Aku Harus Pergi

1136 Words
2 Aku tahu… Sony pasti sudah mencium jejakku. Mungkin dari caraku bicara yang berubah. Mungkin dari tatapan mataku yang tak lagi sama. Atau… mungkin karena malam itu—malam ketika aku, dalam keadaan mabuk dan hilang arah, jatuh ke pelukan pria asing yang bahkan namanya pun samar di ingatanku. Dan jika Sony tahu…? Lelaki yang selama ini berkoar mencintaiku sepenuh jiwa itu bisa berubah menjadi iblis tanpa nalar. Cinta, kalau sudah berlebihan, memang bukan lagi anugerah… melainkan kutukan yang perlahan mencekik. Bersambung Aku hanya ingin bebas. Aku ingin menjauh darinya—dari hidupnya yang penuh manipulasi. Aku ingin membesarkan anak-anakku dalam damai, tanpa bayang-bayang ketakutan, tanpa harus sembunyi seperti penjahat atas kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya milikku. Tapi semua rencana itu seakan direnggut paksa, saat satu pesan masuk ke ponselku. Sebuah pesan singkat yang membuat lututku seketika lemas, seperti kapas yang habis dijemur hujan, basah dan tak berdaya. [San, tolong Ibu. Sony ada di kontrakanmu.] Aku membalas cepat, jantungku berdetak liar tak beraturan. [Mau ngapain Bu?] Jawabannya membuat napasku tercekat. [Sanaz…! Kamu tanya mau apa lagi? Apa yang sudah kamu lakukan padanya sampai dia marah? Temui dia, Sanaz. Biar amarahnya hilang.] Aku mengepalkan tangan, mencoba tetap waras di tengah kekacauan yang semakin hari makin dalam. [Bu, aku nggak bisa lagi. Aku dan anak-anak akan pergi. Aku sudah bertemu Ayah, dia mengizinkan aku pergi. Tolong, Bu… bantulah aku. Berhenti jadikan aku mesin pencari uang.] Tapi harapanku seperti kaca jatuh, retak di mana-mana. [Kamu tega, San. Kamu cuma peduli Ayahmu. Dia sudah menikah, dia punya keluarga. Lalu Ibu? Ibu cuma punya kamu… dan anak-anakmu.] Aku menutup mata. Suara Ibu menggema di kepala seperti cambuk tak kasat mata. Hidupku seolah ditarik dari dua sisi: Ibu, yang memaksaku bertahan; dan hatiku sendiri, yang sudah hancur tak sanggup lagi. [Bu, aku nggak mau selamanya jadi wanita simpanan Sony.] Tapi balasan Ibu lebih menyesakkan. [Dia mengancam akan membunuhku kalau kamu nggak balik. Apa kamu tega?] Ancaman itu… membuat seluruh tubuhku membeku. Inilah ketakutan terbesarku selama ini. Aku lari, tapi Sony mulai menyentuh orang-orang yang kusayangi. Dan sekarang, dia ada di kontrakan Ibu. Mungkin semua hanya tinggal hitungan waktu, sampai semuanya pecah berantakan. Puluhan pesan berdatangan. Tak terhitung panggilan tak terjawab dari Sony. Namanya terus bergetar di layar, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Aku menatap pantulan wajahku di jendela apartemen. Mata sembab, wajah lelah, napas tercekat. "Aku cuma pengen lepas… apa itu dosa?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar. Aku menunda pelarian. Aku antar anak-anak ke rumah teman, memastikan mereka aman. Lalu, kembali ke apartemen. Membersihkan diri, mencoba menata napas yang berantakan, lalu memesan taksi. Begitu roda taksi mulai meluncur di jalanan kota yang sibuk, aku bersandar di kursi, mencoba menyusun pikiranku yang tercecer seperti kaca pecah. Lampu-lampu kota berkelebat di jendela, mengingatkanku bahwa hidup di kota besar memang indah di permukaan… tapi menyimpan sisi gelap yang mengintai siapa saja. "Ke mana, Neng?" suara sopir taksi membuyarkan lamunanku. "Ke Apartemen Menteng, Pak," jawabku, berusaha setenang mungkin, meski d**a ini sesak seperti dipeluk duri. Paris sore itu mulai diguyur gerimis, dingin menempel di kulit, tapi aku tetap melanjutkan perjalanan. Di hati, hanya satu tujuan: menemukan perlindungan sejenak, sebelum badai makin ganas. Aku menghubungi Irene—sahabat yang selalu jadi rumah kedua, saat hidupku dihancurkan berkali-kali. "Datang aja, gue kuliah sore ini," katanya. "Iya, gue pinjam baju lo ya." "Siap!" Tiba di apartemennya, aroma ketoprak langsung menyambut. Irene sudah duduk di sofa, dua porsi ketoprak terhidang di meja. Aku tahu dia beli dua begitu aku telpon tadi. Dia selalu paham, tanpa harus banyak tanya. "Lo panik banget sih, San. Tenang dikit," ucapnya, matanya memandangku dengan iba. Aku duduk, menggenggam sendok, tapi tanganku gemetar. "Lo tahu sendiri gimana Sony… Dia bisa gila kalau tahu semuanya. Apalagi… kalau tahu aku sempat mau kabur. Gue nggak tahu harus jawab apa kalau dia nanya." Irene menggeser air putih ke arahku. "Udah, makan dulu. Perut kenyang, otak waras. Laper malah kepikiran pengen mati." Aku tertawa kecil. Di tengah kepanikan ini, Irene masih bisa menyelipkan humor yang menghangatkan. Tapi aku nggak bisa terus bohong. "Ren, lo tahu nggak… malam itu, gue mabuk… lagi-lagi gue bangun di kamar pria asing." Matanya melebar. Aku buru-buru melanjutkan. "Kalau Sony tahu, gue tamat. Kalau dia nanya, bilang aja semalam gue sama lo. Gue udah mau kabur, tapi batal karena Ibu. Gue butuh lo, Ren." Dia mengangguk tegas. "Santai, gue bantu. Tapi San, lo harus cari cara bener-bener lepas." Aku menarik napas panjang. "Gue tahu… Tapi Sony yang nggak mau lepasin gue." Belum sempat aku menyentuh ketoprak, ponselku bergetar di meja. Nama yang muncul membuat napasku tercekat. Sony. "Ada di sini aja, kasih ke gue," kata Irene sigap. Aku menyerahkan ponsel itu, seolah menyerahkan hidupku. "Halo, Mas Sony," suara Irene selembut kapas. “Sanaz di mana?” “Oh, ada. Dia lagi mandi, Mas.” “Katakan, jangan pernah kabur. Suruh pulang.” “Dia nggak kabur, Mas. Cuma nginep di sini. Bentar lagi pulang.” Klik. Telepon terputus. "Apa katanya?" tanyaku, napas masih tercekat. "Dia nyuruh lo pulang." Aku mengangguk pelan, mengambil tas kecil. "San, hati-hati. Kalau ada apa-apa, kabarin gue. Gue jemput." "Thanks, Iren. Lo selalu penyelamat gue." Dari apartemen Irene, aku naik ojek. Jalanan sore itu padat, motor meliuk di antara mobil, tapi pikiranku kosong. Langit mulai gelap, hujan turun, aspal mengilap diterpa lampu kendaraan. Sesampainya di depan kontrakan petakan milik Ibu, jantungku seperti mau meledak. Rumah kecil itu sunyi, pintunya tertutup rapat, jendela gelap. Aku mendorong pintu perlahan. Dreeek… Langkahku membeku di ambang pintu. Ruangan sempit itu seperti kapal karam. Televisi terguling di lantai, pintu lemari terbuka, isinya berhamburan, kursi terbalik, vas bunga pecah berserakan. Aku berdiri kaku. Napasku tercekat. Suasana seperti medan perang, tanpa peluru, tapi penuh luka. Lalu suara itu datang. Suara yang selama ini menghantui mimpi-mimpiku. "Akhirnya kamu pulang juga. Kamu pikir bisa kabur dariku?" Aku menoleh perlahan. Di sudut ruangan, Sony berdiri, wajahnya merah padam, matanya nyalang seperti binatang buas. "Aku sudah pulang, Mas," suaraku pelan. Tapi amarahnya menggelegak. "w************n sialan!" teriaknya. Paaak! Paaak! Tamparan keras itu mendarat di pipiku. Tubuhku terhuyung, rambutku ditarik kasar, tubuhku diseret ke sofa, lalu dibanting seperti sampah. Ujung meja menghantam pelipisku. Darah mengalir pelan. Aku tetap diam. Tak menangis. Tak berteriak. Aku biarkan semuanya terjadi. Dulu, tangan itu katanya ingin melindungiku. Kini, tangan yang sama berubah jadi senjata yang merobek harga diriku. Aku cuma ingin bebas. Tapi ternyata, jalan menuju kebebasan… berdarah. Saat darah hangat menetes di pelipisku, aku sadar… mungkin aku nggak bisa pergi dengan cara biasa. Mungkin, untuk melawan monster, aku harus jadi lebih kejam dari rasa takutku sendiri. Dan malam itu, aku bersumpah… jika hidup ini memang panggung sandiwara, aku akan jadi pemain terhebat dalam kisah pelarianku. Karena kadang, perempuan sepertiku… nggak butuh pahlawan. Aku harus jadi penyelamat untuk diriku sendiri. Bersambung… Moho bantuannya kakak, untuk like, komen dan simpan di rak buku karya ini, terimakasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD