"Aku tahu," kataku lirih, "tapi aku tidak mau menikah dengan Pak Arvind. Aku tidak mau punya hubungan apa pun lagi dengan keluargamu." "Nanti, aku akan urus semuanya. Yang penting, kita menikah dulu." "Lalu?" Aku menatap wajahnya tajam, sinis, menunggu jawaban yang selalu ia hindari. “Begini, Sanaz aku hanya ingin menikahimu dulu. Setelah kamu jadi milikku, baru kita pikirkan hal yang lain.” Otakku seperti meledak. Jantungku berdetak kencang. Hati, kepala, dan seluruh tubuhku serasa remuk oleh tekanan dan paksaan ini. Dengan gerakan pelan, kuangkat tangan untuk memijat pelipis yang berdenyut. “Tolong, jangan paksa aku, Pak Arvind. Aku sungguh lelah menjalani hidupku,” bisikku pelan, nyaris serak. Suaraku nyaris tak terdengar, tapi mata kami bertemu, dan dia tahu aku serius. “Aku han

