Sang Penakluk Pria

1285 Words
Arthur gelisah mengingat pertemuan tadi sore bersama pria tampan wajah oriental yang bernama Adryan Li Saputra. Pria yang menyimpan foto Riska di dalam dompetnya. Tak banyak yang Arthur ketahui tentang pria yang dipanggil Ryan itu. Yang ia tahu jika Ryan anak dari Thomas Li dan Jane Wang, seorang Desainer interior ternama di Singapura lalu pindah ke Indonesia dan sepupu dari Nicholas Jose Leandro, suami Riska.  Karena tak ingin penasaran, Arthur mencari tahu di sebuah situs tentang Ryan dan berhasil menemukannya. "Pria yang mengaku selalu mencintai cinta pertamanya yang berinisial 'RA' itu, takkan pernah melupakan wanita yang sudah mendukungnya hingga menjadikannya sukses seperti sekarang walau hubungannya harus kandas di tengah jalan. Tapi Adryan Li tak patah semangat walau cinta pertamanya menjadi istri dari seorang novelis ternama, Aldinov atau Aldi Novriandi, pemilik resort ternama di Bogor, Indonesia." "'RA?' Riska Anggraeni? Aldinov? Bukankah itu adik Nicholas? Apa selama aku menikah, aku melewatkan sesuatu tentangmu, Ris?" Gumam Arthur  sambil berpikir, seperti memecahkan sebuah misteri antara Ryan, Riska, Aldinov dan Nicholas. Hubungan mereka yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Seorang Riska yang berada didalam lingkaran pria-pria tampan dan kaya. Lalu Arthur tersadar jika banyak hal yang kini tak ia ketahui tentang Riska, tidak seperti Riska yang ia kenal beberapa tahun yang lalu. "Kau tak makan?"  Kedatangan Beny membuyarkan lamunannya mengenai Riska dan membuatnya terkejut. "Tidak. Pesankan saja makan malam untukku. Aku sedang malas makan diluar." Tolak Arthur melanjutkan bacaannya. Beny mendekat dan berdiri di belakang Arthur yang sibuk dengan laptop Mac nya yang ia taruh di atas meja sofa. "Kau mencari tahu tentang Ryan?" Arthur menoleh sebentar lalu mengangguk. "Ya. Aku penasaran dengannya. Lebih tepatnya lagi dia--" "Mantan kekasih Riska." Sambung Beny. Arthur terhenyak. Bukan karena mendengar jika Beny menyebutkan Riska mantan kekasih Ryan tapi pria paruh baya itu seakan tahu banyak tentang Ryan. Tidak. Lebih tepatnya tentang Riska dan pria-pria itu. "Tahu dari mana?" Arthur mencoba mencari tahu banyak. Beny duduk di hadapan Arthur, menyilang kakinya sambil bersandar. "Aku tahu kau sudah lama menyukai Riska, tapi sayangnya kau tahu tak banyak  tentangnya." Tuduhnya. "Katakan padaku apa yang kau ketahui. Katakan semua padaku." Arthur mendesak, rasa ingin tahunya  melebihi dari pada meminta laporan budget untuk shooting yang diadakan besok pagi. Beny berganti posisi, duduk membungkuk sambil menangkupkan kedua tangan menatap Arthur serius. "Baiklah ku ceritakan sekarang, kuharap kau tak terkejut." ❤❤❤ Pandangan Arthur berganti. Di awali melihat Riska yang duduk diantara Ryan dan Nick, dua pria yang mencintai Riska.  Terkejut? Tentu saja. Ternyata hidup Riska tak jauh dari cucu mendiang Mrs.Wang dan membuatnya lebih terkejut adalah ayah Riska yang notabene mantan kekasih Jane Wang. Riska seakan pembayar karma dari rasa sakit hati ayahnya karena gagal menikahi Jane, dan karma itu adalah semua cucu Mrs.Wang terpesona, saling merebutkan Riska untuk menjadi milik mereka. Sayangnya hanya Aldinov dan Nick yang berhasil menjadi suami Riska. Sementara Ryan terpaksa menikahi wanita lain. "Apakah besok pagi kalian mulai syuting?" Tanya Nick pada Arthur yang menyeka mulut setelah menghabiskan makan malam mereka di depan resto sambil memandangi para kru yang sibuk menyiapkan set yang diadakan di kamar resort. Arthur mengangguk. "Ya. Jam enam pagi kami memulai syuting, Nick. Aku minta maaf jika kami membuat gaduh kalian besok pagi." Sahutnya lalu meneguk segelas air. "Apa kau butuh cameo?" Tanya Ryan kemudian. Arthur berpikir sebentar dan melupakan sesuatu. "Aku tidak tahu pasti masalah itu, tapi kalau kami membutuhkannya aku akan menghubungimu." Balas Arthur tak bisa menjawab karena itu sudah menjadi tanggung jawab Beny. Sayangnya Beny tak bisa bergabung makan malam bersama mereka karena sibuk mengatur kru dan meeting dengan para aktor. Ryan mengangguk. "Ok, aku menunggu kabar darimu, Arthur." Menanggapi jawaban Arthur walau tak terlalu berharap banyak. Riska bangkit dari kursi. "Maaf aku duluan. Aku harus memastikan keadaan anak-anakku dulu." Pamitnya tapi langkahnya tertahan ketika Nick menarik tangannya. "Kembalilah ke kamar jika sudah selesai. Jangan biarkan aku tidur sendiri, Ok?" Pinta Nick sambil mengedipkan mata. Riska menoleh melihat Arthur yang memperhatikannya lalu menghela nafas melirik Nick yang menatapnya dengan tatapan memohon. "Baik, Tuan Nicholas." Menepis tangan Nick lalu bergegas dengan langkah panjang sambil menggerutu. "Dasar Nick! Kau tak perlu memperlihatkan sikap genitmu pada Arthur!" Terus melangkah melintasi para kru yang spontan meliriknya. Ryan menggeleng mendengar percakapan Nick tadi. "Kau tak berubah, Nick." Ucapnya lalu meneguk air lagi. Nick mengambil sebatang rokok lalu menyodori Arthur. "Tentu saja, Yan. Sikapku takkan pernah berubah seperti halnya aku mencintai Riska sejak dulu hingga sekarang." Membalas ucapan Ryan lebih tepatnya memberitahu Ryan jika ia takkan pernah melepaskan Riska apapun yang terjadi, sekalipun Ryan mencoba segala cara untuk bisa kembali pada Riska. Ryan menyulut rokok lalu menatap Nick yang mengembuskan asap rokok. "Kau yakin takkan berubah?" Tak yakin dengan jawaban Nick. Karena setiap pria pasti pernah merasakan situasi kejenuhan dalam berhubungan. Seperti yang pernah ia lakukan saat bersama Riska. Selingkuh dengan Jenifer yang menggodanya dan menghasilkan masalah besar, kehamilan yang tak ia harapkan.  Ryan menyesali apa yang sudah ia perbuat, kehilangan Riska cinta abadinya walau kini statusnya telah menjadi suami Laura Sanchez. Sekali lagi Nick mengangguk yakin. "Tentu saja, Yan. Aku takkan pernah melepas Riska sekalipun tergoda dengan wanita lain. Karena itu sudah menjadi janjiku didepan Aldi. Karena dia lah aku berubah dan dia sudah memberiku anak yang menjadi penerusku. Hanya Riska alasanku masih bertahan hidup sampai sekarang." Jelas Nick lagi, membiarkan Arthur mengetahui dalamnya cinta pada wanita bernama Riska Anggraeni.  "Aku salut padamu, Nick." Celetuk Arthur. "Aku tak sekuat kau mempertahankan rumah tangga dan istri. Setelah diselingkuhi istri, aku memilih melepasnya daripada mempertahankan. Dan inilah aku sekarang." Membuka kedua lengan. "Arthur si Duda." Sambungnya lagi. "Bahkan beberapa orang menuduhku gay hanya karena tak mempertahankan rumah tanggaku dan menolak kencan wanita-wanita cantik. Ironis memang..tapi aku tak peduli." "Kau mau aku kenalkan wanita cantik?" Tawar Ryan serius. "Stop it, Yan. Sebaiknya kau selesaikan masalahmu dengan Laura. Kau mau dia salah paham karena kau dekat dengan wanita lain hanya karena ingin mengenalkannya pada Arthur." Cegah Nick dan terdengar masuk akal walau itu tak mungkin. Laura tak mungkin peduli lagi, itu yang ada dipikiran Ryan sekarang. Ryan mengembuskan rokok pelan. "Aku sudah berusaha menyelesaikan masalahku, Nick. Tapi kau tahu sendiri jika wanita sulit dimengerti. Aku mempunyai keinginan yang harus ia penuhi tapi ia menolak. Oke, aku menerimanya dan mengikuti keinginannya. Tapi dia tetap tertutup. Dan sekarang…" Menghela nafas. "Aku pasrah."  Nick tertawa dan teringat ucapan Aldi yang mengatakan jika Ryan seorang pecundang. The real loser. Dan gelar itu memang cocok ia sandang. "Kau harus sedikit lebih tegas pada Laura, Yan. Ada saatnya kau lemah dan ada saatnya kau tegas di depan wanita. Seperti yang kulakukan pada Riska." Nick memberi saran. "Seperti yang kau bilang bahwa wanita itu makhluk yang sulit di mengerti tapi jika kau sudah mengetahui kelemahannya, mereka akan bertekuk lutut padamu kecuali jika kau sudah menyakitinya. Mereka akan pergi tanpa kata seperti angin." Tambahnya lagi. "Sepertinya aku harus banyak belajar darimu, Nick." Ucap Arthur menanggapi semua perkataan Nick yang terdengar masuk akal, seakan menyadarinya pada hal yang pernah ia lakukan dulu pada mantan istrinya. Nick tersenyum dari balik asap rokok. "Aku tak bermaksud menggurui kalian. Aku hanya share apa yang pernah ku alami saja. Dan dari sekian banyak wanita yang pernah aku taklukan, Riska lah yang paling tersulit." Tapi kau berhasil merebutnya dariku, Nick. Ryan tersenyum sini sambil terus menghisap rokok dan menyesali yang telah terjadi. Kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Riska Anggraeni. ❤❤❤ Arthur duduk di meja depan resto sambil menikmati sarapan yang berupa seporsi nasi goreng dan orange jus. Setelah menghabiskan sarapan, pandangannya beralih dari sekumpulan kru yang akan bersiap syuting menuju balkon kamar Riska dimana terlihat seorang wanita memakai kimono berdiri disana sambil mendongak dengan tangan terjulur ke depan. Seakan sedang menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Arthur menekan tombol kontak pada handphonenya yang tak lama panggilannya tersambung. "Good morning, Ris. Apa kabarmu pagi ini?" Sambil melambaikan tangan ke arah Riska dan ia bisa melihat jelas Riska tersenyum dengan sebelah tangan melekatkan handphone di telinganya. "Pagi juga, Pak Produser. Kabarku baik." Tersenyum lebar ke bawah tepat mengarah pada meja di depan resto. "Sama seperti beberapa tahun yang lalu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD