TTB 26. Maaf Ca

1191 Words
Langit tiba-tiba menangis usai seluruh pelayat meninggalkan pemakaman Bue. Aroma petrikor yang menguar membawa sedikit ketenangan di hati-hati yang bersedih. "Minum dulu," segelas teh hangat di depan Ica mengalihkan atensinya dari akuarium besar berisi ikan-ikan kesayangan Bue. "Thanks Niel," Ica tersenyum simpul menyambut secangkir teh dari tangan cowok tampan itu. Orang tua Ica sedang sibuk melayani para pelayat yang mulai berpamitan pulang dari rumah mereka. Orang tua Rakha juga nampak tak kalah sibuk untuk persiapan tahlilan. Sementara Bang Rio dan Kak Ane bertugas membantu memberesi dan menata rumah agar tamu bisa duduk dengan nyaman memberikan doa untuk Bue. "Niel, ternyata kehilangan orang yang kita sayang rasanya gini ya, nyesek. Tapi kita nggak punya pilihan selain mengikhlaskan. Apalagi gue nggak ada pas Bue menghembuskan nafas terakhir, ada rasa nyesel juga." Air mata itu kembali ingin berhamburan, namun buru-buru Ica tekan ujung matanya. Daniel tersenyum sambil mengelus rambut Ica yang tertutup kerudung hitam. "Hmmm, gue juga pernah ngerasa gitu, waktu kehilangan Eyang Uti. Orang yang sayang banget sama gue dan selalu ngebela paling depan walau gue buat salah." Daniel menarik nafas dalam lalu melanjutkan ceritanya, "Tapi Mama bilang, gue nggak boleh egois, karena Eyang Uti sudah berbahagia di sana. Jadi, kita yang ditinggalkan harus melanjutkan hidup seperti yang sudah di ajarkan beliau. Hidup dengan bahagia, karena kita berharga buat mereka yang menyayangi kita." Ica tersenyum mendengar cerita Daniel. Jarang lelaki ini banyak bicara seperti sekarang. "Niel, dalam sehari hutang gue numpuk sama lo. Makasih banyak udah ada buat gue saat lagi terpuruk gini." *** Sementara itu di jalan, Rakha uring-uringan. Ponsel Ica masih belum aktif. Menghubungi Kak Ane, Bang Rio, Bunda, Ayah, Mama ataupun Papa tidak ada satupun yang mengangkat panggilannya. To IcantiQ : Maaf Ca... Pesan entah untuk yang keberapa telah dia kirimkan, tapi semua masih centang satu. Rakha mengacak rambutnya frustasi. Hatinya juga turut kehilangan akan sosok Bue yang meski terlihat tidak akur, Buelah yang mengajarinya naik sepeda. Bue juga yang mengajarinya mengaji dan diam-diam memberikan uang jajan kalau dia sedang di hukum Ayah. Rakha mendongak menghalau air yang berdesakan ingin keluar. Di satu sudut hatinya yang lain, dia juga sangat mengkhawatirkan Ica. Apa gadis itu baik-baik saja? "Aduh, sial ini mah namanya!" umpat sang sopir taksi membuyarkan lamunan Rakha. "Kenapa Mang?" tanya Rakha was-was. "Ban depan bocor kayaknya. Saya ganti sama ban serep dulu ya..." "Akhhh s**t!" umpat Rakha sekeras-kerasnya. Rakha melihat keluar dari kaca jendela mobil. Sekeliling nampak gelap gulita, hanya penerangan seadanya dari rumah penduduk desa. Bahkan kendaraan lain sudah tidak ada yang melintas karena waktu yang kian larut. Tau begini Rakha nekat naik motor saja untuk pulang. Biarlah waktu perjalanan yang hampir sembilan jam itu dia tempuh dengan naik motor dari pada harus tertunda begini. Tidak ada pilihan lain, dia lalu berinisiatif membantu Amang Sopir taksi agar segera selesai. Rakha mengambil alih senter dari tangan Amang Sopir dan ikut menarik dongkrak. Mengencangkan baut dan membantu menyimpan peralatan kembali. Wajah Rakha bahkan terkena noda hitam bekas oli. Beberapa jam berkendara, cuaca juga nampak tidak bersahabat. Hujan nampak mengguyur jalanan yang kering lalu mengeluarkan sedikit asap karena menguap. Laju mobil juga tak bisa maksimal karena jarak pandang dan jalanan yang licin. Di tambah sang sopir yang beberapa kali mulai menguap, benar-benar lelah. Sesekali dia melirik ke arah Rakha ragu untuk menyampaikan isi hati. Pelan dia berkata karena tau penumpangnya ini nampak sudah tidak sabar, "Nak, kita istirahat sebentar ya, Amang takut kita kecelakaan. Amang ngatuk berat ini." Rakha menarik nafas lelah. Drama apa lagi ini Tuhan. "Ya sudah Amang tidur dulu, biar saya yang ganti nyetir!" perintah Rakha. Sang sopir terdiam nampak berpikir keras. Dia takut justru malah akan lebih cepat celaka jika penumpang tidak sabaran ini yang menyupir. 