TTB 10. Prom Night Party

1581 Words
Di tengah pesta yang di ramaikan DJ dari ibu kota, Rakha celingak-celinguk mencari sosok Ica yang katanya akan datang tapi tidak terlihat batang hidungnya sejak setengah jam lalu dia tiba. Sementara Zara yang sejak tadi dia cueki sudah asyik berjoget di dance floor. Acara ini tergolong sangat mewah untuk sekelas anak SMA. Dengan mengusung tema outdoor party di pinggir kolam renang di sebuah resort mewah di tepian Pantai Ujung Pandaran. Belum lagi sajian yang terhidang di meja panjang yang di sediakan langsung dari hotel terkemuka di Kota Sampit lengkap dengan koki juga bartender. Bukan hanya siswa kelas XII tapi juga para guru dan kolega yang hadir di pesta kelulusan Daniel ini. 'Horang kaya mah bebas!' Sementara itu di parkiran, Ica dan Karin nampak melongo dan ragu untuk memasuki resort. Melihat jejeran mobil yang terparkir membuat jiwa misqueen mereka meronta-ronta. Mulai dari Lambo, Hummer, Ferrari hingga Bently berbaris rapi di tempat parkir yang disediakan. Entah kemana saja mereka selama ini, kota sekecil Sampit, baru kali ini dia melihat 'show room' mobil mewah langsung. Meski ada juga beberapa mobil biasa yang terparkir. Tapi barisan mobil mewah itu sangat mencolok. "Kita balik aja yuk Rin? Gue jadi insecure," kata Ica sambil melirik penampilannya yang hanya memakai gaun sederhana yang tempo lalu dibelinya di mall. "Ho'oh, gue juga jadi takut. Gue tau Daniel itu anak konglomerat tapi gue nggak nyangka kalau dia setajir ini. Kelihatan kampung banget nggak sih kita." "Ck, udah masuk aja sana, cucu Bue juga cantik! Sederhana tapi anggun. Orang itu kelihatan bernilai bukan dari baju atau kendaraannya, tapi dari ettitude dan karakternya. Tidak melulu dunia ini dinilai dari harta, Ca!" nasehat Bue bijak. Ica dan Karin saling pandang. Tidak menyangka meski tau di manfaatkan tapi Bue malah memberi semangat untuk mereka. Ica jadi merasa bersalah. Dia kemudian memajukan tubuh dan memeluk lengan Bue yang duduk di kursi penumpang depan. "Makasih Bue..." "Bener kata Bue, sudah jauh-jauh kesini! Capek-capek om nyetir, masa mau putar balik." Itu Om Panji, asisten kepercayaan Papa Karin di firma hukumnya. Meski masih berperang batin, akhirnya Ica dan Karin keluar dari mobil SUV yang kemudian putar balik menuju vila yang sudah mereka sewa tak jauh dari resort. Dengan langkah ragu dan saling menggandeng dua sahabat itu melangkah masuk. Diam sejenak di ambang pintu menatap kagum ke seisi ruang. "Gila, gue kampung banget!" bisik Karin. Ica mengangguk, semakin mewah dan berkelas tampilan pesta kelulusan Daniel, semakin dia mati rasa. Dia merasa bukan bagian dari segala kemewahan dan hiruk pikuk pesta ini. Dunia Daniel terlalu berbeda. Bagai bumi dan langit, minyak dan air, tidak bisa menyatu. Aneh memang, perasaan yang tadinya menggebu-gebu mendadak drop hingga di titik terendah. Ica dan Karin melangkah lebih dalam, melihat lukisan, lampu kristal juga ornamen indah yang dipajang dan mengagumi tanaman hidup yang pasti harganya jutaan. Hingga mereka melihat sebuah foto besar di bingkai figura emas nan mewah berinisial AAD di ujung foto. Suer, mereka belum pernah melihat cowok shining, shimmering, splendid seperti di foto. Mereka terkagum-kagum tak percaya ada cowok se-perfect itu di muka bumi. Karin dan Ica melangkah mendekat ke meja para guru yang terletak di ruang tengah resort, mereka menyalami satu persatu orang-orang yang banyak berjasa dalam hidup mereka selama tiga tahun ini. Ada 'Pak Hen' dan 'Bu Hen' yang sekarang duduk satu meja tanpa rasa canggung. Bu Henny menepuk pundak Ica, "jangan pura-pura pingsan lagi!" katanya sambil tertawa geli. Ica menggaruk pelipisnya yang mendadak gatal. 'Tragedi pangeran kodok lagi yang diungkit-ungkit!' Mereka kemudian duduk di kursi depan meja bar dan melihat aneh minuman warna warni yang dikocok bartender. "Mau minum apa nona manis?" tanya orang di balik meja itu. "Milk shake ada?" celetuk Karin polos. Sang bartender tersenyum tapi kemudian mengangguk saja. "Alahh, biasa juga minum pop ice blender lo!" bisik Ica. Karin menepuk bahu Ica dan tertawa geli bersama, "jangan buka kartu lo!" Setelah meminum milk shakenya, mata Karin membulat sempurna begitu melihat sosok 'gebetan' yang menemaninya chat selama beberapa minggu ini melangkah mendekat. "Reyhan!" pekik Karin. "Hai, Rin, gue nggak tau lo juga datang. Tau gitu gue jemput deh." kata lelaki sipit dengan rambut belah tengah itu saat berdiri tepat di depan Karin. "Gue dadakan aja soalnya," jawab Karin asal. Reyhan meneliti penampilan Karin malam ini yang terlihat agak berbeda, semakin cantik. Gaun hitam sederhana dan sepatu plat. Juga jepit rambut mutiara kecil yang menambah kesan imut. "Kesana yuk!" ajak Reyhan menunjuk kerumunan orang yang asik meliuk-liuk di dance floor di tepi kolam renang. "Tapi gue sama temen," tolak halus Karin menyenggol lengan Ica. "Kenalin, Ica!" katanya sambil tersenyum ramah saat mereka berdua menatap ke arahnya. "Reyhan!" Cowok itu memandang kagum teman Karin yang nampak polos namun sangat cantik. Dia sejak tadi hanya diam menatap ke arah bartender. "Udah sana aja lo! Gue tunggu sini," usir Ica sambil menaik turunkan alisnya. 'Elah ni orang kaga ngerti bener Karin nggak mau kelihatan norak. Makanya mau duduk aja, malah di suruh pergi.' Sepeninggal Karin, Ica melihat sejenak ke arah kerumunan di dekat kolam mencari sosok yang sering mencari masalah dengannya. Namun dia hanya melihat geng voli Rakha yang biasa mengintilinya. Tidak ada tanda-tanda Rakha. Paling cowok tengil itu asyik pacaran pikir Ica. Ica kembali mengarah ke meja bartender, masih bingung menentukan pilihan. Dia menatap takjub pelayan yang silih berganti membawa minuman dari meja bartender melayani tamu. "Lo mau minum? Pesan apa?" Ica terlonjak kaget dengan suara khas yang dia kenali milik kapten basket sekolah, Daniel. Disamperi tuan rumah yang pasti jadi pusat perhatian, Ica malah keki. "Ini mau?" tawar Daniel mengangkat gelas kecil berisi air berwarna bening di campur es batu. Namun Ica malah terlihat bingung. "Mocktail or coktail?" tanya Daniel lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. Ica semakin bingung. 'Tuh kan dia emang kampung banget!' "Itu apa? tanyanya pada gelas berisi air bening tadi. "Rum," jawab Daniel santai. "Hah, rum apa'an? Sprite maksud lo?" tanya Ica polos. Daniel otomatis tertawa, memperlihatkan deretan gigi putih yang membuatnya semakin tampan. Coba saja Ica masih ter-Daniel-Daniel, dia pasti bakalan mimisan nggak sanggup melihat wajah tampan itu tertawa sedekat ini di depannya. Semudah itu Tuhan membolak-balikkan hati manusia. "Bukan, ini sejenis alkohol!" jawab Daniel ketika tawanya reda. Yah, di sini juga ada minuman beralkohol, toh mereka rata-rata berumur 19 tahun bukan. "Astagfirullah! Nggak boleh tau, haram itu hukumnya kata pak Ahmad!" pekik Ica, matanya mengerjap-ngerjap lucu. Daniel tertawa semakin keras. Dia sampai mencubit pipi Ica saking gemasnya, "kamu lucu banget sih!" Ahh, kalau masih Ica yang beberapa jam lalu, pasti dia sudah terkapar pingsan di lantai. Jadilah Ica juga ikut tertawa bersama Daniel, menertawakan ke-udikannya. Tak jauh dari tempat Ica dan Daniel duduk, Rakha berdiri mematung melihat tawa lepas Ica di hadapan orang yang sudah lama ditaksirnya. Entahlah, perasaan tidak enak sejak tadi seperti terbukti. Dia tidak suka jika Ica dekat dengan Daniel, karena dia tau sepak terjang Daniel yang berbeda jauh dengan Ica yang polos. Ditambah lagi penampilan Ica yang malam ini sangat memukau. Dress peach yang dibelinya tempo hari sangat menyatu dengan kulit putihnya, rambut panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai dengan riasan make up flawless yang menambah cantik penampilannya. Rakha semakin belingsatan jadinya. Begitu alunan lagu lambat nan romantis diputar, Daniel mengajak Ica untuk berdansa, "dance with me?" Ica hanya diam, ingin menolak tidak enak, tapi untuk berdansa dia juga tidak bisa. Sampai seorang pelayan memberikan topeng untuk mereka berdua hingga membuat Ica tidak bisa mengelak lagi. Rakha sedikit berpaling saat Ica dan Daniel melewatinya. "Gue nggak bisa dansa!" bisik Ica saat Daniel mulai menggenggam tangannya. "Ikutin kaki gue aja!" balas Daniel juga sambil berbisik. Dengan wajah yang ditempeli topeng, Ica mulai berdansa. Dia hanya fokus melihat gerak kakinya, tidak menyadari jika bisik-bisik yang membicarakannya dan Daniel mulai beredar. Sesekali Ica menginjak kaki Daniel, tapi cowok itu malah tertawa geli. Kiri, kanan, memutar, begitu terus hingga akhirnya Ica terbiasa. Sampai alunan musik selesai, dan MC meminta Daniel untuk speech sebagai tuan rumah. Cowok terkenal seantero sekolah itu, mengecup punggung tangan Ica dan melangkah menuju stand mic. Ica cukup terkejut dengan gerakan cepat Daniel yang tidak diduga. Dia diam melihat ke sekeliling yang justru menjadikannya central atensi. "Thanks guys udah dateng di acara yang gue bikin khusus untuk kalian ini. Kita seneng-seneng bareng, nikmati momen yang bakal nggak terulang ini sama-sama. Thanks juga buat guru-guru, semua jasa kalian nggak akan bisa kami balas. And special thanks buat Mama Papa kita. Akhirnya anakmu yang bandel ini lulus juga Ma!" Sejenak hadirin yang mendengarkan ikut tertawa renyah. Daniel se-low profile itu ternyata. "Hari ini gue seneng banget kedatangan tamu spesial, yang gue nyesel, nyesel banget nggak mengenal dia sejak lama. Marisa! Thanks for coming baby!" kata Daniel sambil memberi cium jauh dengan dua jari nya yang langsung di sambut riuh tepuk tangan dan bisik-bisik para siswi. Ica meneguk ludah dan jadi salah tingkah sendiri. Beberapa bahkan ada yang memfoto Ica dengan tatapan yang entah. Harusnya Ica meleyot, karena Daniel ternyata selembut itu padanya. Wajah Ica memerah, tapi bukan karena melting. Lebih ke... pertanyaan 'kok bisa?' "Sekali lagi selamat untuk perjuangan selama tiga tahun kalian. Satu yang gue minta kenanglah hari ini! Hold your future, congrats for you all!" penutup pidato Daniel yang dia teriakan di sambut tepuk tangan dan musik jedag jedug yang membuat mereka kembali bergoyang. Beberapa bahkan ada yang menceburkan diri ke kolam renang. Ica menghapus keringat di pelipisnya, bukan hanya karena lelah berdansa tadi tapi juga kalimat lugas yang diucapkan Daniel. Dia berbalik ke meja bartender dan sudah memantapkan pilihannya. Dia sudah benar-benar yakin dengan pilihannya, tidak segamang tadi. Begitu berdiri tepat di depan bartender, Ica berkata, "Bang, es teh manis satu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD