Chapter 55 perjanjian

1049 Words
Satu minggu berlalu dan keadaan semakin kacau, Tomi telah mengeluarkan sebagian besar karyawan dan memberi mereka tunjangan seadanya. Keadaan lelaki itu begitu memprihatinkan, hingga hari ini dia memutuskan untuk mengosongkan kantor. Keputusan Tomi membuat Damian dan Amanda terkesiap. "Tom, apa lo yakin. Kenapa mengambil keputusan dengan terburu-buru?" ucap Amanda. Tomi telah merumahkan semua karyawannya termasuk Anita sang sekertaris. "Mau gimana lagi, mungkin gua nggak cocok jadi pengusaha. Sudahlah jangan memikirkan itu lagi." "Semua ini aneh, tahu nggak? Bisa-bisanya kinerja perusahaan menurun dan klien pergi satu per satu. Apa jangan-jangan, ada yang sengaja ingin menjatuhkan lo, Tom." Amanda tak tahu, siapa penyebab kehancuran sahabatnya. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Gua hanya ingin tenang dan berencana menjual kantor ini." "Tom," ucap Amanda akan protes. "Gua pengen menenangkan diri dan mengunjungi nyokab dan bokap gue di Singapura. Lagi pula, sumpek gua di Indo. Apalagi sekarang, dunia bisnis semakin kejam saja." "Lo mau ninggalin gue, Tom? Lo tahu kan, bentar lagi gue lahiran. Lagi pula jika lo pergi, gue nggak akan bisa menghibur lo. Gue nggak bisa ngerecokin lo!" Damian mendengar percakapan mereka dari luar. "Emang dasar lo, Manda. Gua dalam keadaan kalut begini butuh ketenangan lo malah khawatir nggak bisa ngerecokin gua. Soal lo lahiran, gua pasti balik. Lagi pula yang terpenting itu ada Damian di sini. Lo nggak usah mikirin yang nggak-nggak." "Tapi, dia bukan elo kan. Gue maunya lahiran ada lo dan Damian, titik!" Damian menutup kembali pintu ruangan itu. Lelah berpikir dia pun memutuskan mendatangi biang kerok dari semua kekacauan. Jari-jarinya menari di atas layar ponsel. Sebuah pesan meminta untuk bertemu di taman terkirim pada lelaki itu. Damian tak dapat menahan diri, dia tak ingin melihat Amanda bersedih karena kepergian Tomi. Jam 10 pagi, Damian sudah standby di taman, pesan telah di baca tapi dia tidak mendapatkan balasannya. Pukul 10, 11, 12. Waktu berlalu begitu saja tapi dia masih di sana. Hari menjelang sore, kini senja telah beranjak. Damian ragu Daniel.akan datang memenuhi undangannya atau tidak. Lelaki itu menghela napas kasar. Hanya pertemuan ini satu-satunya cara menyelamatkan Tomi. Sayup-sayup terdengar suara mobil menepi tepat di belakangnya. Damian gugup dan tidak berani membalikkan badan. Suara pintu mobil di buka dan banting begitu saja. Blash. Kini Damian memberanikan diri menoleh dan mendapati Daniel berjalan ke arahnya. Lelaki itu tersenyum miring, dengan tangan berada di kedua saku celananya. "Aku tak percaya kau masih menunggu," ucapnya berdiri tepat di hadapan Damian. "Katakan, kenapa kau ingin bertemu. Aku tak punya banyak waktu dan harus segera pergi." Damian berdiri sejajar dan saling berhadapan dengan lelaki itu. "Aku akan melakukan apa saja asal kau mau mengembalikan kejayaan perusahaan Tomi. Aku tahu kau memblokade klien-klien kami. Kau bahkan merampas klien utama kami." "Kau sedang meminta atau sedang bersih tegang denganku?" Damian mengepalkan tangan melihat sikap Daniel. "Aku sedang memohon, tolong hentikan semua ini." "Sayangnya aku tidak mempercayaimu." Daniel berjalan menjauh. Damian mengejarnya dan terus meminta. "Aku akan melakukan apa saja, aku tidak akan membohongimu lagi." "Aku