Terdengar kumandang adzan subuh, Hasbiya melihat sisi samping ranjangnya yang tidak terdapat Arvi disana.
Setelah mandi, ia ingin mencari Arvino. Dengan menebak-nebak jika Arvino berada di ruang kerjanya.
Sejujurnya ia merasa sedikit takut, ia perlahan membuka pintu yang tertutup rapat. Hasbiya melihat Arvino sedang tertidur pulas di sofa.
Ia mengendap seperti pencuri mendekati Arvi lalu berjongkok. "Tuan, bangun udah subuh." Ucap pelan Hasbiya didaun telinga pria tersebut.
Bukannya terbangun, Arvi hanya menggeliat tubuhnya.
"Tuan, saatnya sholat subuh. Bangun." Wajah Hasbiya sangat dekat dengan wajah Arvi seraya menggoyang pelan tubuh pria itu.
"Hmm."
"Tuan, bangun." Hasbiya menggoyang kembali tubuh Arvi.
"Ya Tuhan.. Hasbiya. Ini masih pagi kenapa kau membangunkanku." Arvino mengusap kasar wajahnya.
Deg..
Setelah penuturannya itu, Jarak Arvino dan Hasbiya semakin dekat. Hidung mereka saling bertemu. Arvi dapat mengendus harum tubuh Hasbiya.
Dia lelaki siapa saja bisa tergoda. Ingin sekali dia mencium bibir Hasbiya yang tampak basah. Jika saja tidak mengingat Lintang, tentu saja Arvi tidak akan tahan goda dihadapannya sekarang.
Begitu juga dengan Hasbiya nafasnya tersengal-sengal menahan gejolak didadanya. Ada suatu yang tak biasa dirasakannya.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
'Ah.. kenapa Hasbiya menawan seperti ini.' gumam Arvi dalam hati seraya menelan salivanya.
Arvino bangkit menghindari perasaannya. "Hasbiya, Kenapa kau membangunkanku."
"Ma-ma--aaf, Tu--an." Gugup Hasbiya terjeda sejenak menghembus nafasnya. "Tuan, aku ingin mengajak sholat subuh."
Arvino terbelalak matanya, 'sholat subuh' ah yang benar saja, ia bahkan mungkin lupa caranya seperti apa.
"Tuan, Ayo sholat." Ajak Hasbiya kembali.
"Hasbiya, aku lupa caranya." Arvi memijit dahinya yang tak sakit.
"Astagfirullah... Tuan, lupa."
"Hasbiya berhenti memanggilku tuan." Sergah Arvi.
Hasbiya cemberut mendengar penuturan Arvino barusan. "Lalu saya harus memanggil apa."
"Nanti akan kupikirkan." Seru Arvino lalu pergi meninggalkan Hasbiya.
Arvino merasa malu pada Hasbiya, sebagai pria dia tak sholat. Malu sekali bukan..!!!
"Tuan, jadi sholat." Gumam Hasbiya.
Arvino tak menjawab.
"Tuan, kenapa tidak menjawab."
"Dosa tau enggak sholat, apalagi tuan punya istri. Dosa Saya jadi dosa tuan."
Arvino seakan menulikan telinganya. Ia masuk kekamarnya lalu kembali tidur. Ia mengeletakkan tubuh dengan posisi telungkup.
"Astaga, Tuan... Sholat itu lebih baik daripada tidur." Hasbiya menggoyang tubuh Arvino.
"Hasbiya, berisik. Sholat sendiri sana." Arvi menutup wajahnya dengan bantal.
Hasbiya menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan kuat. Ia berpikir suatu hari akan membuat pria dihadapannya ini akan sholat bersamanya kelak.
***
Setelah selesai sholat, Hasbiya menyiapkan sarapan pagi untuk Arvino. Nasi goreng udang seperti biasa yang dibuat di kampung.
"Non, bibi bantu ya." Ucap Bibi Siti.
"Jangan.. Saya bisa sendiri. Bibi kerjakan yang lain saja." Pinta Hasbiya seraya memotong sayur yang ingin disiapkan.
"Baik, non." Ucap Bibi Siti dengan kagum.
Tak lama kemudian Lintang datang dengan kopernya. Ia menatap Hasbiya yang sedang menata meja makan tersebut.
"Bi Siti." Panggil Lintang dengan suara nyaringnya.
"Iya, non. Butuh suatu." Tanya Bibi Siti.
"Siapa dia." Lintang mendongkakan wajahnya pada Hasbiya.
Sedangkan Hasbiya sendiri tampak masih sibuk tanpa melihat kehadiran Lintang.
"Pembantu baru." Celetuk Lintang menghampiri Hasbiya.
Hasbiya menoleh memandang Lintang yang dengan tubuh eloknya. "Bukan, mba. Pasti mba Lintang ya."
"Lalu." Lintang mendarat bokongnya di kursi seraya menyesap air putih.
"Saya istri tuan Arvino." Jujur Hasbiya membuat Lintang menyemburkan air yang diminumnya.
Untung saja tidak terkena sama sekali pada Hasbiya. Betapa polos Hasbiya, ia mengira jika wanita di hadapannya ini. Saudara Arvino.
