Part 29

1456 Words
Mereka semua tengah makan malam bersama sambil bercanda sesekali. Kalau ada Verell dan tidak ada lelucon itu sangat lah tidak mungkin. Dimana ada Verell disitu ada lelucon, dan dimana ada Alfi disana ada gelegar tawa yang tak terbendung. "Alfi mah emang receh banget," komentar Vela. "Daripada Leo kek patung." "Iya sih bener." "Tadi lo kemana aja Rel?" tanya Allea. "Ada urusan keluarga," jawab Karel dengan menelan makanan yang telah di kunyah nya. "Malem ini nonton horor yuk," usul Verell. "Ayo," ucap Karel. "Ikut aja gua." "Yaudah." "Leo lo gimana?" Leo mengangguk saja tanpa perlu mengeluarkan suara. Setelah mereka semua makan malam dan sekarang mereka tengah bersiap untuk menonton film horor. Mereka menonton dengan sangat tidak tenang, karena Verell, Alfi serta Vela terus menjerit ketakutan, dan sesekali Allea pun ikut menjerit karena terkejut. Lain hal nya dengan Verell dan Alfi yang sungguhan takut. "AAKKHH SIAPA SIH YANG NGAJAK NONTON GINIAN?!" pekik Verell di sambut dengan lemparan bantal yang di berikan Allea. "Kan lo yang ngajak!" "Tapi gua gak minta film sehoror ini ya." Verell menjadikan bantal yang di lempar oleh Allea tadi sebagai penutup wajah nya. "Ya tetep aja lo yang ngajak nonton horor." "Tau gini gua gak mau nonton horor." "Gara-gara lo ni." Alfi mendorong bahu Verell. "Lah lo ngapa setuju aja,"sahut Verell memukul Alfi dengan bantal yang tengah di peluk nya. "Gua mah kan ngikut aja." "Makanya jadi orang jangan ikut-ikut aja." "Salah lo lah ngajak nonton horor, lo aja takut," sahut Vela yang ikut menyalahkan Verell. "Iya tapi gua gak nyaranin film ini." "Udah sih nonton aja," ujar Karel yang santai saja menonton sambil memakan kue buatan Allea tadi. Leo sama seperti Karel diam saja, karena Leo tau itu hanya film dan semua itu tidak asli. Lagipula hanya hantu, tidak bisa membunuh manusia kan? Adegan hantu muncul secara tiba-tiba membuat mereka kembali menjerit. Allea memeluk Leo yang di samping nya sambil menyembunyikan wajah nya di bahu Leo. "Kesempatan aja lo." Karel menoleh dan melihat Leo yang juga memeluk Allea. Leo diam saja tidak memperdulikan Karel. "Kalo takut gak usah nonton," ucapnya pelan pada Allea sambil mengusap kepala Allea lembut. "Sempet-sempet nya lo ya mesra-mesraan disaat begini." Verell melempar bantal yang di pegang nya tadi pada Leo dan Allea. Leo dengan cepat menangkis bantal itu hingga tidak mengenai Allea. Allea melepaskan pelukan nya pada Leo dengan canggung, "Maaf," ucapnya dengan suara yang pelan. "Iya," balas Leo. "Sini balikin bantal gua," pinta Verell pada Leo. Leo pura-pura tidak mendengar ucapan Verell pada nya dan kembali fokus melihat film yang tengah di tayangkan itu. *** Setelah acara menonton film horor dengan tidak tenang tadi karena berisik dengan teriakan mereka, Allea dan Vela mempersiapkan untuk tidur karena sudah sangat malam. Vela tidur terlentang menatap langit-langit kamar Allea. "Allea," panggil Vela pada Allea yang sedang memunggungi nya. "Apa?" tanya Allea yang membalikkan tubuh nya untuk menghadap teman nya itu. "Kenapa?" Allea membenarkan letak selimut nya