“Lepaskan aku, Pak Arvind,” bisikku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar, namun rasanya seluruh keberanian dalam diriku luruh saat mengucapkannya. Ia menatapku dari pantulan cermin di hadapannya. Tatapan itu dingin, tajam, dan entah mengapa dia menyimpan luka. Luka yang anehnya membuatku merasa bersalah, padahal akulah yang selama ini merasa tersakiti. "Kalau kamu tidak bisa bersamaku, jangan pernah berpikir bisa bersama orang lain. Termasuk lelaki miskin itu. Bimo." Namanya meluncur dari bibir Arvind seperti racun. Ia meludahkannya seolah-olah hanya sampah tak berarti. “Aku bukan barang bukan milik siapa pun,” bisikku perlahan. Entah kenapa kali air mata jatuh satu-satu, mengalir deras tanpa bisa kucegah. “Aku ini manusia, Pak Arvind, aku punya hak untuk menentukan hidupku sendiri.” Ia

