Nala Malam tadi, aku banyak memimpikan Hann. Aku tidak tahu apakah itu wujud keinginanku yang besar tentang dirinya, atau bukan. Kemarinpun demikian, aku masih selalu memimpikan lelaki itu. Sebuah kesalahan yang akhirnya kusadari betul jika aku tidak bisa mengendalikan semua reaksi yang terjadi dalam tubuh. Hormon-hormon itu muncul, diproduksi, dan ada pula yang terhenti. Stimulus-stimulus yang datang pun, risikonya berdampak besar pada perubahan reaksi dalam diriku. Inilah masalahku, makin lama aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku memang terombang-ambing, tapi aku pastikan jika aku tidak tenggelam. Satu-satunya yang kulakukan agar tidak dimanipulasi oleh reaksi j*****m itu adalah dengan cara menghantam dinding kamar dengan tangan kananku. Kulit terluarnya lebam

