chapter 4

1917 Words
fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur berhasil membuat semburat merahnya menelisik masuk kedalam kamar ini. Mataku yang belum terbiasa menerima pancaran sinar sang fajar ini membuat aku mengerjab kerjabkan mata. Sudah pagi lagi? Bukankah baru saja aku tidur? Mataku kembali berpendar. Kini terlihat jelas. Kamar beraksen maskulin dengan segala perabotannya yang berwarna serba hitam dan putih terlihat lebih mendominasi. Aku tahu, pasti ini kamar om. Om apapun itu namanya karena aku sudah lupa dengan nama om yang kini masih tertidur di sampingku. Eh sebentar.. What? Tidur? Satu ranjang dengan ku? Serta merta mataku beralih menatapnya yang sudah terbangun Rrr.. Mata emasnya menatapku dengan seksama. Dan kini aku berhasil blushing. Pipiku kembali terasa panas, dengan keadaan tubuhku yang mendadak salah tingkah. "Kenapa memandang kael seperti itu!" seruku hendak bangkit dari ranjang. Namun, cekalan tangannya yang sangat erat di lenganku membuat aku kembali terhempas ke ranjang. "Apa lagi?" tanyaku memaksa. Namun ia hanya tersenyum dengan wajah yang sexy! Ya aku sadar akan hal itu! Om yang tidak ku ketahui namanya ini memang sangat hot uncle! Apalagi saat malam tadi? O_o "Kenapa kau blushing?" tanyanya dengan suara serak. Khas khas orang bangun! Aku tahu itu "Tidak!" seruku dengan menggelengkan kepala. Namun bukan lah bandot tua, jika ia tidak kembali bertanya. "Mana mungkin tidak, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu kan!" tuduhnya. Itu membuat harga diri occeana tergores! "Mana mungkin aku mempunyai fikiran itu! Ah sudahlah berbicara dengan om tidak akan ada faedahnya!" jeritku. Tanganku sudah berhasil mendorong dadanya agar segera menyingkir. Sementara aku segera bangkit, dan orang itu tertawa. "Aku tahu itu koala!" cicitnya yang berhasil menghentikan langkahku. "Semerdeka mu saja om!" sontak tawanya kembali meledak-ledak di pagi ini. .. Tok.. Tok.. Tok.. Entah sudah keberapa kalinya, diluar sana seseorang dengan semangat mengetuk-ketuk pintu toilet. "Ada apa lagi sih om!" jeritku dari dalam sini. Aku tahu! Ya aku tahu. Astaga! "Are you okay?" tanyanya. Aku tahu, didalam suaranya aku mendapatkan sesuatu yang menenangkan. Seperti rasa cemas, ehh? "Bukakan pintunya." pintanya. Yatuhan! Mana mungkin!! "Are you crazy! Aku tidak akan membukakannya!" jeritku. Demi apapun, di dalam sini tidak ada pakaian atau handuk yang bisa aku kenakan! Ceroboh! Aku lupa jika kamar dan toilet ini bukan berada didalam rumahku! "Apa ada kesulitan?" tanyanya Aku harus menjawab apa? "A-aaku" "Bukalah, aku sudah membawakanmu handuk" ucapnya dari luar. Huuufft.. Untung saja dia peka! Aku sedikit membuka pintunya, segera aku Menyembulkan kepala dan merebut handuknya. "Kenapa om bisa tahu tentang apa yang aku butuhkan?" tanyaku saat tubuh ini sudah kembali terbalut dengan kain kimono putih entah milik siapa. "Aku tahu! Karena handuk itu masih berada di tempatnya." jawab om sembari pergi begitu saja. Masa bodoh dengannya! Aku segera memakai pakaian lengkap ku, sembari mengatur tempat untuk semua pakaianku di almari. Ya, aku berbagi almari dengan om. Satu lemari besar itu aku isikan dengan sebagian pakaianku. "Ini kamarku!" ucap si om yang baru kembali muncul setelah tadi ia masuk kedalam toilet. "Untuk detik ini dan selanjutnya, kamar ini milikku!" jawabku segera keluar dari kamar dan bergegas ke dapur. Siapa tahu ada yang bisa aku makan. "Masih ada satu kamar di penthouse ini, bocah" susulnya. Aku melihat kearahnya, ia sudah terlihat lebih santai dari hari sebelumnya. Dengan atasan t-shirt dan celana jeans pendek om itu kembali duduk menghadapku yang sedang menikmati segelas s**u coklat kesukaanku. "Aku tidak mau!" Ia mengeryit, "why?" tanyanya "Aku tidak mau kuman di tubuh jalang yang om bawa bertebaran di ranjang dan kamar itu" sontak ia melotot dan binggow. "Mana mungkin!" elaknya "Mungkin saja!" "Lalu? Aku akan tidur dimana?" "Di kamar itu atau tidak di soffa? Masih bisa." jelasku membuatnya kembali terbelalak. "Tidak mau!" jawabnya. "Yasudah, itu bukan urusanku!" ucapku lagi. Dan saat ini, aku kembali menyantap beberapa helai roti. Sedangkan si om itu? Wajahnya masih memberenggut kesal. Masa bodoh dengannya! ... Satu minggu sudah aku hidup berdua dengan lelaki yang kini aku ketahui namanya. Zhio, ya! Anzhio lucester. Pria lajang berumur 29 tahun. Kami masih sulit untuk bisa akur, om itu selalu membuat aku marah, kesal dan menggrutu disepanjang hari. Wajahnya yang maskulin tidak seperti kelakuannya yang seperti orang GILA! Jika sedang berada di rumah. Jujur, dia itu ngeselin, wajahnya aja yang sok galak, tapi bawelnya melebihi mama dominick. Astaga! "Om! Yatuhaan!!" jeritku saat mendapati dirinya berkeliling penthouse ini dalam keadaan telanjang d**a dan hanya memakai sebuah boxer ketat berlabelkan Calvin klein. Serta merta aku menutup mataku, tidak! Mana mungkin aku memandangi pria gila setengah naked ini? Walaupuun aku udah pernah mandangin tubuhnya yang lain juga sih tapi? "Apa?!" 'Apa' katanya? "KENAPA KAU BERTELANJANG BEGITU?!" sontak aku menjerit lagi. Namun dirinya? Masa bodoh dengan telinganya jika ia benar benar akan tuli karenaku. "Mulutmu seperti suara mercon, telingaku sakit" "Aku tidak peduli!" "Apa kau baru pertama kali melihat tubuh pria dewasa?" goda om zhio, aku sedikit terbelalak. Mana mungkin papa mengizinkan aku untuk melihat tubuh pria dewasa?! Dia Gila! "Sore ini teman wanitaku akan berkunjung" "Mengunjungimu?" tanyaku balik. Terus? Apa hubungannya dengan aku? "Ya.." "Whatever! Aku tidak peduli" ucapku kembali mengabaikannya Ia kemudian berlalu kearah dapur dan kembali lagi dengan membawa segelas air putih. Tingtong! "Akhirnya.." ujarnya. Sebenarnya aku sedikit ingin tahu tentang teman wanitanya itu. Tapi? Gengsi dong! "Tolong bukakan pintunya" apa? Ia menyuruhku? Dasar! Tua bangka!! "Kau saja yang membukanya!" "Cepatlah koala!" "Aku tidak mau!" "Ayolah aku sudah Pewe" hah? "Pewe p****t lo! Gue nggak mau om!" elak-ku yang langsung menatapnya sinis dan di balas oleh kekehan dari om zhio. Om zhio bangkit dari duduknya. Aku dengar dari sini om zhio sedang berbincang dengan seorang wanita. Yaa aku tahu Paling tidak, itu jalang atau memang benar teman.. Ya kali teman biasa, mungkin itu teman kencannya. Dia dan temannya sudah kembali masuk kedalam apartemenn. Saat aku melihat mereka? Astaga! Ya tuhaan.. Mataku sudah kembali ternodaaaai!!! Huaaa mata dedek kael ternodzaa papi!! Wanita