PELAKOR BERAKSI II

990 Words
Sebelum kepala pelayan berhasil menarik mereka berdua, Sella dan Natasha saling mendorong lalu menjatuhkan barang-barang di atas meja. Saat Sela berhasil lepas, Natasha melempar barang-barang yang ada dalam jangkauannya ke arah Sella. Sella berusaha menghindar dan membalas Natasha sambil menjerit marah. Mereka berdua mengacaukan seisi ruangan, mengabaikan teriakan para pelayan yang berusaha melerai mereka. "AKU ISTRI TUAN MUDA KALIAN! JANGAN HALANGI AKU!" teriak Natasha. Sella melakukan hal sama. "AKU ADIK SENA, ISTRI SAH TUAN MUDA KALIAN! JANGAN HENTIKAN AKU MENGHADAPI WANITA TIDAK TAHU DIRI INI!" Natasha dan Sella sama-sama tidak mau saling mengalah hingga lelah dan mulai menyadari kesalahan mereka. Para pelayan hanya berdiri mengawasi mereka, memang ada barang-barang yang bisa diselamatkan tapi tidak banyak, semuanya hancur karena ulah dua wanita simpanan tuan muda mereka. Kepala pelayan melirik kamera pengawas dan menyuruh salah satu pelayan untuk mengamankan rekaman, tidak mau Ducan mencuri rekaman ini terlebih dahulu lalu menyalahkan para pelayan yang dianggap tidak bisa bekerja. Natasha terisak lalu menghubungi Ducan, namun tidak bisa diangkat. Sella juga berusaha menghubungi Sena, namun tidak bisa diangkat. Keadaan mereka berdua sama-sama berantakan dan menyedihkan. Sena yang memutuskan pulang ke rumah untuk makan siang dan melihat sebentar barang-barangnya, terkejut. Ducan yang pulang ke rumah untuk ganti baju, juga terkejut melihat kekacauan di dalam rumah. "Apa-apaan ini?" Natasha dan Sella berdiri lalu berlari ke arah Ducan untuk meminta perlindungan, mereka berdua melewati Sena dan saling tunjuk satu sama lain. "Kakak ipar, percayalah. Bukan aku yang melakukan semuanya, ini gara-gara dia yang tiba-tiba menyerang aku!" "Kamu sendiri yang mulai buat masalah dan mengarahkan tubuhku ke barang pecah belah, aku tahu kamu ingin melukai aku 'kan?" "Nyatanya kamu tidak terluka, kenapa malah menyalahkan aku yang tidak tahu apa pun?!" Balas Sella. "Apanya yang tidak tahu apa-apa? Kamu sendiri datang-datang buat masalah, apa kamu tidak kasihan dengan sepupu kamu? Selain itu aku sudah menjadi istri siri Ducan dan mengandung anaknya, kamu mau apa?!" Sella terkejut lalu menoleh ke Ducan yang menatap Sena dan sedang membersihkan kekacauan bersama para pelayan. Kepala pelayan merasa bersalah dan membantu Sena. "Maafkan saya, nyonya. Saya tidak bisa mengawasi barang-barang anda dengan baik, saya akan bertanggung jawab dan bicara ke tuan besar." Sena tersenyum. "Tidak perlu, bantu aku bersihkan ini semua. Aku hanya punya waktu setengah jam." Salah satu pelayan mendekati Sena dan melarangnya. "Nyonya, biar kami yang bersihkan semua kekacauan ini. Anda bisa ke tempat kerja tanpa khawatir." Sena menggeleng lalu tetap mengumpulkan pecahan barang-barang. Natasha merengek dan bicara ke Ducan. "Sayang, kamu lihat kemana sih? Kamu tidak khawatir dengan anak kita? Dia berusaha mencelakai anak kita!" "Aku tidak tahu kamu hamil! Kenapa malah menuduh aku? Kakak ipar! Beritahu dia untuk bersikap sopan!" Tunjuk Sella ke Natasha, tanpa melihat Sena. Natasha memukul jari telunjuk Sella dan berteriak marah. "Apakah kamu tidak bisa bertindak sopan terhadap orang lebih tua? Kamu tidak dengar tadi kalau aku sudah menikah dengan Ducan?!" "Menikah tanpa persetujuan kakak sepupu aku? Kakak Sena, apakah mereka menikah dengan persetujuan ka-" Sella terdiam begitu melihat punggung saudara sepupunya yang sedang berjongkok untuk membersihkan kekacauan yang dia buat. Pelayan lainnya menatap tajam Sella. Sella melangkah mundur ketakutan. Ducan pergi meninggalkan mereka berdua tanpa bicara. "Sayang!" "Kakak ipar!" Sena menghela napas. Kekacauan di rumah sudah didengar Adrian dan ayah Ducan, rekaman pun sudah dikirim kepala pelayan lewat email dengan bantuan salah satu pelayan pria kepercayaannya. Ayah Ducan memutar rekaman cctv di laptopnya lalu mendecak kesal. "Apakah anak itu tidak bisa belajar dari kesalahannya? Bagaimana bisa selingkuh dengan saudara sepupu istrinya sendiri?" "Anda yang membiarkan tuan muda melakukan itu semua." "Aku memang biarkan dia melakukan kenakalan kecil, bukan kekacauan. Sena pasti marah." "Saya yakin menantu anda hanya diam." "Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya ayah Ducan sambil menyipit curiga ke Adrian. Adrian tersenyum. "Saya hanya menebaknya, selama ini nyonya muda sudah cukup sabar menghadapi tuan muda. Tidak bisakah anda sedikit longgar terhadap nyonya muda?" "Di mata kamu- apakah aku terlihat pria kejam terhadap wanita?" "Tidak, saya hanya melihat anda tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga anak sendiri." Jawab Adrian. "Ternyata kamu pandai bicara." Gerutu ayah Ducan. "Terima kasih," sahut Adrian. Ayah Ducan menghela napas. "Jadi ini alasan kamu menyuruh Ducan melakukan perjalanan dinas ke luar kota selama dua hari? Kamu tahu Ducan akan cepat-cepat pulang ke rumah daripada menyuruh orang lain mempersiapkan semua barangnya." "Kebiasaan yang tidak bisa diubah karena trauma masa lalu," jawab Adrian. Adrian memiliki sifat posesif, termasuk barang-barangnya sendiri. Karena dia pernah hidup di panti asuhan dan berebut barang atau makanan dengan anak-anak lain, kebiasaan ini tumbuh semenjak dia dibawa ayahnya untuk pulang dan sampai dengan sekarang. Adrian mengetahui dengan jelas sifat Ducan yang satu ini. "Saya minta maaf jika anda merasa tidak nyaman." Ayah Ducan melambaikan tangan dengan santai. "Tidak perlu merasa bersalah, sekali-sekali berikan dia pelajaran dengan baik sehingga tidak perlu meremehkan orang lain. Aku yang salah karena terlalu memanjakan anak itu, aku merasa bersalah pada Sena. Adrian tersenyum kecil. "Tuan besar, anda tidak perlu merasa bersalah. Saya melakukan semua ini demi masa depan perusahaan." Ayah Ducan tersenyum puas. "Terima kasih." ------------ Malam hari, Sena memutuskan makan malam di kamar dan info ke kepala pelayan. Sena terlalu lelah hari ini, mengawasi jalannya pesta ulang tahun ayah mertua, dua wanita simpanan Ducan menghancurkan properti acara lalu harus bekerja untuk mendapatkan uang sendiri. Sena rasanya ingin menangis, tidak apa jika dia melakukan semua itu bersamaan, namun dia ingin punya seseorang dijadikan sandaran. Tidak ada yang bisa dijadikan sandaran, bahkan suami sekalipun. Dia menangis sampai ketiduran, tidak sempat mandi ataupun ganti baju. Ayah mertua Sena tidak keberatan setelah mendengar laporan dari kepala pelayan dan putuskan melakukan hal yang sama. Ducan pergi ke luar kota tanpa beritahu Natasha, dia baru mengetahuinya ketika akan makan malam dan juga memilih makan di dalam kamar sambil memesan online. Para pelayan di rumah tidak bersikap ramah kepada dirinya, kejadian tadi pagi juga membuat para pelayan semakin bersikap dingin. Natasha menangis di dalam kamar dan mengutuk Sella di dalam hati yang sudah menghancurkan citranya lalu berpikir Sena juga ikut andil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD