Part 43

1533 Words
Yang lain nya menatap Leo yang menghampiri salah satu vas bunga dan mengambil sesuatu dari balik bunga-bunga tiruan yang ada di vas bunga itu. "Lo naro kamera tersembunyi?" sambil menatap Leo antara kagum dan juga curiga, karena bisa saja Leo menggunakan kamera kecil itu sebenarnya untuk terus melihat Allea. Seperti penguntit saja. "Wah Leo pinter juga," sahut yang lainnya karena ternyata Leo sangat memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. "Cek." Leo menyerahkan kamera tersembunyi nya itu pada salah satu agent untuk melihat siapa mereka yang telah melakukan semua ini. "Iya." Agent yang di berikan kamera tersembunyi nya itu segera kembali ke mobil nya untuk mengecek dengan laptop nya di mobil. Leo kembali memerhatikan sekitar, bahkan Leo mengingat bagaimana posisi mayat Bi Inah dangan tangan kanan yang terputus dan juga genangan darah di sekitar tubuh nya. "Tiga menit lagi," ucap salah satu dari mereka yang sambil melihat kearah jam tangan nya. "Ayo keluar." Mereka semua kembali keluar, bersama dengan Leo juga. Mereka tidak mau ketahuan sebagai agent bahkan dengan polisi pun mereka semua berhati-hati. Hanya petinggi di kepolisian saja yang boleh tau siapa mereka. Karena sebagian dari polisi itu tidak menutup kemungkinan juga ada salah satu mata-mata dari mereka, dan juga terkadang mereka juga mau saja di bayar kan. Dan sebagai agen rahasia, identitas mereka sangat lah rahasia dan tidak boleh ada yang mengetahui itu bahkan keluarga sekali pun. "Gimana?" tanya Karel melihat kearah Leo yang berjalan menghampiri dirinya dan juga Allea yang tengah tertidur di bangku mobil. Leo tidak menjawab pertanyaan Karel dan malah melihat kearah Allea yang sudah memejamkan matanya dengan tenang. "Dia tidur, kayanya capek karena nangis terus," ucap Karel mencoba menjelaskan pada Leo. Leo mengangguk saja sambil menggerakkan tangan nya untuk mengatakan pada Karel untuk menyingkir dari samping Allea. "Iya." Karel bangkit dari duduk nya dan pindah ke bangku depan. "Kok mereka pada pergi lagi?" tunjuk Karel pada agent yang telah pergi satu persatu dari rumah Allea. "Polisi." "Apa? lo nyuruh gua telpon polisi?" Kare menatap Leo bingung karena tidak begitu mengerti apa maksud Leo. "Dateng." "Hah?" Tidak lama, hanya selang beberapa detik bunyi suara sirine polisi dan ambulance datang mengalihkan pandangan Karel. "Oh polisi mau dateng." Allea mengulet karena terganggu dengan suara mobil polisi dan ambulance yang datang . Leo mengusap kepala Allea menenangkan agar tidak terganggu dengan suara itu. "Mereka akan tanya-tanyain kita gak ya?" Leo mengangguk menjawab pertanyaan Karel. "Kita harus jawab jujur apa gimana?" Karel menatap Leo yang tidak mengerti bagaimana nanti dirinya harus bersikap di hadapan para polisi. "Sesuai yang terjadi, tanpa mereka tau identitas lo," jawab Leo masih dengan mengusap Allea yang kini bersandar pada d**a nya. "Oh ok." "Permisi, kalian pemilik rumah ini?" "Oh saya teman dari pemilik rumah nya, ini dia pemilik rumah nya," ucap Karel sambil menunjuk Allea yang masih tertidur di pelukan Leo. "Bisa kami minta keterangan nya." Karel menoleh pada Leo yang mengangguk mempercayai Karel untuk menjelaskan semua nya. Mungkin sekarang Leo harus mempercayai teman nya sendiri dan jangan mudah untuk mencurigai orang lain, lagipula sekarang Karel kan berada di pihak nya. *** Sekarang mereka bertiga Leo, Karel dan juga Allea berada di apartemen milik Leo. "Mau makan apa?" tanya Karel sambil memesan makanan melalui ponsel nya. "Apa aja." "Allea?" Tidak ada jawaban dari Allea. Dia hanya diam saja menatap televisi dengan tatapan kosong. Leo yang berada di samping Allea mencoba untuk memanggil nya juga. "Allea." Karel menghela napas, "Allea." Karel menyenggol lengannya. Allea yang tengah terbengong tersentak dan menoleh pada Karel. "Kenapa?" tanya nya. "Mau makan apa?" tanya Karel lagi. "Hmm apa aja," jawab nya dan kembali menatap siaran televisi. "Sama nya." Karel memesan makanan sesuai keinginan nya saja. Lagipula mereka berdua juga akan memakan apa saja kan yang di belikan nya. Leo sibuk dengan ponsel nya bertukar pesan dengan tim nya membahas masalah ini. Dan hal yang di tunggu Leo, siapa yang telah melakukan pembunuhan terhadap bi Inah. Itu yang terpenting bagi Leo saat ini. Beruntung sekali Leo memiliki otak dengan kecerdasan yang luar biasa ini dengan berpikir untuk meletakkan kamera tersembunyi di dalam rumah Allea jadi karena hal yang telah di lakukan Leo itu mereka jadi bisa tau siapa yang telah melakukan nya, walaupun wajah nya tidak terlihat begitu jelas tapi mereka, sebagai agent bisa mengetahui siapa orang itu dengan kecocokan bentuk wajah, tubuh dan tinggi orang itu. "Leo," panggil Karel pelan. Leo menoleh pada Karel dan menatap nya seakan mengatakan 'ada apa?' "Gimana? udah ketemu?" tanya nya dengan suara pelan agar Allea tidak mendengar percakapan mereka. Leo menggeleng. Ya walaupun mereka sudah menemukan orang itu dengan ciri-ciri yang sama dengan keakuratan seratus persen, dan sudah di pastikan kalau mereka sudah mengetahui siapa orang itu. Mereka bertiga yang sudah melakukan pembunuhan bi Inah, mereka semua sekarang tengah dalam masa pencarian. Mereka akan terus di cari di seluruh kota ini, kalau sampai dua hari masih belum menemukan nya, mereka akan memperluas lokasi pencarian sampai keluar kota dan akan terus mencari nya sampai dapat. Para agent nanti akan menghubungi pihak kepolisian kalau mereka sudah tau dimana lokasi para pembunuh itu berada, dan membiarkan pihak kepolisian yang menangkap nya. Setelah itu agent yang berada di kepolisian juga akan menyampaikan informasi yang mereka dapat pada para agent. "Lama ya." Karel menyandarkan tubuh nya pada sofa. Suara bel berbunyi. "Makanan dateng ya." Karel berjalan untuk membukakan pintu dan mengambil pesanan makanan nya. Karel mengerutkan dahi nya bingung ketika dirinya ingin membayar makanan nya tapi malah di tolak. "Makasih." Karel segera menutup pintu dan menghampiri Leo. "Leo, kok yang nganter makanan bukan driver makanan nya? Terus gua juga gak usah bayar katanya," adu nya pada Leo tanpa membuka makanan yang telah mereka pesan, Karel mencurigai takut ada yang tidak beres. "Iya, mereka gak boleh nganter ke kamar kita." Leo membuka makanan nya. "Eh terus masa gak boleh bayar?" "Gua udah bayar." "Oh." Karel mengangguk dan duduk di samping Leo. "Allea, mau makan dimana?" Leo memegang tangan Allea agar menoleh pada nya dan tidak terbengong terus menerus. "Eh? makan di sini aja gak apa-apa?" "Karel, ambil piring," suruh nya pada Karel. Karel menghela napas, "iya iya." Karel berjalan ke belakang untuk mengambil beberapa piring, sendok dan garpu untuk mereka makan di depan sambil menonton televisi. "Nih." Karel menyerahkan nya pada Leo. Leo membuka makanan yang telah di pesankan oleh Karel dan memindahkan nya ke piring. "Makan." Leo memberikan piring yang telah terisi makanan nya itu kepada Allea. "Iya, makasih." Setelah mereka selesai makan, Allea tidur di kamar yang lain nya karena memang apartemen Leo terdapat dua kamar, dan Karel dengan pasrah nya ia tidur di sofa depan. Tapi Karena Karel masih dalam masa pelatihan jadi ia diberikan tugas dari agent untuk melatih kemampuan berpikir nya. Bukan tugas yang sulit, bahkan terlihat sangat sederhana seperti games. Hanya di berikan beberapa puluh poto dan mencoba untuk mengingat nya. Karena tugas itu Karel belum juga tidur hingga dini hari. Sama hal nya dengan Allea yang juga belum tidur di kamar seorang diri. Ia masih terus terpikirkan dengan semua yang terjadi. Ia tidak tau kesalahan apa yang membuat nya sampai sejauh ini, apa orang tua nya yang telah melakukan kesalahan? Allea tidak tau apapun akan hal ini. Tolong siapapun bantu Allea untuk memecahkan teka taki ini semua. Vela bahkan sampai bi Inah yang sudah menemani nya sedari kecil pun ikut terlibat karena hal yang entah Allea melakukan kesalahan apa. Dan secara tiba-tiba Leo yang masuk ke dalam kehidupan nya yang membantu nya melewati ini semua, Allea takut kalau nanti semua teman nya pun terkena masalah karena nya. Apa Allea harus pergi menjauhi mereka semua agar teman dekat nya tidak kembali terkena masalah? Apa Allea harus terus bertahan sampai ia mengetahui penyebab nya dengan sendirinya, atau Allea harus mencari tau nya dengan segera dan membereskan masalah ini sendiri? Apa meninggalkan teman-teman nya jauh itu menjadi pilihan terbaik nya? Tapi saat ini Allea hanya memiliki mereka, bahkan ayah nya pun seakan tidak peduli pada nya. Berikan lah Allea jawaban. "Allea." Allea mengalihkan pandangan nya ke pintu kamar yang di tempati nya itu. "Allea udah tidur?" tanya Leo di luar sambil mengetuk pintu Allea. Allea bangun dan membukakan pintu untuk Leo, walaupun sebenarnya Allea tidak mengunci pintu kamar nya. "kenapa?" "Udah tidur?" Allea menggeleng, "belum." "Nih minum." Leo memberikan segelas s**u pada Allea. Allea menatap gelas berisi s**u itu dengan bingung. "Dulu gua kalo gak bisa tidur, mommy selalu ngasih gua s**u biar bisa tidur katanya," ucap Leo sambil terkekeh pelan. Allea tertawa pelan sambil mengambil segelas s**u itu. "Makasih." "Gua balik ke kamar." "Leo," panggil Allea. "Apa?" Leo menoleh pada Allea. "Makasih." "Iya." "Makasih udah ngasih gua tinggal di sini sementara." "Iya." "Makasih." "Udah minum s**u nya terus tidur. Gelas nya taro aja di meja, taro di dapurnya besok pagi aja," ucap Leo untuk mengakhiri ucapan terima kasih Allea yang seperti nya akan terus berlanjut. Lagipula Leo hanya menjalankan tugas, tidak perlu berterima kasih pada nya kan. "Iya makasih." Leo kembali berjalan menuju kamar nya tanpa membalas ucapan Allea. "Leo dari mana?" tanya Karel yang tengah bersandar pada sofa sambil memainkan ponsel nya. "Dapur," balas Leo singkat. "Besok Allea sekolah gak?" tanya Karel. "Ijin aja." "Gua juga lah," ucap Karel sambil kembali fokus pada ponsel nya. Leo hanya mengangkat bahu nya dan kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD