Part 34

1350 Words
Mobil Karel dan juga mobil Leo datang bersamaan ke rumah Allea di sore hari. Alfi dan juga Verell yang sedang bermain bola di halaman rumah Allea menoleh melihat mobil kedua teman nya itu yang datang bersamaan. "Heh kalian abis jalan berdua ya?" ejek Verell yang disambut dengan gelak tawa Alfi yang tengah duduk di rerumputan. Leo hanya diam saja turun dari mobil nya dan melangkah memasuki rumah Allea tanpa berniat membalas ucapan Verell, lain hal nya dengan Karel yang menghampiri kedua teman nya itu. "Main bola gak ngajak gua lo ya berdua." Karel menendang bola yang di dekat nya. "Ya lo nya kan sibuk terus." Verell duduk di samping Alfi sambil menenggak botol minum yang sebelum nya ia telah siap kan disana. Leo memasuki rumah Allea dan mencari keberadaan Allea untuk memastikan kalau Allea baik-baik saja saat ini. Leo sebenarnya sedikit khawatir karena sekarang lagi-lagi tim nya yang bertugas untuk menjaga rumah Allea tidak bisa menjalankan tugas nya dikarena suatu masalah. "Lo udah balik?" tanya Vela yang sedang turun dari tangga dengan rambut yang terlilit handuk, menandakan kalau Vela habis membersihkan tubuh –mandi. Leo mengangguk. "Allea?" "Tuh lagi di dapur." Leo melangkahkan kaki nya menuju dapur untuk melihat Allea. Entah lah sekarang Leo merasa tidak begitu tenang kalau belum memastikan dengan mata kepala nya sendiri kalau Allea baik-baik saja. "Allea," panggil Leo pada Allea yang sedang berdiri di depan kulkas tengah berpikir. "Eh lo udah balik?" Leo mengangguk menjawab pertanyaan Allea. "Ngapain?" tanya nya. "Lagi mikir mau masak apa buat makan malem nanti," jawab nya. "Bisa masak?" "Bisa." Leo hanya mengangguk saja dan masih berdiri memerhatikan Allea yang menoleh kearah nya. "Kenapa?" tanya Allea yang menyadari kalau Leo terus memerhatikan nya. Leo menggelengkan kepala nya. "Yaudah sana mandi, ngapain berdiri disitu?" "Iya." Akhirnya Leo membuka suaranya dan melangkahkan kaki nya ke kamar yang di tidurinya selama menginap di rumah Allea untuk mandi. *** Setelah makan malam mereka tidak seperti malam sebelum nya yang menonton film, sekarang mereka semua berpencar sibuk dengan kegiatan nya masing-masing. Vela dan Allea yang sedang sibuk membicarakan entah apa hanya mereka berdua yang memahami pembicaraan para wanita itu. Sedangkan Verell tiduran di sofa dengan setumpuk cemilan di meja, dan juga Alfi yang duduk di sofa sambil bermain permainan di ponsel nya. Karel sedang duduk diluar rumah entah apa yang dilakukan nya, dia hanya mengatakan ingin mencari udara segar. Dan Leo dia sedang berada di kamar, berbalas pesan dengan Nanas dan kedua kakak nya. "Jari manusia," gumam nya membaca pesan yang di kirimkan Nanas pada nya. Ternyata dugaan nya benar, teror kemarin itu sungguhan jari manusia dan bukan jari karet mainan. Tapi itu jari siapa yang telah mereka potong untuk meneror Allea. "Secepatnya cari siapa pemilik jari itu." Leo mengirimkan pesan suara pada Nanas memasukkan ponsel nya di saku. Leo ingin memastikan yang lain baik-baik saja dan juga seperti biasa, memeriksa apakah rumah Allea aman atau tidak. Leo berjalan keluar kamar nya itu dan melihat Verell dan juga Alfi yang sedang santai. Leo melangkah kan kaki nya untuk berjalan melewati kamar Allea, untuk memastikan kalau Allea aman di kamarnya bersama Vela. Tapi langkah nya terhenti ketika melihat Karel yang seperti sedang bersembunyi dan mengintip di balik jendela dengan sedikit menyingkapkan gorden untuk melihat keluar. Leo mengerutkan dahi nya dan melangkah mendekati Karel. "Ada apa?" Karel tersentak karena Leo menepuk bahu nya, dan menatap Leo seolah menyuruh nya untuk diam. Leo diam dan mengikuti Karel yang mengintip keluar. Leo pikir sepertinya Karel melihat sesuatu yang mencurigakan, jadi Leo mengikuti saja Karel. Leo masih diam saja menunggu Karel menjelaskan sesuatu pada nya karena ia tidak melihat apapun di luar sana. Tidak lama seseorang lewat di depan pagar rumah Allea sambil menoleh ke sana kemari, " nah itu dia," ucap Karel. Leo sekarang mengerti, Karel seperti ini karena ingin mengawasi orang itu. Leo diam saja karena ingin melihat apa yang akan Karel lakukan, hitung-hitung sebagai pelatihan nya. Brakk Orang itu melemparkan kotak yang sama seperti kemari. Karel dengan cepat keluar dan berlari mengejar orang itu, bahkan Karel dengan mudah memanjat dan melompati pagar tinggi itu. Leo tersenyum simpul melihat kegesitan Karel. "Tidak buruk." Leo berjalan santai mendekati kotak itu dan memfoto nya untuk di kirimkan pada tim nya. Leo juga segera menghubungi tim nya untuk mencari orang yang telah melemparkan kotak itu di depan rumah Allea, karena sejak kejadian kotak berisi jari manusia itu Leo menempelkan cctv kecil di depan rumah Allea karena entah secara kebetulan atau sudah rencana mereka, cctv sekitar rumah Allea rusak. "Tangkap orang itu, dan cari tau siapa yang menyuruh nya." Leo mengirimkan pesan suara lagi, karena Leo terlalu malas untuk mengetik. Leo mengirimkan rekaman cctv yang sudah merekam orang itu pada tim nya untuk di selidiki lebih lanjut. Sebenarnya itu alasan Leo tidak mengikuti Karel yang mengejar orang itu, percuma saja kalau tidak tertangkap hanya akan mendapatkan lelah saja, lagipula untuk apa mengejar sendiri kalau ada tim yang akan mencari nya, Leo sudah mendapatkan wajah nya orang itu, sudah pasti akan segera tertangkap. Alasan lain nya juga karena tidak mau meninggalkan rumah Allea begitu saja hanya karena untuk mengejar orang itu. Leo yakin, mereka itu hanya pion saja. Mereka hanya sebagai pengecoh saja, jadi Leo tidak mau mengejarnya takut sesuatu yang buruk terjadi dengan Allea kalau Leo langsung pergi mengejar orang itu bersama dengan Karel. Leo berjongkok di depan kotak itu dan membuka nya. Bau tidak sedap menguar menusuk penciuman Leo. Darah, aroma darah segara yang sedikit menganggu penciuman Leo. "Tangan," gumam Leo melihat pergelangan tangan dengan jari tengah yang hilang. Leo mengangguk mengerti, ternyata ini pergelangan tangan dari jari yang kemarin itu. Leo kembali menutup kotak itu dan menunggu salah satu tim nya yang datang mengambil kotak itu untuk di cari identitas pemilik dari jari dan pergelangan tangan itu. Leo hanya berharap itu bukan milik orang yang di kenal nya ataupun orang terdekat Allea, karena di pastikan Allea akan menjerit histeris kalau ia tau. Dilihat dari pergelangan tangan yang belum membusuk dan juga darah segar yang keluar dari pergelangan tangan itu, berbeda dengan bekas jari tengah yang hilang itu terlihat berbeda. Leo simpulkan kalau pergelangan tangan ini baru saja di potong, tidak bersamaan dengan jari yang kemarin. "Leo," panggil Karel dari luar pagar. Leo menoleh melihat kearah Karel yang terlihat sangat lelah. Leo hanya terkekeh melihat Karel seperti itu. "Jangan ketawa udah bukain pager." "Loncat aja." "Gua capek!" ucap nya dengan napas yang tersengal-sengal. Leo terkekeh dan membukakan pagar untuk Karel. "Gimana?" tanya Leo yang mendapatkan tatapan sengit dari Karel. "Kok lo diem aja?! bukan nya bantuin ngejer!" "Kan lo udah ngejer," balas Leo santai sambil kembali mendekati kotak itu dan memegang nya. "Gila disaat kaya gini lo masih bisa ngeselin ya! gimana kalo dia terus ngirim kaya gini ke Allea?! kita harus cepet tangkep dia." Leo hanya mengangguk perlahan dan masih menunggu teman satu tim nya untuk menyelidiki pergelangan tangan di kotak itu. "Calon Agent macam apa lo begitu." Karel tidak habis pikir bagaimana bisa calon agent bersikap seperti itu, harusnya kan saling melindungi dan segera menangkap pelaku kejahatan bukan bersikap santai seolah tidak ada apa-apa seperti Leo ini. Leo hanya menaikkan sebelah alis nya menatap Karel. "Lo kaya bukan calon agent tau gak kalo kaya gitu," ucap Karel yang masih kesal karena Leo tidak membantunya mengejar orang itu, dan malah terlihat santai saja. "Emang bukan." "Lah terus lo ngapain disana?!" Karel terkejut dengan jawab Leo. Tidak lama mobil hitam datang dan berhenti di depan rumah Allea. Leo menghampiri mobil itu sambil membawa kotak itu membuat Karel mengerutkan dahi nya. "Siapa?" tanya Karel yang tidak mendapatkan jawaban dari Leo. Leo memberikan kotak itu pada orang yang di dalam mobil itu. "oh hai anak baru," sapa orang yang di dalam mobil melambaikan tangan pada Karel yang masih mengerutkan dahi nya. "Anak baru?" ulang Karel menatap orang yang di dalam mobil itu. "Besok pagi orang itu harus udah di tangkep," ucap Leo pada orang yang di dalam mobil itu. "Iya." "Eh tunggu, Leo lo ngapain ngasih kotak itu?" tanya Karel. "Mau kita selidikin." "Hah?" Karel diam sejenak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. "Leo juga?" tanya Karel lagi. "Iya dong, kan dia pemimpin nya." "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD