Bab 81. Kehamilan Amara "Kakak ipar tidak menyukaiku, d-dia bahkan membentakku," ucapnya sembari mengucurkan air mata. Air mata palsu. "Kenapa kau bilang begitu?" tanya Mia yang tidak percaya begitu saja dengan ucapan putri bungsunya. Selama ini dia mengetahui sisi gelap anak bungsunya itu. Akan tetapi selama ini, dia berpikir itu hanya ucapan penuh iri seorang anak kecil yang tak ingin kasih sayangnya dan suaminya diambil oleh Amara. Makanya dia abaikan begitu saja. "I-iya, dia bahkan melarangku untuk masuk kamarnya lagi," cicitnya sendu. Air matanya masih saja mengalir. Leo memeluk tubuh ringkihnya dengan hangat. Akan tetapi, yang diharapkan Sesil bukanlah pelukan Leo. Dia menginginkan pelukan kakak iparnya. "Anda salah nona muda. Tuan memang tidak pernah membiarkan siapapun memasuki