sexy, pakaian senada dengan lipstiknya bahkan sangaat sangaat berhasil membuat mata manapun akan tergoda! Cantik sih! Tapi terlalu di obral! Payudaranya tumpah tumpah, ya tuhan! "Heh! Lap ilermu, sampe menetes netes gitu" eh? Refleks aku mengelap iler yang di kata om zhio, Tapi? Apa yang aku dapatkan? hahahaha.. Sebuah tawa dan juga kekehan dari tante itu-_- "Ko ketawa sih!" ujarku. Mereka masih saja tertawa kemudian saling berpandangan. Tatap aja terus sampai mata kalian aku colok! "Dia siapa?" tanya tante itu. "Oh.. Dia anak pembantu yang lagi pulang kampung" What! Omm tengiiilll!!! Aku langsung saja berdiri dan melompat kearah mereka. "Perkenalkan tante! Aku keponakannya!" seruku sembari mengulurkan tangan. Namun tante itu hanya mengeryit dan kembali menatap om zhio. Syaaalaan! "Ihh tante sombong amat!" seruku yang langsung merebut tangan kanannya untuk aku jabat. "Nama tante siapa?" tanyaku memaksa. "Ming xio" jawabnya Apa? "Owhh mingkio, aku kylie" ucapku seenaknya. "Ming xio" ralatnya "Iyaa mingkio" "Bukan, tapi mingXio" "Sama aja tan" "Beda, namaku ming xio, pakai x bukan pakai k" -_- huuufftt... ini tante maksa amat! "Yaa tan yaa.. Tante mingki" Dia kembali tersenyum tapi di paksakan, kemudian kembali berbalik kearah om zhio. "Sudah jangan ladeni dia, anak itu memang sedikit" tangan om zhio sudah bergerak mengisyaratkan bahwa aku GILA! dan dia lebih GILA daripada aku. awas ya om! Tunggu pembalasakan dariku! bakalan aku kerjain! Runtukku dengan berbagai strategi cantik yang sudah bersarang di kepala. .... "Zhio, aku ke apartemen hari ini ya?" seru seseorang yang berada di ujung sana. "aku sedang malas untuk menerima tamu" balas sarkastik dari zhio. suara itu sejenak terdiam, namun kembali berbicara lagi. "Aku hanya ingin memberikan file yang sore kemarin terbawa olehku" keras kepala. "Terserahmu saja" jawab zhio. Sebenarnya, hari ini ia hanya ingin menggoda kylie a.k.a keponakan yang baru datang itu, ia ingin mendengar suara dan jeritan kylie. Tapi, sepertinya hari ini akan gagal karena kedatangan seseorang itu. Percayalah, kalian masih ingatkan frame semalam? Saat zhio sedang bercinta? Sebenarnya zhio tidak mabuk, dia hanya berpura-pura mabuk dan membiarkan jalangnya menguras semua isi dompetnya. Karena yang zhio tahu, terdapat seseorang yang sedang mengintip di balik pintu. Demi tuhan ia melihat jelas bagaimana bayangan kepala bocah kecil itu. Maka dari itu, setelah ia berhasil pada puncaknya. Ia membiarkan sesuatu yang akan terjadi dan membiarkannya untuk terjadi.. Dan benar saja. Kylie datang mencak mencak dengan mengaku ngaku sebagai istrinya, mengambil kembali hasil curian jalang itu kemudian mengusirnya. Bocah galak, tengil, dan sayangnya ia terlalu cantik dan manis. Hingga zhio harus mengatur rencana apa saja yang bisa membuat bocah tengil itu kembali menjadi bocah manis. Setiba di dalam ruang kerja zhio, zhio langsung saja membuka laptopnya untuk kembali bekerja, walaupun tubuhnya hanya di balut oleh kain calvin klein saja. "Tidak akan mengganti pakaian eh?" ujar ming xio Namun sama sekali tidak di dengarkan oleh zhio. Zhio masih saja berkutik dengan laptopnya daripada mendengarkan ming yang sedang berbicara panjang lebar. "Ihh zhio! Sedaritadi aku berbicara kau tidak mendengarkannya?" renggek ming. Zhio sudah pusing. "Aku pusing, pagi pagi seperti ini kau datang, memberiku pekerjaan sekaligus harus mendengarkan ocehanmu?" "Kau menyusahkan, lebih baik pulang dan cari saja orang yang bisa mendengarkan semua ocehanmu" Zhio sudah mengamuk, ia bangkit dan langsung menghadap kearah jendela ruangannya. Tiba tiba sebuah tangan mendekap hangat tubuh zhio. "Maafkan aku, aku hanya ingin kau menjadi pendengar yang baik". "Dan itu bukanlah aku!" desis zhio sinis. "Apa kau menginginkan berada di ranjang?" tawar ming. "Tidak ming, aku sedang tidak fokus" tolak zhio, ia berbalik untuk bisa melihat wajah sahabatnya a.k.a ming ini. "Kenapa? Apa karena gadis itu?" tanyanya. Bukan! "Bukan, ini karena kau sahabatku sendiri" semburat kekecewaan telah tergambar di wajah ming. "Hanya itu?" Zhio mengangguk. "Bahkan aku menganggapmu lebih dari itu" jujur ming. Ming xio, wanita keturunan seoul ini sudah berteman lama dengan zhio dan itu hampir 5 tahun berjalan. Namun, mereka memang pure berteman, tidak tidak, itu menurut opsi dari zhio saja, mungkin beda lagi jika menurut ming sendiri. "Kau tidak ingin pulang?" tawar zhio sedikit mengusir. "Kau sama sekali tidak merindukanku?" jawaban dari ming sangat bertolak belakang dengan pertanyaan zhio. "Sebaiknya ppphhuufft.." bibir zhio sudah keburu tersumpal oleh ciuman yang diberikan oleh ming. Ming memaksa agar zhio mau membalas lumatannya, dan juga ia mengalungkan tangannya di leher zhio sedangkan kakinya sudah membelit pinggang Zhio. Setelah itu hanya mereka berdua yang tahu Karena, sesungguhnya zhio tidak pernah bisa menolak ajakan dari seorang ming xio. . "Bye, aku pulang ya!" seru ming setelah bercipika cipiki kembali dengan zhio di depan pintu keluar apartemennya. Sementara dari sofa kylie tidak beranjak sama sekali. Hari sudah semakin sore, dan mereka baru saja keluar dari ruangan itu. Demi tuhan, setengah mati kylie sangat penasaran. Namun ia tetap saja diam, dengan akal liciknya ia segera bangkit berjalan kearah kamar mereka dan melihat jika zhio juga ikut masuk kedalam kamar. "Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya zhio sarkastik. Namun yang di lakukan kylie hanya mengangkat bahunya setelah itu duduk di atas ranjang. "Baiklah, tolong keluar. Aku akan mandi dan tolong siapkan juga makan malam." titah dari zhio. Serta merta mata kael melotot. "Baiklah" "Aku akan membuatkan makan malam. Bye!" Cup! Satu kecupan mendarat di pipi zhio. Rasa bergejolak dari dalam diri zhio membuatnya setengah mati panas dingin. seakan akan kylie sedang berusaha mencoba untuk membangunkan juniornya. Lagi. Bahkan itu hanya kecupan di pipi. Dengan perlahan tapi pasti, kylie mendorong zhio untuk masuk kedalam toilet. Dan Klek! Suara saklar lampu yang di matikan terdengar, membuat zhio terperanjat. Namun tidak sampai situ. Duaarr!! Duarr!! Duaarr!! Suara berbagai petasan dan mercon sudah saling bersautan disana. Zhio yang terperanjat refleks menjerit dan mencoba membukakan pintunya. Aaaaa shiitt! Siaaal! Bocaah nakal keluarkan aku!!! "Hahaha rasakan itu om tampan ku!" gumam kylie sembari mencoba menahan tawanya yang meledak-ledak. ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD