di kursi, menatap kosong ke depan. “Ada hal yang perlu kita bicarakan, Kania,” ujar Yasmin hati-hati. “Ini menyangkut masa depan kamu dan adik-adik kamu.” Ucapan itu membuat Kania menghela napas pelan. Rasa lelah menyeruak. Ia bosan dengan situasi yang selalu berujung sama. Ada dorongan kuat untuk lari, menjauh, atau bahkan pergi tanpa pernah kembali. Pada akhirnya, ia bangkit. Kania melangkah paling belakang, mengikuti keluarga papanya masuk ke r