'Mana cicilan mobil belum lunas. Istri mau lahiran. Sewa rumah hampir jatuh tempo. Kan nggak lucu harus ditambah biaya kerusakan mobil.' "Udah Amang tenang saja, saya punya SIM A kok!" Rakha menekuk wajahnya seolah bisa membaca keraguan di wajah sang sopir. "Tolong lah saya Mang, ini demi orang yang saya cintai. Dia lagi bersedih sekarang. Saya mau temenin dia...." Rakha benar-benar nelangsa. "Ya sudah, tapi janji hati-hati yaa, istri saya mau melahirkan sebulan lagi. Jangan sampai anak saya jadi yatim sebelum liat Bapaknya!" "Iya Pak janji. Saya juga pengen banget ketemu cewek saya. Belum pengen ketemu malaikat maut kok!" sahut Rakha asal. Setelah drama dalam perjalanan yang cukup menguji kesabaran. Akhirnya mobil yang ditumpangi Rakha memasuki kota Sampit saat fajar hampir di ufuk timur. Langit masih gelap, udara dingin juga menusuk hingga tulang. Buru-buru Rakha membangunkan sang sopir dan keluar dari kursi kemudi. Dia berlari kecil sedikit tergesa melangkah ke rumah Ica. Kaki Rakha terhenti saat melihat sosok yang keluar dari pintu rumah Ica, Daniel. Cowok itu berjalan ke luar yang di antar kepergiannya oleh orang tua dan Ica sendiri. Terlihat Mama dan Papa menepuk pundak Daniel lalu kembali masuk. Ica menemani Daniel sampai ke pintu mobil dan sedikit berbincang. Tapi yang membuat Rakha menjatuhkan tas ransel di tangannya adalah saat Daniel tiba-tiba menarik tubuh Ica ke dalam pelukannya. Tangan Daniel mengelus punggung Ica lembut. Mereka saling tersenyum sebelum Daniel masuk mobil dan benar-benar pergi meninggalkan pekarangan rumah Ica. Rakha tau itu hanya pelukan simpati bukan pelukan mesra yang harus dia cemburui. Tapi tetap saja dadanya terasa panas dan sesak. Bukan Daniel harusnya yang menemani gadis itu saat terpuruk. Tapi Rakha yang sepantasnya memberi pelukan itu. "Ca..." Belum sempat Ica berbalik, netranya menangkap sosok tinggi yang berdiri di depan pagar pembatas rumahnya dan Rakha. Cowok itu melangkah cepat meninggalkan ranselnya di tanah dan dalam sekejap sudah berada di depannya. Ica meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki penampilan Rakha sekarang. Rambut berantakan, baju dan wajah yang kotor. Di tambah kantung mata yang menghitam kentara sekali dia kelelahan. Rakha meluruh bersimpuh di depan Ica dan tertunduk menyembunyikan beningnya. Terkejut, Ica menahan pundak Rakha meski dia masih enggan dekat-dekat dengan cowok ini lagi. Ica agak khawatir melihat keadaan Rakha sekarang. Bukankah sekarang yang terluka dirinya. Tapi kenapa malah Rakha yang terlihat lebih menyedihkan. "Maaf Ca..." gumam Rakha. "Hmm?" Rakha mendongak menatap wajah yang dirindukannya sejak kemarin. Dia menarik tangan Ica di pundaknya dan menggenggamnya erat. "Gue cari lo kemaren Ca, lo nggak ada di tempat yang gue suruh lo tunggu! Gue khawatir setengah mati." "........." "Kenapa lo nggak bilang gue kalau Bue meninggal? Gue bahkan nggak akan ikut pertandingan kalau lo mau pulang saat itu juga." ".........." "Gue juga sayang sama Bue Ca. Gue juga kehilangan." Rakha menghembuskan nafas pelan. "Maaf... Maaf saat lo bersedih gue nggak ada di samping lo," Rakha mencium telapak tangan Ica dan membawanya ke pipi. Mereka beradu tatap dalam diam dan perasaan masing-masing yang berkecamuk. Hingga akhirnya Ica yang mengalihkan tatapannya berusaha menghilangkan canggung di antara mereka. "Mending sekarang lo pulang, istirahat dulu Kha. Nanti malam ke sini lagi, kita doain Bue sama-sama." Rakha berdiri menegakkan punggungnya. Dan sebelum Ica berbalik, Rakha menarik tangan Ica hingga tubuhnya masuk dalam pelukan Rakha. Dia memeluk tubuh itu erat menyalurkan rasa rindu sekaligus kelegaan juga rasa sedihnya. Lega karena Ica ternyata baik-baik saja. Dan sedih ketika menyadari tidak ada lagi sosok Bue di dunia ini. Ica mendorong d**a Rakha berusaha berontak, "Lepas Kha!" pintanya marah. "Sebentar aja Ca! Sebentar aja...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD