Perlahan Ica membuka mata. Dia sedikit meringis merasakan tubuhnya yang kebas karena tertindih beban berat. Ica terperanjat saat menyadari dirinya tertidur di ranjang sempit bersama seorang Rakha. Cowok tampan yang sedari kecil biasa dia lihat sebagai teman. Tapi entah sejak kapan dia mulai melihat sisi Rakha sebagai seorang laki-laki. Wajah Ica memerah malu. Dia ingin segera pergi dari kamar Rakha karena waktu yang nampak sudah mulai menggelap. Tapi Ica benar-benar tidak bisa bergerak. Ica melihat ke bawah, wajah tampan Rakha persis di dadanya tertidur dalam damai. Tangannya terulur menyentuh dahi Rakha yang suhunya mulai normal. Ica tersenyum mengejek karena teringat sesuatu, "Katanya kayak tanjakan bukit doang, tapi betah amat lo tidur di situ," Pelan-pelan Ica menyingkirkan tangan

