Damian dan Amanda kembali ke kantor, Nyonya Soya melepaskan mereka begitu saja setelah melihat mobil baru milik sang menantu. Hal itu memupus keraguan yang sempat di timbulkan oleh teman-teman arisannya.
Sehari yang lalu.
Di sebuah restoran ternama, Geng sosialita berdiri Lima orang wanita karir telah reservasi tempat dan memesan makanan yang mewah, rutinitas yang selalu dilakukan oleh pasangan-pasangan yang telah sukses secara materi. Tidak tanggung-tanggung, uang yang di setorkan setiap bulan mampu membeli hunian mewah kelas atas.
Hari ini, Nyonya Soya Savitri mendapatkan kesempatan untuk menerima uang arisan yang jumlahnya sangat besar. Perkumpulan ini terbilang tak sehat, mereka saling menjatuhkan dan ingin terlihat unggul di mata pasangan yang lain.
“Hay, hay Jeng. Maaf karena kami terlambat,” ucap Mama Amanda berbasa-basi. Dia dan suaminya baru saja tiba.
“Eh, Jeng Soya. Akhirnya bisa datang juga.Sekarang udah giliran Jeng ya, yang naik. Uangnya mau langsung di potong dengan dana yang telah Jeng ambil sebelumnya atau bagaimana?” Ketua geng itu, Jeng Rina namanya langsung menyampaikan keresahan seluruh anggota.
Sebelum pesta pernikahan, Nyonya Soya mengambil uang untuk biaya keperluan pernikahan.
Nyonya Soya memiliki hutang dimana-mana, bukan tanpa sebab mengapa dia selalu mencarikan jodoh lelaki yang mapan untuk putrinya. Hobi berjudi dan suka mengoleksi barang-barang mahal agar terlihat OKABE (orang kaya banget) telah merasuk dan meninggikan gengsinya.
“Duh, Jeng. Potong aja, uang segitu sekali habis nggak terlalu kami pikirin, iya kan, Pap,” sombongnya dan mengkode pada Rama sang suami.
“Iya dong, Ma. Emang berapa sih. Potongannya?” Rama pun tampak menyepelekan.
“Nggak banyak, kok. Cuman Tujuh ratus juta aja.”
Jumlah yang langsung membuat Rama melotot sempurna.
“Oke, lagian kalian tu kayak sama siapa aja. Aku nggak bakalan lari kok, uang aku juga masih ada sisa Tiga ratus juta lagi kan? Ya, udah. Uang itu biar di simpan saja untuk bayar arisan bulan depan.”
Seluruh anggota geng yang mendengarnya saling memberi kode.
“Duh, Jeng Soya makin bersahaja aja. Semenjak mendapatkan menantu orang kaya. Bener nggak sih, Damian Atmaja itu adalah pewaris kerajaan bisnis Atmaja grup. Kok keluarga inti dari perusahaan itu nggak muncul sama sekali di pernikahan Amanda kemarin, ya?”
Nyonya Soya terpaku mendengar pembicaraan mereka.
“Atmaja Grup?”
“Iya, Atmaja Grup. Perusahaan terbesar di Indonesia, bukannya menantu Jeng Soya namanya Damian Atmaja?”
Kedua orangtua Amanda saling menatap.
“Oh, itu. Sepertinya bukan, Jeng. Menantu saya bekerja di sebuah perusahaan bukan memiliki perusahaan.”
“Owh, berarti nggak kaya seperti bayangan kita dong, Jeng. Emang keluarganya bisnis apa?”
Nyonya Soya dan sang suami lagi-lagi terdiam.
“Jangan-jangan cuman orang biasa, jangan sampai kecolongan loh. Manda cantik-cantik masa dinikahkan sama orang biasa.”
Amarah Nyonya Soya tersulut juga.
“Aduh, kalian hanya butuh uang kan? Kok sampai nyerang pribadi menantu saya. Emang pas acara pernikahan berlangsung ada tampang dari keluarga Damian yang terlihat kurang mampu?”
Gengnya tampak sinis mendengarkan.
“Lagi pula jabatan menantu saya tuh bukan orang biasa di kantor, entar deh. Kapan-kapan kita buat pertemuan keluarga. Bawa menantu kalian juga ya, jangan sampai hanya pintar menilai tapi nyatanya anak menantu kalian yang nggak ada apa-apanya."
Puas memberi pelajaran, Nyonya Soya dan suaminya pun kembali ke rumah. Mereka sama-sama saling menyalahkan karena tidak bertanya tentang asal-usul keluarga Damian.
“Ish, gedek banget Mama kalau ketemu sama mereka. Sok iya, sok kaya, sok segala-galanya.”
Rama membuka pintu mobil untuk sang istri dan segera naik ke kursi pengemudi.
“Ini semua salah Papa.”
Rama mengerutkan kening, dia tidak tahu dimana letak kesalahannya.
“Kok, Papa sih?”
“Iya dong, harusnya sebagai kepala rumah tangga, Papa bisa mencari tahu usaha keluarga besan kita itu, apa? Nama perusahaan tempat Manda kerja itu apa? Ini Papa malah bengong aja, kayak kambing.”
“Mama! Mama itu keterlaluan, ya. Inget nggak waktu acara lamaran, Mama itu kayak orang kesurupan lihat perhiasan yang dijadikan seserahan. Sampai nggak tanggung-tanggung langsung ngasih restu dan nentuin tanggal pernikahan. Jadi jika ada yang disalahkan di sini. Itu Mama.”
"Papa bisa diem nggak!"
Itulah sebabnya kenapa ponsel Amanda terus saja berdering. Nyonya Soya seolah meneror putrinya untuk mencari tahu. Tetapi, kedatangan Damian dengan mobil baru dan penampilan kece layaknya pengusaha muda membuat nyali kedua orangtua Amanda menciut.
**
Hubungan Amanda dan Damian kembali membaik, tidak ada masalah yang berarti membuat keduanya kembali mesra.
"Aneh, kenapa Mama jadi berubah pikiran seperti itu? Padahal dari semalam nelpon terus loh, tapi setelah lihat muka kamu wajahnya berubah drastis."
"Udahlah, mubgkin memang nggak ada masalah yang penting."
Damian menatapnya oenuh kerinduan.
"Ada apa, wajahnya kok gitu?" tanya Manda menerkah-nerkah.
"Apa? Memang wajahku kenapa?"
"Dam!"
"Apa?"
Damian tertawa melihat Amanda tertunduk malu.
"Kenapa? Nggak enak ya tinggal di rumah ibu dan ayah."
Mereka sedang dalam perjalanan.
"Enak, kok. Kamu kenapa nanyanya begitu?"
Damian mengusap rambut istrinya, dia selalu gemas melihat reaksi Amanda yang seperti itu.
"Karena tempat tidurnya kecil, kita nggak bisa ngapa-ngapain."
"Ih, ngeres."
Mereka saling menertawai diri sendiri.
Tiba di kantor tepat waktu, Tomi melihat aura pengantin baru itu terlihat bugar dan ceria. Amanda sangat bahagia dan terus menggandeng tangan suaminya.
"Selamat pagi, Pak," sapa keduanya setelah berdiri di depan Tomi.
"Pagi, ingat ya ini kantor. Kalau memungkinkan tiket liburan masih saya simpan."
Amanda lagi-lagi di buat tersenyum.
"Nggak, Pak. Suami saya lagi gila kerja."
Damian tampak terpaku mendengarnya.
"Kalau cuti saja nggak ambil paket liburan bisa nggak, Pak?" tanya lelaki itu tiba-tiba.
Manda dan Tomi saling menatap karenanya.
"Memangnya kalian mau kemana?"
Damian hanya tersenyum.
"Rahasia, Pak. Tapi sebelum itu saya akan mengerjakan semua pekerjaan yang terbengkalai dan mengambil libur tiga hari. Apa itu bisa?"
Tadinya Damian tidak ingin memanfaatkan kebaikan Tomi, tapi karena lelaki itu terus mendorong untuk pergi. Maka dia memilih mengambilnya.
"Bagaimana, Tom?" tanya Manda dengan mata berbinar.
"Oke, bisa di atur. Tentukan saja waktunya. Tapi, apa kalian benar-benar tidak akan mengatakan mau kemana?"
Damian tersenyum dan menggeleng.
"Tepatnya kami fokus buat nambah anggota keluarga, Pak. Biar ada Amanda junior atau Damian junior."
Wajah Tomi memucat. Ya, kebahagiaan yang terpampang di hadapannya ini melukai hati kecilnya.
"Oke, tentu itu harus."
"Yess!" ucap Amanda senang.