Sena bertanya ke ayah mertuanya. "Apakah ayah tahu, pekerjaan apa yang diberikan Adrian? Supaya saya bisa mempersiapkannya dengan baik."
Ayah Ducan melirik sekilas Ducan lalu menjelaskan pada Sena. "Kata Adrian, bekerja sebagai admin di gudang. Kamu tidak masalah 'kan?"
Ducan terbelalak ngeri begitu mendengar jawaban sang ayah. "Ayah, apakah aku tidak salah dengar? Sena akan bekerja di gudang? Yang benar saja!"
Ayah Ducan mengerutkan kening. "Ducan, ada apa?"
"Ayah, apakah tidak malu punya menantu yang bekerja sebagai admin gudang? Berapa gaji yang akan dia terima?"
Natasha ikut memanasi Ducan. "Mungkin karena dia tidak puas diberikan uang banyak, jadinya kurang dan-"
Sena meletakan sendok dan garpu dengan kasar di atas meja dan menatap lurus sang suami seolah menantangnya. "Apa yang kamu inginkan?"
"Apa?" Tanya Ducan tidak mengerti.
"Selama kita menikah, aku tidak pernah mengeluh jumlah uang yang kamu berikan kepadaku, meskipun tidak bisa mencukup kebutuhan harianku. Kamu berikan perhiasan seolah kewajiban untukku, padahal bukan perhiasan yang aku inginkan.
"Jika kamu merasa aku tidak bisa menjadi istri yang baik, aku minta maaf, tapi satu hal yang harus kamu pahami, aku tidak pernah ikut campur urusan cinta dengan berbagai wanita.
"Anggap saja aku bukan wanita yang kamu idamkan, aku tutup mata dan telinga semua perbuatan kamu. Aku tidak merengek dan selalu mengalah untuk para kekasih kamu, sekarang aku minta pekerjaan dan mendapatkannya malah kamu tidak setuju?"
Ducan hendak mengatakan sesuatu lalu terdiam ketika Sena mengangkat tangannya.
"Sekarang aku akan menuruti semua perkataan kamu, tapi dengan syarat kita bercerai." Lanjut Sena.
Ayah Ducan meletakan gelas di atas meja dengan kasar. "Tidak ada perceraian di antara kalian!"
Natasha yang awalnya sudah berharap dan senang mendengar permintaan Sena, menjadi kecewa.
Ducan menepuk tangannya di bawah meja untuk menghibur.
Sena menangkap perilaku mereka dan berkomentar. "Jika tidak ada perceraian, saya ingin bekerja. Ayah."
Ayah Ducan mengangguk. "Ayah tidak akan melarang, lakukan sesuka hati kamu selama tidak melanggar aturan rumah."
Sena kembali melanjutkan makan, dia tidak ingin mengalami kelaparan seperti dulu lagi hanya demi seorang pria tidak tahu diri.
Ducan tidak berani membantah perintah ayahnya lagi dan menatap tidak suka istri pilihan ayahnya.
Sena yang menangkap tatapan suaminya, tersenyum cerah. "Ada apa?"
Ducan mengalihkan tatapan dan kembali makan.
Natasha mengikuti Ducan.
Sena tahu ayah mertuanya tidak mendukung perceraian karena malu dengan pendapat orang lain jika putranya memiliki sejarah cerai, jika dia mau berpikiran buruk, mungkin saja ayah mertua jauh lebih rela membayar orang untuk membunuh dirinya daripada harus membuang uang untuk perceraian.
Sena tahu harga diri orang kaya lama, dia tidak ingin menyinggung mereka. Hanya saja untuk lepas dari cengkraman mereka juga sulit karena orang tuanya menerima sejumlah uang untuk membeli dirinya.
Satu-satunya cara yang terbaik memang melanjutkan hidup dan meningkatkan kualitas diri.
Setelah makan malam selesai, ayah Ducan pergi ke kamarnya. Ruang makan tinggal ada Sena, Ducan dan Natasha.
Natasha melempar tatapan mengejek ke Sena. "Apakah kamu tidak tahu malu? Jelas-jelas suami kamu sudah tidak suka, masih saja ngotot ingin bersama."
Sena tidak menanggapi dan justru bicara ke Ducan. "Aku kira suami selingkuh itu mencari wanita yang lebih hebat dari istrinya, mengingat suami suka mencari kesalahan dan kekurangan para istri, tapi ternyata pasangan barunya tidak lebih hebat dari aku."
Natasha tertawa mengejek dan menepuk pundak Ducan. "Sayang, coba dengar perkataannya, seolah dia lebih hebat dari aku. Padahal kerjaannya hanya ada di rumah dan menghabiskan uang."
"Menghabiskan uang? Apakah kamu tidak dengar tadi perkataan ayah mertua tentang bagaimana suami aku sendiri menghabiskan uang untuk wanita lain?"
Natasha lupa dan menutupi kesalahannya. "Tidak tahu, aku tidak mendengar perkataan ayah mertua."
Sena menggeleng kasihan.
Ducan mendengus kesal ke Sena lalu kembali melanjutkan makan dengan lahap, emosinya sudah terkuras habis hingga berubah menjadi lapar.
Sena tidak terpengaruh dengan ejekan Natasha. "Wanita yang lebih hebat tahu batasan, berbeda dengan seseorang yang mendekati suami orang demi uang dan ketenaran. Apakah kamu sudah menghubungi keluarga karena berhasil memenangkan hati suami orang? Apa tanggapan mereka? Senang karena menjadi orang kaya baru?
Natasha menjadi marah. "Kamu- padahal sudah dijual keluarga sendiri, sekarang masih bisa bertindak sombong?!"
"Aku boleh bertindak sombong karena istri sah Ducan, masalah dijual- setidaknya orang tua menjual untuk dijadikan istri pria kaya, bukan menjual aku ke berbagai macam pria hidung belang." Sena tersenyum ke Natasha. "Bukankah kamu sekretaris? Harusnya paham dong, ya. Oh, iya aku lupa. Kamu kan hanya peduli dengan s**********n atasan jadi otaknya tidak terpakai, ilmu pun terbuang sia-sia."
Natasha menggoyang tangan Ducan. "Sayang, kamu dengar. Dia sudah menghinaku, kamu tidak kesal? Aku kesal mendengarnya."
Ducan yang kesal, menyiram air ke Natasha. "Aku jadi tidak mood makan gara-gara kamu!"
Sena tertawa kecil.
Natasha melotot marah dan cemberut.
Ducan pergi meninggalkan ruang makan tanpa mengucapkan apa pun.
Empat pelayan pria masuk ke dalam ruang makan, berjaga di belakang Sena dan Natasha.
"Satu hal yang harus kamu pelajari sebelum merasa berhasil merebut suami orang lain hanya karena malas bekerja dan demi hidup mewah." Sena sudah selesai makan dan mengusap bibir dengan napkin.
Natasha yang berusaha mengeringkan badannya dengan lap, mengangkat kepala dan menatap lurus Sena.
"Pria tidak suka jika sedang melakukan aktifitas yang disukai, diganggu. Ducan sangat suka makan, mau dia nangis ataupun marah, emosi yang terkuras pasti pelariannya makan."
Natasha hendak mengambil gelas berisi air untuk dilempar ke Sena, tangannya tidak bisa bergerak karena ditahan satu pelayan pria di belakangnya.
Natasha berusaha berontak. "LEPASKAN!"
"Satu lagi yang harus kamu pelajari, Natasha." Sena bangkit dari kursi dengan bantuan dua pelayan pria di belakangnya. "Wanita yang suka menjual tubuhnya ke banyak pria, tidak akan pernah dihargai oleh pria manapun."
Natasha menjerit marah, berusaha berontak dari cengkraman dua pelayan di belakangnya.
Ketika Sena keluar dari ruangan, dia melihat Adrian sudah berdiri menunggunya.
Pikiran Sena bergerak cepat lalu tertawa kecil. "Apakah semuanya ulah kamu?"
Adrian tersenyum kecil. "Ketahuan?"
"Tidak, terima kasih. Jika tidak ada para pelayan, aku pasti akan bernasib sama dengan wanita itu."
"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, nyonya."
Kedua mata Sena mengedip bingung. "Hah?"
Adrian menarik lembut tangan kanan Sena dan mencium punggung tangannya. "Selamat berjuang, nyonya."
Sena menarik tangannya dan menatap bingung Adrian.
Adrian tersenyum nakal lalu jalan melewati Sena yang kebingungan.