Oh Tidak..!! Seandainya Hasbiya tau, entah bagaimana reaksinya.
"Apa." Teriak Lintang kaget. "Istri katamu, apa kau waras." Lintang bangkit dari duduknya.
"Maksud mba Lintang apa." Hasbiya mengkerut bingung.
"Kau bodoh atau apa. Aku ini istri sah Arvino Anggaro." Sergah Lintang melotot pada Hasbiya.
Hasbiya tentu tak kalah terkejutnya. Dia tersentak, ia tak percaya jika kini telah menjadi istri kedua Arvino.
"Arvino." Teriak Lintang.
"Arvi." Panggil lagi dengan suara kerasnya.
Arvino sangat mengenal suara beo siapa di pagi hari ini. Ia pergi keluar kamarnya menatap Lintang dengan marah padanya.
"Ada apa." Ketus Arvi.
"Siapa wanita sialan ini." Ucap Lintang penuh tekanan seraya menunjuk Hasbiya.
"Istri kedua ku." Kontan Arvi tanpa wajah bersalah apa pun.
"Apa kau tak waras. Aku masih istrimu." Timpal Lintang mendorong d**a Arvi yang bidang.
"Ya.. aku tau. Aku telah membuktikan, aku bisa mendapatkan lebih darimu." Jawab Arvino.
Hasbiya menjadi merasa bersalah. Ia berpikir akan menjadi satu-satu istri Arvino. Tapi ternyata.. pikiran itu salah.
Sekarang dirinya mengerti, Kenapa Arvino menginginkan pernikahan ini. Kenapa Arvino seakan terburu-buru menikahinya.
Sungguh Hasbiya tidak menginginkan menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan ini.
PLAK..
Satu tamparan dari Lintang mendarat dipipi Arvino. Lintang semakin marah dibuat Arvino.
"Jadi kau menikah wanita berjilbab ini. Hanya ingin membuktikan dia lebih baik dariku." Bentak Lintang.
"Lintang, kau benar-benar tidak pernah menghargaiku sebagai suami. Aku muak!!"
"Hasbiya, sarapanku tolong di bekali. Aku malas sarapan disini." Ucapnya seolah menyindir Lintang.
Arvino sangat menggeram mendapat tamparan dari Lintang. Tidak pikir panjang setelah itu Arvino menarik tangan Hasbiya menuju mobil.
Tentunya Hasbiya digelisahi dengan tanda tanya menyelimuti dirinya. Ia merasa butuh penjelasan.
Tapi melihat sikap Arvi, ia sungkan untuk meminta penjelasan. Dirinya tak bicara sepatah kata.
Arvino juga sebaliknya, ia tidak bicara apapun. Hanya keheningan yang terjadi pada kedua orang itu diperjalanan ke kantor.
Sesampainya dikantor Hasbiya terlebih dahulu turun dengan wajah kesalnya. Wajah saja, seandainya Arvino lebih dulu mengatakan sebenarnya, sudah pasti Hasbiya tidak merasa bersalah pada Lintang.
'Kenapa aku jadi orang ketiga, kenapa aku menjadi perusak.' pikir Hasbiya dengan gusar.
Ia duduk termenung dengan pikirannya yang menggerutu pada nasibnya, tapi dirinya tak bisa menyalahkan takdir.
Ini sudah ketentuan Tuhan semesta alam, tentu keingin-Nya.
"Hasbiya, keruangan saya sekarang..!!" Perintah Arvi berhenti sejenak lalu masuk keruangannya.
Hasbiya menghela nafas panjangnya, ia tanpa mengetuk pintu, kontan saja masuk ruangan Arvi.
"Tuan.. ada apa." Ketus Hasbiya.
Seakan mengetahui sikap Hasbiya, Arvi bangkit merengkuh kedua lengan Hasbiya.
"Aku bisa jelaskan."
"Tidak usah, tuan." Hasbiya menepis tangan Arvi.
Mungkin Hasbiya masih kecewa, merasa dibohongi pasti. Itu yang membuat Hasbiya tak mudah kembali bersikap baik.
"Hasbiya, aku mohon dengarkan dulu." Mohon Arvi.
"Tuan, ini kantor sebaiknya bicarakan prihal pekerjaan saja." Ujar Hasbiya memalingkan wajahnya.
"Hasbiya, kenapa kau keras kepala." Cerca Arvi mengusap wajahnya.
"Saya ti---"
"Permisi, maaf ganggu." Ibrahim datang tiba-tiba membuat wajah keduanya berubah.
"Masuk, bra." Arvi kembali mendarat kursi kebesarannya. "Ada apa."
Hasbiya pun kembali keluar mejanya ketika Ibrahim datang keruangan Arvino. Ia tak mau berlama berhadapan Arvi membuatnya semakin marah.
"Ar, untuk beberapa hari kita proyek di bandung. Jadi mungkin kita harus kesana." Seru Ibrahim.
"Baik, siap kan aja. Siapa aja yang pergi." Tanya Arvino.
"Kamu, aku, Anisa dan tentunya sekretaris kamu juga ikut." Jawab Ibrahim.
***