Selepas Zhera mengantar Aswin ke bandara. Zhera menatap punggung Aswin dari jauh, ia masih bisa melihat calon suaminya bersalaman dengan rekan-rekannya yang lain. Semakin jauh, semakin tidak terlihat lagi, ia sudah keluar dari area bandara. “Sudah sejauh mana persiapan kamu sayang?” Namira memberikan perhatian. Ia harus membantu putri semata wayangnya untuk mewujudkan pernikahan impiannya, yang walaupun bukan dengan orang pilihannya, Namira harus membesarkan hati sang putri, supaya tidak merasa dipaksa dengan pilihan ayahnya. “Aku sudah sewa ballroom, alhamdulillah tanggal pernikahan yang di sepakati sesuai dengan jadwal yang aku booking, cathring dan dekorasi juga sudah, langsung dari hotelnya satu paket biar semua cepat selesai,” ia menjawab lemas. Seperti ada hati yang ikut terbang

