"Gue boleh cium lo?" Zea menatap lekat pada mata Devano. Dia kira Devano mengatakan itu hanya bercanda. Tapi Zea sadar, Devano juga sedang menatap dirinya dengan lekat. Hingga sekarang Devano semakin mendekati Zea dengan tatapannya yang sulit Zea artikan. Jantung Zea berdegup dengan sangat kencang. Dia tak bisa kemanapun saat tubuhnya semakin dekat dengan Devano. Bahkan sekarang kulit tangannya juga menempel dengan kulit Devano hingga darahnya berdesir begitu cepat. "Dev..." panggil Zea pelan. Angin pantai semakin dingin dan diikuti basah di sebagian tubuh mereka semakin terasa. Tiupan angin yang menerpa poni Devano membuat laki-laki itu semakin terlihat tampan. "Maafin gue..." akhirnya Devano bersuara. Cup Bibir Devano mendarat begitu lembut pada bibir Zea dengan matanya yang te

