"Apa kau sudah menghubungi pak Wijaya?" Tanya Ryan pada Raaj yang baru saja memasuki ruangannya dengan tangan membawa beberapa lembar kertas. Raaj mengangguk lalu menyodori kertas-kertas tersebut. "Ini draft ruangan kantor pak Wijaya." Duduk di hadapan Ryan lalu bersandar dan mengeluh. Ryan mempelajari kertas itu walau sesekali melirik Raaj. "Ada apa? Kau bertengkar dengan Sharma?" Tanyanya melihat raut wajah Raaj yang tak bersemangat. "Tidak. Bagaimana dengan Laura? Kau tak mengunjunginya?" Pertanyaan Raaj membuat Ryan terheran setelah beberapa hari tak membahas Laura. Ryan menggeleng lalu menaruh kertas itu di atas meja. "No. Bagaimana aku bisa mengunjunginya sedangkan ia selalu menolak panggilanku, Raaj." Untuk kesekian kalinya Ryan menjawab dengan jawaban yang sama. Ia terlalu lela

