Part 5: The Man With Blue Eyes

1078 Words
Langit yang lembayung yang terasa hangat kini tergantikan oleh malam yang menghembuskan angin dinginnya di wilayah ini, kupandangi satu persatu dari mereka yang kini tertawa, berbincang dan bahkan terdiam  melamun. Mereka adalah sekumpulan orang yang menetap di wilayah ini, dibawah pimpinan Rason tentunya. Mereka tidak berkumpul sepenuhnya melainkan membuat beberapa api unggun yang kemudian mereka mengelilingi masing-masing api unggun secara random, dan itulah yang kulakukan sekarang, duduk tepat bersampingan dengan Cassandra serta beberapa orang lainnya yang belum begitu kukenali.   “apakah kalian melakukan hal seperti ini setiap malam harinya?” tanyaku menatap Cassandra, gadis cantik itu kini tersenyum dan mengangguk untuk mereaksikan jawabannya atas pertanyaanku “kami melakukan ini agar kami semakin dekat satu sama lain, dan lagi melakukan perbincangan seperti ini akan membuat suasana semakin hangat ketika malam tiba, benar bukan?” ucapnya seraya bertanya kepada beberapa orang di sana yang kini mengangguk tersenyum seraya mengiakan apa yang Cassandra katakan.   Pandanganku kini tertuju pada tiang-tiang kayu tinggi yang jauh di sana, terlihat begitu kokohnya berdiri mengelilingi wilayah ini “apa itu?” aku menunjuk kearah salah satu tiang yang terang benderang yang kurasa ada seseorang berdiri diatasnya “itu adalah perbatasan wilayah, mereka menggunakannya sebagai tempat memantau” jawab seorang gadis di sana “memantau??” kini pertanyaanku diberikan sebuah anggukan oleh mereka “kami membangunnya untuk memantau kehadiran Malea atau yang lainnya, dan anak laki-lakilah yang bertugas di sana secara terjadwal” aku terpukau karenanya, mereka memikirkan hal itu dengan sangat matang.   Ini hebat, aku melihat mereka membangun semacam perbatasan wilayah berupa beberapa tiang pemantau, persawahan, ladang serta beberapa ekor kambing yang entah dari mana mereka dapatkan “apakah kalian sudah lama menetap di wilayah ini?” kutatap Cassandra yang menolehku dan mengangguk menanggapi pertanyaanku, aku terpukau karena mereka menetap dengan persiapan yang amat sempurna “ya, kami sudah menetap puluhan tahun di sini.. setidaknya itulah yang dikatakan pemimpin sebelumnya pada Rason” ingin sekali rasanya aku bertanya mengenai kenapa dia mengatakan setidaknya itulah yang dikatakan? Apakah dia dan Rason adalah orang baru di sini??, Namun pertanyaan itu kembali kuurungkan ketika ia memberikanku sepotong roti gandum dan kembali berucap “wilayah ini adalah wilayah turun temurun, dan Rason baru menjabat tiga tahun terakhir, ketika pemimpin kami yang sebelumnya meninggal karena sakit” kuanggukan kepalaku menanggapinya.   “jadi, kalian hanya bertahan dan akan menyerang Malea, jika-jika mereka datang?” pertanyaanku kembali dibalas anggukan olehnya “Tenanglah, Kurasa Malea tidak akan mengganggu ketika mengetahui bahwa jumlah dan kekuatan kami jauh lebih besar dari mereka” kini pandanganku teralih menatap lelaki bertubuh tegap dengan warna kulit putih pucat, kedua mata berbentuk tajam seperti elang dengan mata berwarna hitam, hidung yang mancung dan bibir kecil tebal itu tersenyum, rambut yang hitam dengan potongan layer undercut kesamping miliknya itu kini basah entah karena apa “hai, aku namaku Ali” sapanya padaku memperkenalkan diri, aku kikuk karena sikapnya yang spontanitas seperti ini, masuk ke dalam pembicaraan dan seketika memperkenalkan dirinya “oh! Maaf, aku orangnya seperti ini” sambungnya dan itu membuatku tersenyum segera menjabat tanganya yang terulur “Adrea” jawabku dan ia mengangguk.   “Kau tak perlu khawatir Adrea, wilayah ini masuk ke dalam wilayah aman” kembali kutolehkan pandangku menatap Ali yang kini melempar potongan kayu bakar yang ia genggam ke tengah api yang membara di hadapan kami “dari mana kau tau ini wilayah aman?” tanyaku “karena tim investigasi dan tim pengawas selalu mencatat jumlah Malea yang menyerang dan kita termasuk ke dalam kategori aman, setidaknya tidak ada markas Malea diradius sepuluh kilometer yang menghintari wilayah ini” jelasnya padaku “tim pengawas?? tim investigasi??” tanyaku tidak mengerti dengan ucapannya yang kini terkekeh dan bergeser menghadapku “maksudku, kami yang bertugas menjelajahi hutan selalu memastikan bahwa radius sepuluh kilometer dari wilayah ini tidak tersentuh Malea” mendengarnya menjelaskan membuatku ber’o’ria setelah akhirnya paham dengan maksud dia, Ali menjelaskan bahwa setiap minggunya Rason memerintahkan beberapa orang untuk menjelajahi hutan dengan dibekali senjata sebagai perlindungan tentunya, selain bertujuan untuk memburu apapun mereka juga ditugaskan untuk mengecek wilayah sepuluh kilometer dari perbatasan baik selatan, utara, barat dan timur tersebut aman dari markas Malea.   Ide yang bagus, namun pasti mereka lelah karena harus setiap minggu berkeliling seperti itu, namun setelah dipikirkan kembali itu memang efektif.. sangat efektif dalam mempertahankan wilayah, karena mereka akan menyerang malea yang datang jika-jika ada markas baru yang dibangun oleh mereka dalam radius itu. Pintar, strategi yang cukup pintar.   “jangan terlalu optimis Ali, kita tak tau apa yang akan terjadi kedepannya” kulirik Cassandra yang kini meraih jagung bakar yang sempat ia dekatkan ke perapian “hh, benar juga” sambung Ali terkekeh dan terlihat kini merenungkan sesuatu seraya menatap api unggun itu. Tak ada yang dapat kulakukan ataupun kukatakan dalam perbincangan yang sepertinya sudah buntu ini hingga akhirnya kedua pandangku kini menatap anak-anak kecil yang berlarian dan tertawa satu sama lain karena permainan yang mereka mainkan “aku bernafas lega karena setidaknya manusia memiliki keturunan” aku tersadar bahwa aku mengucapkannya ketika Ali dan Cassandra terkekeh disampingku “ucapanmu seperti manusia berada didalam ambang kepunahan saja!” kugigit bibir bawahku mendengar Ali yang berucap perihal diriku “ah, maaf.. hanya saja, aku tidak melihat anak kecil ketika aku bersama dengan teman-temanku sebelumnya” kembali kupandangi wajah anak-anak itu satu persatu dan berharap bahwa suatu saat nanti, ketika kedepannya kami semua sudah tidak dapat lagi bertahan, maka merekalah yang akan meneruskan kehidupan ini.   Pandanganku kini tertutupi oleh kabut yang samar, seperti sebuah ingatan yang menyerbuku dan menghapus seluruh pandangku terhadap tawa anak-anak itu yang tergantikan oleh sebuah taman bermain dengan puluhan anak-anak berteriak, tertawa, dan bahkan bertengkar entah karena memperebutkan mainan maupun ayunan yang ada di sana.   Aku mendapati diriku terduduk didepan taman bermain itu seraya mendengarkan sebuah lagu yang terputar dari headset kecilku, lagu yang sangat menenangkan hati, kesan ceria terputar di sana. Aku yang saat itu berusia sekitar 14-15 tahun terlihat sangat imut dengan pipi chuby dan rambut ikal yang terikat disisi kanan dan kirinya, mengenakan dress pendek selutut berwarna hijau cerah bermotif bunga putih menghiasinya, yang memakai sepatu merek nike berwarna putih kebiruan. Tatapanku yang masih menatap anak-anak itu kini berpindah pada langit biru yang luas beserta beberapa awan putih yang menghiasinya, bibirku spontan tersenyum menatap langit yang indah itu “Adrea!” sebuah panggilan membuatku menoleh menatap seorang lelaki yang kini berlari seraya tersenyum dengan cerianya menghampiriku.   Lelaki bermata biru yang mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam yang amat rapih serta jas yang ia genggam itu kini melambai kearahku hingga entah kenapa aku terlihat begitu senang saat melihatnya dan kulambaikan tanganku padanya yang saat itu berlari mendekatiku.  Kedua mataku kini menatapnya yang mengatakan sesuatu namun seolah aku tidak mendengarnya hingga kukernyitkan dahiku dan saat ia kembali berbicara, saat itu pula aku terbangun dari tidurku.   Aku tertegun Menyadari bahwa itu adalah potongan memoriku yang hilang dan datang seperti mimpi-mimpi sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD