Untitled

1180 Words
Ting! Ada pesan masuk. Aku meraih benda pipih berwarna hitam, yang tadi kuletakkan di atas kasur. Dari Arini? Segera kubuka pesan di aplikasi berwarna hijau. Ada foto seorang laki-laki memakai jas berwarna hitam, dan peci berwarna hitam. Di sampingnya nampak seorang wanita muda memakai brokat warna putih dengan kerudung berwarna senada. Siapa ya? Foto ini nampak dari samping, aku tidak bisa menebaknya. Aku bergeser ke foto yang satu lagi. Kali ini nampak sangat jelas wajah Mas Erlan, suamiku. Mataku membelalak. "dengan Nora? Ah, bukankah Nora itu teman SMA Mas Erlan? Lalu bagaimana mereka bisa ketemu? Apa selama ini Mas Erlan ada main di belakangku? Berjuta pertanyaan menggelayuti pikiranku. Tapi, Apa benar Mas Erlan sudah menikah? Aku harus menyelidiki dulu kebenarannya. Ya, Tuhan, kuatkan Aku! Sudah pukul delapan, Mas Erlan belum juga pulang. Ke mana kau Mas? Ponselmu juga tidak aktif. Aku coba mencari kesibukan, lalu membuka galeri foto di ponselku. Kuamati satu per satu foto-foto kebersamaan kami. Aku tertawa sendiri melihat pose-pose lucu Mas Erlan. Ah! Rasanya tak percaya kalau Mas Erlan tega berkhianat kepadaku. Selama satu tahun hidup bersamanya, sikap kasih sayang dan s romantisnya tidak berubah sejak awal pernikahan kami. Mataku mulai mengantuk, tak sadar ponsel hitam itu terlepas dari genggamanku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. * "Yun, Yuni ...," terasa ada usapan tangan yang menyejukkan di seluruh wajahku. Aku berusaha membuka mataku perlahan. Ah! kelopak mataku terasa berat, seperti ada yang menggelayuti. samar-samar aku melihat ada bayangan muka berada tepat di hadapanku, dekat sekali. Aku membesarkan pupil mataku. Kulihat jam dinding di belakangnya. Pukul 12 malam? berarti sudah 4 jam aku tertidur. "Mas Erlan?" Jujur, Aku sangat senang dengan kepulangan Mas Erlan. Lelaki tampan itu mengecup dahiku dengan lembut. Sudah menjadi kebiasannya setiap berangkat dan tiba di rumah selalu melakukan itu. "Kapan Mas pulang?" tanyaku tetap dalam posisi tidur terlentang. "Barusan. Tadi mas tekan bel beberapa kali. Ternyata kamu udah tidur. Untung ada kunci serepnya di mobil." Kunci rumah bagian depan itu ada tiga, satu menggantung di pintu, satu lagi sama aku dan satunya dipegang Mas Erlan. " Maaf, ya Yun, Mas tadi belum sempat bilang ke kamu. Tadi sepulang dari kantor, Mas ada acara mendadak." Mas Erlan lalu duduk di pinggir ranjang. Tepat di ujung kaki Ku. gtu "Acara apa sih Mas? Kok sampai gak sempat ngasih tahu Aku," kataku sambil memandangi wajahnya yang tampan kayak oppa-oppa Korea itu. Mas Erlan merasa salah tingkah kupandangi seperti itu. Mungkin saja di lubuk hatinya ada perasaan bersalah. " Eh, Kamu kok liatin Aku kaya gitu sih,?" Mas Erlan salah tingkah. Aku sebenarnya tidak sabar ingin menanyakan foto itu. Gimana ini? Aku tanya sekarang aja apa besok ya? Aku kok rasanya belum siap dengan jawaban dari Mas Erlan. Bagaimana kalau itu benar? "Hey, Jangan ngelamun, ntar setan lewat lho! Mas Erlan mencubit pipi tembamku. Aku tersipu. "Mas mau ngomong sesuatu, tapi besok aja ya, soalnya malam ini udah capai banget. Mas udah ngantuk." katanya sambil beralih posisi, lalu berbaring di sampingku. Mengangkat tangan kanannya ke atas kepalaku dan tangan kirinya merengkuh bahuku menarikku ke dalam dekapan dadanya yang bidang. *** Pagi harinya, setelah sholat subuh, Mas Erlan terlihat sangat segar dengan rambut basahnya. Mukanya makin bercahaya. Ya Tuhan! Rasanya tak rela aku jika Dia mendua. Aku melipat sajadah yang tadi di pakai kami sholat berjamaah. "Dek, sini deh. Mas mau ngomong jujur, tapi janji, kamu jangan marah ya?" Aku duduk di sampingnya. "Dek, kemarin sore itu Mas sudah menikah sama Nora. Hanya akad dan syukuran saja tanpa resepsi. Terbatas untuk keluarga dekat aja. Saat ini dan seterusnya, Nora akan tinggal bersama orang tuanya Mas Erlan berbicara dengan tenang. Tapi Aku, rasanya kayak di sambar geledek. Aku terdiam sejenak. Kupandangi wajah suamiku. Dia pun menatap ke arah Ku. "Mas salah, karena tidak pamit dulu ke Kamu. Tapi ini kondisinya berbeda, Mas terpaksa menikah untuk memenuhi janji pada almarhum suami Nora. Jujur, Mas tidak punya perasaan apa-apa kepada Nora. Hanya kau seorang yang Mas cintai percayalah!" Mas Erlan memegang kedua bahuku. Sementara Aku masih mematung di hadapannya. Mulutku terkunci, tidak tahu berkata apa, bibirku bergetar menahan tangis, mataku mulai memanas, tanpa terasa buliran- kristal bening terus meluncur di kedua pipiku. " Mas, A- Aku, ...," belum sempat kulanjutkan kata-kataku, Mas Erlan sudah meraihku ke dalam pelukannya." "Kamu gak usah bilang apa-apa Yuni, Mas tahu ini sakit sekali buatmu. Mas bisa merasakan apa yang saat ini kau rasakan," ucap Mas Erlan dengan lembut. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di telingaku. "Mas, tapi-- Aku tidak mau di madu. Aku gak akan kuat Mas. Aku ingin kita pisah!" Aku menjauhkan ragaku dari dada bidangnya. Perih ya Allah! Ini keputusan yang berat. Tapi Aku tidak punya pilihan lain. "Apa? Kau mau kita pisah? Jangan Yun! Aku tidak bisa pisah dari Kamu! Kamu tahu kan dulu, bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Kamu!" Mas Erlan tidak terima dengan ucapanKu, "Atau, Aku akan ceraikan Nora hari ini juga Yun, asal kita tetap bersama." "Mas, Kamu jangan egois! Pernikahan itu bukan permainan, jangan seenaknya dong main cerai. Cukup Aku saja yang merasakan sakit ini. jangan anak orang kamu sakiti juga." "Tapi Yun, Aku tidak mau pisah sama Kamu. Tolong, jangan pergi Yuni!" Mas Erlan setengah memohon kepadaku. "Tidak bisa Mas, Aku tetap akan pergi dari sini, secepatnya!" ucapku dengan wajah dingin. "Tapi, bagaimana dengan kehidupanMu nanti Yun, kamu kan tidak punya penghasilan." Mas Erlan terlihat sangat khawatir. itu menunjukkan bahwa Dia memang masih sangat mencintaiku. Tapi sayang aku tidak mau cinta itu terbagi dengan yang lain. Apakah Aku egois? Ah! Aku tak peduli. "Kamu ga usah khawatir Mas, Rezeki itu Allah yang mengatur. Aku masih bisa kerja kok. Apa aja, yang penting halal. Lagi pula aku masih punya tabungan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku beberapa bulan ke depan," ucapku dengan yakin. Aku beranjak ke kamar, mengemasi barang-barang milikku. Tidak banyak ternyata, hanya muat satu koper saja. Segera ku pesan taksi online menuju rumah Mama. Pastilah, nanti akan banyak pertanyaan dari Mama.Aku harus menyiapkan jawaban untuk wanita tercintaku. " Aku pergi, Mas! Tolong jangan ganggu aku lagi setelah ini. Aku mohon," langsung ku seret koper berwana biru tua yang bertakwa itu menuju mobil taksi online yg sudah menunggu. Mas Erlan hanya terpaku memandangi kepergianku. *** Tiga Bulan setelah kejadian itu, Aku tidak pernah tahu lagi kabar Mas Erlan. Aku mulai, bekerja di perusahaan Papa, atas permintaan Mama. Kata Mama, itu untuk kebaikanku juga nantinya. Aku senang, hubungan Mama dan Papa tetap baik, padahal mereka udah berpisah sejak aku usia sembilan tahun. Hari ini Aku ada kunjungan ke Kantor cabang milik Papa yang berlokasi di Depok. Ketika akan masuk ke dalam lift Aku hampir bertabrakan dengan seorang wanita. "Mbak Yuni?" "Nora?" ucap kami bersamaan. Ups, ketemu isteri mantan! "Mbak Nora ke mana aja? Aku coba hubungi ke ponsel Mbak kok gak bisa." kata Nora. Ya, iyalah Nora, aku kan udah ganti nomor baru, kataku dalam hati. "Mbak, tolong tengok Mas Erlan. Tiga bulan yang lalu, Mas Erlan kecelakaan tunggal. Akibat kecelakaan itu matanya jadi buta." Mata nora berkaca-kaca menceritakan tentang suaminya. "Apa? Mas Erlan kecelakaan? dan sekarang jadi buta? Kamu jangan bercanda ya Nora!" Aku masih belum percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD