Tiba-tiba Megan berhenti mengunyah setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Utari. Dia mendelik ke arah sang ibu, lalu menyeringai.
“Siapa pun ayahnya, Saga tetap akan menjadi suamiku,” tegas Megan.
“Kenapa kamu melakukannya?” selidik Utari.
“Diam dan saksikan saja, lagi pula Mami di sini hanya menumpang hidup, bukan?” tekan Megan, yang membuat Utari tak bisa menjawab lagi ocehan anak sambungnya.
Setelah mengejek Utari dengan kata-kata yang cukup pedas, Megan bangkit dari duduk. Sebelum benar-benar pergi, terlebih dulu gadis itu menghentakkan sendik garpu ke meja, yang membuat tubuh Utari sedikit tersentak.
“Sial, Mami merusak suasana!” ketus Megan lantas berlalu dengan begitu tidak sopannya.
“Harus kuapakan anak itu, kenapa begitu kurang ajar,” gerundel Utari, lalu mengibaskan rambut saking kesalnya.
Dia hendak melanjutkan sarapan, tetapi selera makannya lenyap bersamaan dengan perginya Megan dari hadapan.
“Akh, menyebalkan!” umpatnya, lantas melepar pisau dan garpu.
***
Keadaan Nora sudah stabil, setelah Saga menyelesaikan administrasi, Nora pun akhirnya pulang ke rumah. Keduanya merasa situasi cukup canggung, hingga sepanjang perjalanan tak ada kata-kata yang terlontar dari keduanya.
Untunglah, Saga membawa Rivan untuk menemuinya, terkadang Rivan bertanya tentang pekerjaan yang sebenarnya sudah dibahas, sekadar untuk menghangatkan suasana di mobil. Saga pun cukup tanggap. Namun, Nora memilih acuh tak acuh dan merebahkan tubuh ke sandaran kursi. Matanya terpejam sebentar, lalu terbuka lagi.
“Mas Rivan, tolong AC-nya dimatikan,” pinta Nora.
Tanpa menjawab, Rivan langsung mematikan AC seperti pinta Nora. Lalu Nora membuka sedikit jendela mobil, membiarkan angin dari luar berembus menerpa wajahnya dengan rona merah muda yang sempat hilang.
“Polusi, Nora,” cegah Saga.
“Sebentar aja,” jawab Nora tanpa menoleh ke arah Saga.
“Mau kuantar ke tempat yang segar dan menenangkan?” tanya Rivan.
“Ke puncak gunung?” tanya Nora.
“Kalau itu enggak, aku kurang suka mendaki,” jawab Rivan spontan.
“Ya sudah, antar aku pulang aja. Waktu kerja kalian habis gara-gara mengantarkan aku, kan?” sahut Nora.
“Kenapa bilang gitu?” sela Saga.
Nora hanya tersenyum, tanpa menjawab Saga. Seolah Saga telah berbuat jahat padanya. Padahal, pria itu selalu berusaha yang terbaik, bahkan untuk tak mengkhianatinya. Namun, sikap Nora begitu ambigu dan menyebalkan. Sepanjang perjalanan, dia mencoba memberontak dan tak sejalan dengan suaminya. Berusaha keras untuk mebuat Saga marah padanya.
Hingga perjalanan yang kurang menyenangkan itu pun berakhir, Rivan berhenti tepat di rumah mewah bergaya modern itu. Nora membuka pintu, lantas turun tanpa menunggu Saga membukakan pintu untuknya.
Saga kembali mendengkus, untuk ke sekian kalinya. Dia bergegas menyusul Nora, tetapi saat dia turun dari mobil, Nora langsung menghentikannya.
“Enggak usah turun dan antar aku, kamu kembali saja ke kantor,” larang Nora, tanpa menunggu jawaban Saga yang memang sangat kebetatan akan hal itu, Nora melengos begitu saja. Tanpa menoleh lagi.
Rivan yang menyaksikan langsung kekakuan rumah tangga bosnya. Hanya bisa menghela napas berat.
“Kacau ini mah kacau,” gerutunya.
Semantara, Saga yang kesal pun kembali masuk mobil dan membanting pintu mobil sport dengan merk “R” kesayangannya itu.
“Argh!” geram Saga, seraya menendang-nendangkan kaki ke jok mobil di depannya.
Benar, sekalipun dia pria hebat di luaran. Jika sudah berhadapan dengan seorang makhluk berjenis wanita, kamu akan kalah. Bukan karena taringnya, bukan karena cakarnya. Namun, karena diam tanpa sebabnya–yang membuat bertanya dan menerka jawaban secara bersamaan.
“Aku harus gimana coba?!” keluh Saga pada Rivan.
“Ya mana tahu, saya kan masih single,” jawab Rivan, yang sontak membuat Saga semakin kesal, karena jawaban itu terkesan meledeknya.
“Gak usah nyaut!” sahut Saga, “malah tambah pusing, tahu, gak?” protesnya kemudian.
“Lah, kan Bos yang nanya!” Rivan pun kembali menyalakan mobil dan mengantar Saga ke kantor.
Di perjalanan, Saga tampak murung dan gelisah. Pria itu masih berfokus pada layar ponsel dan mengetik sesuatu. Sesekali Rivan mengecek bosnya dari kaca spion dashboard.
“Enggak usah mantau-mantau, saya enggak bakal bunuh diri!” cebik Saga yang menyadari jika Rivan sedang memperhatikannya.
“Yakin aman?” tanya Rivan.
“Nora enggak balas chat saya! Ah, ini menyebalkan,” rengek Saga lalu membanting ponsel ke jok kosong di sampingnya.
“Bukankah wanita itu egois?! Kenapa aku harus menurutinya untuk menikahi orang lain, sementara aku tidak mau. Kenapa Nora seenaknya, begini, salahku apa?” cerocos Saga.
“Bukannya bagus? Pria lain justru pengen istrinya banyak?” celetuk Rivan, sebenarnya dia ingin menghibur Saga, hanya saja saatnya tidak tepat dan justru membuat Saga semakin kesal, alih-alih terhibur.
“Saya cowok mahal!” sentak Saga.
“Cowok mahal, kok hamilin anak orang,” ledek Rivan.
“Bukan perbuatan saya!” Saga pun bersikeras, meski ada tes DNA yang membuktikan itu.
***
“Nora kamu mau ke mana?” Saga yang pulang dari kantor dikejutkan oleh Nora yang sudah bersiap dengan kopernya.
“Duduklah, aku ingin bicara sebentar,” pinta Nora pad Saga yang terlihat masih lesu.
Saga pun duduk, dia menatap Nora dengan seribu tanya yang tak terucap. Saat ini, dirinya seolah tak mengenal lagi wanita yang kini duduk di hadapannya. Wanita yang biasanya begitu lembut menyapa dan memperlakukannya, kini tidak dia temukan.
“Ini kontrak pernikahan yang sebelumnya kita sepakati,” ujar Nora, seraya meletakkan berkas yang dibungkus amplop cokelat muda itu.
Selain itu, Nora juga melepas cincin berlian yang Saga berikan untuknya. Dia menyimpan cincin itu di atas amplop, meski terlihat enggan, tetapi tetap dia lakukan.
“Kenapa kamu melakukan ini?!” tanya Saga, tentu tak terima dengan keputusa. Sepihak yang Nora lakukan.
“Minggu depan adalah pernikahan kalian, aku tidak ingin rumor buruk tentangmu tersebar, lagi pula, ini semua tak menyalahi aturan. Aku memang terkontrak sampai Megan kembali, bukan?” sahut Nora, lantas dia bersiap untuk pergi dan meninggalkan Saga.
“Nora! Kamu egois, aku sudah berulang kali mengatakan, jika aku tidak menginginkan pernikahanku dengan Megan!” sergah Saga, dia berdiri dengan spontan saking kesal dan emosi kepada wanita di hadapannya.
“Kamu pikir, aku menjalani pernikahan denganmu karena ingin?” balas Nora, tidak ada maksud untuk menyakiti Saga. Namun hanya dengan begitu, Nora berharap Saga bisa melepaskannya.
“Itu bukan anakku, Nora. Kenapa harus aku?” protes Saga, dia merasa tidak mendapatkan keadilan karena tiba-tiba harus menikah dengan orang yang tak diinginkan.
Nora menghela napas panjang, dia ikut berdiri dan memang berniat untuk pergi.
“Pertanyaan yang sama berlaku untukku, kala itu. Kenapa harus aku yang menjadi pengganti kakak sambungku? Padahal aku punya mimpi, padahal aku punya keinginan yang belum terwujud. Tapi tiba-tiba, aku harus menjadi pengantin pengganti. Kamu pikir itu mudah?” Nora tak mau kalah, dia membalikkan semua protes yang Saga utarakan padanya.
“Tapi, kita saling mencintai, Nora!” sentak Saga, “kamu yakin akan meninggalkanku dan akan bahagia tanpaku?” desak Saga, berharap wanita di hadapannya luluh dan mengubah keputusan.
Nora tersenyum getir, dia meraih gagang koper dan menggenggamnya erat-erat.
“Tak ada yang mudah untukku, Saga. Termasuk membuat keputusan saat ini. Jadi, tolong jangan lebih mempersulitnya. Aku yakin kalian adalah pasangan yang cocok dan ideal. Kamu pun tak perlu repot-repot menyembunyikan keberadaan istrimu lagi, setelah resmi menikah,” tutur Nora, suaranya terdengar sangat dalam. Dapat dipastikan jika dia teramat berat hati mengatakan semua itu.
“Nora … ka-mu–”
Bersambung ….