hingga sebatas leher nya sambil menatap teman nya itu. "Sebenernya gua udah mau nanya ini dari lama sih." "Iya apa?" "Lo kenapa?" Vela ikut membenarkan letak selimut nya dan juga bantal nya agar lebih nyaman. "Gua kenapa? emang gua kenapa?" tanya Allea bingung dengan pertanyaan Vela pada nya. "Lo beda tau, lo kaya ketakutan terus gitu." Allea tersentak. Allea tidak mengira kalau rasa ketakutan nya karena teror yang di hadapinya itu sampai terlihat, padahal Allea sudah menyembunyikan nya dengan baik. Tapi ternyata Allea gagal untuk menyembunyikan nya. "Ada sesuatu yang gak lo bilang ke gua kan? gak apa-apa kok. Tapi kalo lo mau cerita gua siap kok dengerin nya. Lagipula ngeliat lo menderita sendirian gitu gua merasa gak berguna jadi temen lo tau." Vela terkekeh setelah mengucapkan perkataan nya itu. Allea tertegun mendengar ucapan Vela pada nya. Allea tidak tau kalau teman nya ini sampai berpikir seperti itu, Allea tidak mau mengatakan masalahnya ini pada Vela karena tidak mau teman nya itu akan merasakan juga apa yang dia rasakan ini. Allea tidak mau membuat Vela juga terlibat dalam masalah nya yang ia sendiri tidak tau letak kesalahan nya itu dimana. Semua nya begitu saja terjadi, tanpa persiapan apapun. "Maaf, gua gak mau lo ikut terlibat," ucap Allea. "Gak apa-apa kalo lo belum mau bilang sama gua kok." "Bukan gitu, gua gak mau lo jadi terlibat." "Tapi kan gua temen lo." "Bukan gitu Vela, gua cuma gak mau lo jadi terlibat karena gua. Gua gak mau hidup lo terancam karena gua, gua gak mau lo hidup dengan gak tenang kaya gua. Kalo lo kaya gua di penuhin rasa takut juga nanti siapa yang bakal hibur gua dong." Allea terkekeh untuk mencairkan suasana. Vela perlahan mulai mengerti. Allea tidak mau mengatakan yang sesungguh nya pada dirinya, tapi dengan perkataan nya tadi itu seakan memberitahu kalau hidup nya tidak lah aman. Vela sekarang tau dan mengerti kalau Allea merasa terancam jadi dia tidak mau bilang pada nya karena takut dirinya pun juga terancam. "Maaf gua terkesan maksa buat lo cerita sama gua." "Gak apa-apa, emang harusnya gua bilang, tapi kali ini gak bisa, maaf." "Iya gak apa-apa." "Gua gak mau lo kaya gua juga." Allea mengucapkan nya dengan mata yang berkaca-kaca. Allea tidak mau teman nya ini juga akan merasakan hal yang sama, cukup dia saja. "Iya gua ngerti, udah lo jangan nangis nanti gua jadi pengen nangis juga." "Bodo ah gua nangis aja biar lo nangis juga." "Gak gak gak mau nangis!" Vela menutup wajah nya dengan selimut nya agar tidak melihat Allea yang sudah mengeluarkan air mata nya. "Huuaa hikss... hikss ." Allea sudah menghapus air mata nya dan sekarang berpura-pura menangis histeris. "Allea!" "Huaaa... Velaaaa." "Diem gak!" Vela menutup kedua telinga nya. Allea menahan tawa nya melihat sahabat nya itu. Memang sahabat itu bisa membuat melupakan masalah yang sedang terjadi. Tapi kalau bersahabat malah hanya menimbulkan masalah atau tidak membuat mu tidak bahagia atau senang, itu bukan lah sahabat. Itu hanya kau saja yang menganggap nya sahabat, karena tidak ada teman yang tidak membuat mu bahagia. Seperti contoh kecil, disaat sahabat mu bermain bersama tanpa mengajak mu, itu sudah jelas bukan kalau hanya kau saja yang menganggap kalau kalian bersahabat. Sahabat tidak akan saling melupakan. Kalau sahabat mu melupakan mu hanya ada dua kemungkinan antara hanya kau saja yang menganggap kalian sahabat atau dia mengalami amnesia. "Huuaaaa hikss... hikss Velaa jahat banget huhuu." Allea semakin mengerjai teman nya itu. Padahal sudah jelas Allea tidak menangis dan hanya mengerjai Vela saja. "ALLEAAA!!" "HUUAAA HIKSS... HIKSS..." "ALLEA LO GAK APA-APA?!" Leo mengetuk pintu kamar Allea dengan keras. Vela yang menyembunyikan wajah nya di balik selimut segera membuka nya untuk melihat apa yang terjadi. Vela melihat wajah Allea yang tanpa air mata sedikit pun membasahi pipi nya dan mendengar teriakan serta ketukan pintu yang keras dari luar. "Eh... gua gak apa-apa kok Leo," balas Allea dengan canggung karena membuat Leo panik. Vela tertawa terbahak-bahak karena tau ternyata Allea hanya mengerjai nya tapi ternyata membuat Leo yang diluar sana panik. "Bener gak apa-apa?" tanya Leo lagi. Vela semakin terbahak-bahak. Allea menatap Vela meminta bantuan untuk menjelaskan nya pada Leo kalau dirinya tidak apa-apa. "Sukurin," ucap Vela sambil tertawa. "Gua beneran gak apa-apa Leo." Allea menatap Vela kesal karena ditertawakan. "HAHAHA IYA LEO, ALLEA GAK APA-APA KOK, TADI CUMA BERCANDA DOANG," teriak Vela sambil tertawa. "Kalo ada apa-apa panggil gua." "IYA LEO IYA, ALLEA PASTI PANGGIL LO YANG PERTAMA KALI KOK," ucap Vela sambil mengejek Allea yang masih menatap nya kesal. "Yaudah tidur, udah malem," ucap Leo sebelum meninggalkan kamar Allea. "Ciee di perhatiin banget sama Leo." "Apa sih Vela." Allea memukul Vela dengan bantal nya. "Aduhh." Vela membalas memukul Allea dengan bantal nya. "Duh lupa nanti Leo marah gak ya kalo gua mukul lo gini hahaha." "Vela diem gak!" Mereka berakhir dengan perang bantal sambil saling tertawa bersama. "Kenapa?" tanya Karel yang juga mendengar tangisan Allea tadi. "Gak apa-apa." Leo duduk di sofa yang berbeda dengan Karel sambil membuka ponsel nya. "Lo gak tidur?" tanya Karel. "Belum ngantuk." Karel mengangguk dan kembali fokus pada ponsel nya. Leo melirik Karel sekilas. "Tadi pagi kemana?" tanya Leo. "Urusan keluarga," jawab Karel santai sambil melihat kearah Leo. Leo mengangguk dan kembali terpikirkan tentang kejadian penembakan di sekolah, "gimana menurut lo tentang penembakan di sekolah?" "Menurut gua?" ulang Karel sambil mematikan ponsel nya dan sepenuh nya menatap Leo. Leo mengangguk kan kepala nya. "Menurut gua sih gak mungkin si pelaku ngelakuin ini tanpa alesan." "Menurut lo gimana?" tanya Karel. "Mungkin orang itu cuma random aja," jawab Leo seolah-olah tidak mengerti apa yang telah terjadi dan semua itu hanya kebetulan saja sekolah nya menjadi sasaran penembakan. "Bisa jadi sih," ucap Karel dengan santai. Leo tersenyum tipis. Karel tidak membantah pendapatnya dan memaksakan bahwa pendapatnya yang paling benar juga. Karel juga tidak mengiyakan ucapan nya. Leo berpikir tidak ada salah nya juga memilih nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD