"Leo lo belum tidur?" Tanya Allea seraya menghampiri Leo yang duduk di sofa.
"Lo?"
"Gua kebangun, mau ambil minum di dapur."
Leo mengangguk dan kembali fokus pada ponsel nya. Seperti biasa Leo sibuk dengan pekerjaan secret agent nya, apalagi tadi pagi ada penembakan di sekolah nya. Leo harus mencari tau nya apa tujuan utama orang itu melakukan penembakan, apa hanya karena ingin meneror Allea atau ingin membahayakan Allea atau memang sedang ingin meneror sekolah nya saja. Walaupun bukan sepenuh nya tugas Leo, tapi tetap saja Leo ikut turun tangan dalam masalah ini, apalagi kalau menyangkut keselamatan Allea.
"Lo ngapain sih dari tadi sibuk sama hp terus?" tanya Allea yang duduk di samping Leo.
"Sibuk."
"Sibuk ngapain?"
Leo hanya diam saja tidak mau menjawab nya. Seperti biasa kalau Leo tidak mau menjawab nya dia akan diam saja.
"Lo mau gua bikinin kopi atau teh gak?" tawar Allea.
"Kopi," jawab Leo.
"Gua bikinin dulu." Allea berjalan menuju dapur untuk membuat kan kopi Leo, dan mengambil minum untuk diri nya sendiri.
Sebenarnya Leo belum tidur juga sedari tadi itu karena ingin mengawasi yang lain nya, takut kalau ada teror lagi, jadi lebih baik Leo berjaga-jaga saja. Dengan diri nya yang tetap terjaga Leo akan lebih mudah untuk mengetahui siapa yang meneror nya, dan bisa mengejarnya lalu menangkap nya saat itu juga.
Leo menghela napas sambil menyandarkan tubuh nya di sofa. Lelah, tapi mau bagaimana lagi ini sudah tugas Leo. Leo melihat sekeliling nya, mencari hal yang mencurigakan di dalam rumah Allea. Leo mengusap wajah nya seraya memijat kening nya pelan.
"Udah kaya bapak-bapak aja lo." Allea datang membawa secangkir kopi dan satu cup es krim.
"Makasih." Leo menyesap kopi nya.
"Lo biasa begadang gini?" tanya Allea sambil menyendok kan es krim ke mulut nya.
"Iya."
"Penting banget emang?"
Leo mengangguk sambil kembali menyesap kopi buatan Allea tadi.
"Gak baik tau begadang begitu."
"Iya."
"Dari tadi jawab cuma iya iya doang." Allea menyalakan televisi dan mencari acara yang menyenangkan di tengah malam ini.
"Gak tidur?" tanya Leo.
"Gak bisa tidur gua kalo udah kebangun susah tidur lagi," jawab nya sambil masih mencari acara yang menurut nya seru.
"Gak ada yang seru nih acara tv," keluh Allea.
"Nah ini baru ada film." Allea berhenti memencet tombol remot nya ketika tv nya sudah menampilkan film yang ia mau.
Leo juga melihat film action yang di tampilkan di televisi.
"Lo suka film begini gak?" tanya Allea mencoba untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
Leo mengangguk.
"Jawab kek."
"Iya."
"Sama gua juga suka, gua lebih suka action di banding romance sih."
Leo lagi-lagi hanya mengangguk kan kepala nya saja membalas ucapan Allea.
"Tapi ngalamin kejadian yang kaya di film-film itu tadi pagi di sekolah, itu mengerikan banget sih. Gua kira kalo yang di film kejadian di gua, gua pikir akan seru menarik gitu kan action, ternyata enggak, ngeri banget. Apalagi liat guru sama temen sendiri di tembak di depan mata gua."
"Film cuma bohong."
"Iya tau, tapi keliatan nya keren kan. Jadi gua pikir kalo kejadian nyata akan keren juga, ternyata enggak," ujar Allea yang bergidik membayangkan kejadian di sekolah nya tadi.
"Gua harap yang nembak itu masuk penjara, kalo temen sama guru gua gak selamat pokok nya tuh orang harus dihukum mati."
"Ya kalo ketangkep."
"Harus! pokok ya harus ketangkep," kekeh Allea.
"Semoga."
"Itu kayanya dia nembak dari jauh gitu ya?"
"Iya."
"Besok-besok gua saranin sekolah pake kaca jendela anti peluru lah."
Leo terkekeh mendengar ucapan Allea.
"Ck gua serius tau," decak Allea sambil menatap Leo.
"Iya."
Allea meletakkan cup es krim yang sudah kosong di meja.
"Tidur sana," ujar Leo.
"Kayanya mending lo aja deh sana yang tidur, lo kan belum tidur."
"Gak ngantuk."
"Nah gitu dong kalo ngomong jelas gitu," ujar Allea senang karena Leo tidak memotong ucapan nya lagi dan membuat nya berpikir.
Leo berdehem membalas ucapan Allea.
"Ih kayanya seru deh jadi agent gitu," komentar Allea pada film yang sedang di tayangkan di televisi.
"Kejadian penembakan di sekolah aja lo takut."
"Iya iya, apalagi gua jadi agent gitu, di film sih seru, gak tau asli nya gimana."
"Tapi penasaran deh sama agent gitu," ujar Allea.
Leo hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Allea. Memang Leo harus menanggapi apa? mengakui dirinya agent dan mengatakan menjadi agent tidak mudah, sangat sulit dan pekerjaan nya sangat mengancam nyawa? seperti nya tidak perlu, lagipula pekerjaan nya ini kan memang di harus kan untuk menyembunyikan identitas nya, sekalipun pada keluarga.
"Tapi ya diantara kita tuh, menurut gua yang cocok jadi agent Karel."
"Kenapa?" tanya Leo yang mulai tertarik dengan pembicaraan Allea.
"Gua liat-liat sih Karel pinter juga kan, terus bela diri juga jago. Terus tuh dia kalo lagi biasa aja dia bisa konyol kaya Verell Alfi juga, tapi kalo lagi serius ya kaya tadi tuh."
Leo mendengarkan Allea dengan baik sambil menganggukkan kepala nya.
"Kalo ada apa-apa gua tau dia panik tapi dia bisa tenang dan nenangin yang lain. Gampang berbaur juga lagi orang nya, kalo dia jadi agent pasti nguntungin kao di bidang penyamaran sih."
Leo mengangguk lagi, "bener."
"Ya kan, penilaian gua mah emang jangan di ragukan lagi deh," ucap Allea bangga.
Leo tersenyum tipis. Tapi lo gak tau agent sebenernya siapa, batin Leo.
"Tapi kalo ternyata yang jadi agent itu Verell gimana?" tanya Leo.
"Gua bakal syok banget sih, masa iya ada agent sebobrok Verell. b**o lagi."
Leo terkekeh membayangkan Verell menjadi agent yang konyol.
"Tapi kalo bener dia agent. Parah gila dia hebat sih bikin semua orang gak percaya kalo dia agent." Allea bertepuk tangan seolah bangga dengan kerja Verell.
"Termasuk agent penyamaran nomer satu," sahut Leo.
"Iya bener bener."
"Tapi gak mungkin beneran dia agent kan?" tanya Allea menatap Leo serius.
"Entah," jawab Leo santai.
***
Setelah sarapan Karel langsung pergi dan mengatakan kalau dirinya ada urusan. Jadi sekarang hanya ada mereka berlima saja di rumah Allea. Dan untuk bi Inah, Allea memberikan libur untuk nya. Walaupun sudah di berikan libur oleh Allea, bi Inah masih ke rumah untuk membuat kan mereka sarapan, jadi tadi mereka semua sarapan dengan masakan bi Inah.
"Jalan-jalan lah yok," ajak Verell.
"Tanpa Karel?" tanya Vela.
"Iya, emang kenapa? kan dia gak bisa."
"Jangan kemana-mana," sahut Leo.
"Kenapa?" Tanya Vela.
"Kita gak tau yang di incer penembak itu siapa."
"Iya bener," sahut Allea.
"Yang pasti bukan gua kan?" tanya Verell yang terlihat sedikit takut.
"Kayanya sih di kelas gua, soalnya penembakan awal juga ke arah kelas gua," ujar Allea.
"Duh gua takut dah," ucap Vela.
"Ah aman, untung bukan gua." Verell mengusap d**a nya lega.
"Si Karel itu malah pergi, jangan-jangan incaran nya Karel lagi," lanjut Verell.
"Kayanya Karel sih bisa ngejaga diri sih," ucap Allea sambil melirik ke arah Leo.
"Iya," balas Leo.
"Jangan-jangan si Alfi lagi," tuduh Vela pada Alfi yang sedari tadi hanya diam bermain dengan ponsel nya.
"Heh Alfi tumben lo diem, lagi ngapain dah?" Verell mendekat pada Alfi dan melihat apa yang sedang di kerjakan Alfi di ponsel nya.
"Jangan ganggu!" Alfi mendorong Verell menjauh dari ponsel nya.
"Pelit amat! Wah jangan-jangan lo lagi nonton yang enggak-enggak ya," tuduh Verell.
"Gua lagi main game."
"Coba liat."
"Diem dah jangan ganggu."
Vela berdiri menghampiri Alfi, dan berdiri di belakang nya untuk melihat permainan apa yang tengah di mainkan di ponsel nya itu.
"Astaga main pou doang padahal," seru Vela.
"Ya emang kenapa?" Tanya Alfi.
Yang lain tertawa terbahak. Ternyata sedari tadi Alfi terlihat sangat serius karena bermain permainan pou di ponsel nya.
"Kaya bocah aja lo."
Alfi diam saja tidak peduli dengan teman-teman nya yang mengejek nya, saat ini Alfi tengah sibuk memberikan makan untuk pou nya agar tidak sakit.
Leo melihat ke arah jam dinding. Sudah menunjuk kan pukul sebelas siang. Leo kembali memeriksa ponsel nya, dan menghela napas.
"Kenapa?" Tanya Allea.
Sebenarnya Leo masih khawatir meninggalkan teman-teman nya sendiri terutama Allea. Leo takut peneror itu akan datang dan melakukan hal buruk pada mereka, setidaknya kalau ada Karel Leo sedikit tidak khawatir, tapi sekarang Karel pun tengah sibuk dan tidak ada disini. Tapi mau bagaimana lagi .
"Gua harus pulang."
Sebenarnya tidak pulang ke rumah, tapi Leo harus datang ke tempat kerja nya karena Nanas tadi menyuruh nya untuk melihat perkembangan calon anak baru itu.
"Yaudah pulang aja," ucap Allea.
"Nanti sore gua balik lagi."
"Iya."
"Kalo ada apa-apa telfon." Leo mengusap kepala Allea.
"Iya nanti gua telfon lo."
"Ekhemm... Duh duhh mau pulang ke rumah aja drama banget ya," sindir Verell sambil berpura-pura batuk.
Leo melirik Verell dengan wajah datar nya.
"Sweet banget sih Leo," sahut Vela sambil tertawa.
"Gua pulang dulu," pamit nya pada Allea tanpa memperdulikan kedua teman nya itu.
"Iya hati-hati."
"Aw hati-hati di jalan Leo kuuhh," sindir Verell pada Allea.
"Nanti kalo dah sampe rumah kabarin ya Leo ku." Vela pun ikutan Verell untuk menggoda Allea yang saat ini wajah nya sudah memerah. Malu dan juga kesal yang membuat wajah nya menjadi seperti ini.
Vela dan Verell masih tertawa terbahak meledek Allea. Lain hal nya dengan Alfi yang masih serius memberi makan pou nya hingga sangat besar sampai pou nya tidak mau menerima makanan yang di berikan Alfi.
"Yah udah kenyang."