11.8

1239 Words

Arifin menarik istrinya mundur ketika pintu di depan mereka dibuka. Punggung tangan istrinya bisa memar kalau dia terus mengetuk. Beruntung putri mereka muncul tepat waktu sebelum kesabarannya habis. “Ma..” panggil Uci pada istrinya dan Arifin terus mengamati si bungsu. Vivi menghambur, memeluk erat putri mereka dan menangis sementara Uci mencoba menenangkan mamanya itu. Uci mengelus punggung Vivi dan terus mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Uci membawa kedua orang tuanya masuk, tidak enak jika mereka mengganggu orang lain. Ia tidak bisa mengelakkan pertemuan kedua orang tuanya dengan Reza. Suasana ketika ketiga orang itu bertemu pandang membuat bulu kuduk Uci berdiri, makanya ia cepat-cepat mengambil tindakan. “Orang tuanya pasti bangga sekali kan, Pa?” tanya Vivi yang tidak ingin men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD