“Utari!” teriak Firman. Utari berusaha tak mengacuhkan teriakan suaminya, dia terus berjalan meninggalkan Firman yang tampak kesal karena sikap istrinya. “Apa bedanya aku dan kamu? Kamu melakukan apa pun untuk Nora, dan aku pun sama!” lontar Firman, lalu berdiri. Seketika langkah Utari berhenti, dia berbalik badan seraya mengambil napas perlahan. “Apa maksudmu, Mas?” tanya Utari, dahinya mengerut tanda kebingungan. Firman menyeringai, lalu perlahan menghampiri Utari seraya merogoh sesuati dari kantung celananya. Utari masih menatapnya heran, sampai Firman meraih tangannya dan menaruh sesuatu di telapak tangan wanita itu. “Kita sama-sama egois,” celetuk Firman. “Sidik jarimu ada di benda itu, benda yang menempel di mobil Megan. Awalnya aku ingin marah dan menghukummu. Tapi, aku mende