janji, kali ini kau bisa memegang omonganku. Amanda sangat sedih melihat usaha Tomi jungkir balik!" Langkah Daniel terhenti mendengarnya. Ditatapnya Damian lekat dan mengucapkan syaratnya. "Jika kali ini kau berani melanggarnya, maka aku akan membuatmu menyesal selamanya." Damian terduduk lemas saat Daniel mengatakan larangannya. Dia tahu, semua ini akan terjadi tapi kali ini Daniel meminta lebih. "Aku ingin kau pergi dari kota ini, tinggalkan Amanda selamanya. Hanya begitu aku bisa benar-benar yakin jika kalian tidak akan bertemu di belakangku." Deg. Damian tertunduk pedih. "Dia adalah calon istriku, melihatnya keluar tengah malam dan menemuimu membuat aku meradang. Dan, kau tahu aku tidak akan memaafkan hal itu. Daniel mengetahui kepergian Amanda saat malam tahun baru kemarin. "Lalu, bagaimana dengan bayi kami. Aku ingin melihatnya. Kelahirannya beberapa bulan lagi," ucap Damian dengan raut wajah gelisah. "Aku sendiri yang akan memintamu datang, pilihannya hanya padamu. Jika kau tidak mau aku bertindak terlalu jauh, maka segeralah pergi dari sini secepatnya!" Damian memejamkan mata, kepalanya serasa berputar, pening dan terasa berat. "Baiklah, tapi beri aku dua hari untuk bersama Amanda. Setelah itu, aku akan pergi membawa semua keluargaku dari kota ini." "Kenapa tidak langsung pergi saja, kau membuang waktuku!" Damian menggeleng, lelaki itu melewati Daniel dan berdiri di hadapannya. "Aku tidak mau Amanda stress karena kepergianku." "Itulah yang aku inginkan, tinggalkan kesan yang buruk agar dia membencimu. Waktumu 2×24 jam. Jika kau masih berkeliaran di kota ini maka aku tak dapat menjanjikan apapun." Daniel pergi setelah mengatakannya. Mobil lelaki itu melaju, dia pergi tanpa perasaan. Damian sangat tertekan, lelaki itu menangis dalam kepiluan. Langkah Damian berjalan gontai menuju mobil dan kembali ke kantor. Sepanjang jalan dia dirasuki rasa bersalah. Bayinya akan dilahirkan beberapa bulan lagi, dia tak ingin melihat Amanda berjuang sendiri. Di perjalanan pulang, Damian menyadari jika dirinya di ikuti oleh seseorang. Sadar jika omongan Daniel tidak lah main-main. Amanda masih di dalam kantor, menunggu di ruangan kosong Damian seperti orang bodoh. Tiba di kantor, Damian segera masuk. Sekilas dia menoleh ke parkiran. Tak ada siapa-siapa lagi tersisa. Saat dia membuka pintu ruangannya, Damian merasa lega karena Amanda masih berada di sana. "Dam, kau darimana saja?" Damian menghampiri dan memeluknya erat, Amanda tertegun dalam waktu yang lama. "Dam, aku menunggumu dari tadi. Aku kira kau tidak akan kembali." "Lalu kenapa masih menunggu, jika tak yakin aku akan kembali?" Damian melerai pelukan mereka. "Aku tidak tahu, hatiku mengatakan jika kau tidak akan meninggalkan aku. Maka dari itu aku tetap di kantor menunggumu," jawaban Amanda membuat Damian merasa lega, diciumnya kening sang istri lalu turun ke bibirnya. Amanda hanya mematung mendapatkan perlakuan itu, perutnya menegang, bayi mereka bergerak membuat Amanda melepaskan pangutannya. "Dam, bayi kita." Amanda meraih tangan Damian dan meletakkannya di tempat bayi itu bergerak. Netra lelaki itu berkaca-kaca, Damian berlutut di lantai dan mencium perut Amanda. "Sayang, jangan nyakitin mama ya, jadi anak yang baik." Amanda tersenyum mendengarnya. "Dia tidak menyakitiku, Dam. Ini gerakan alami bayi dalam kandungan." Damian memutuskan tidak langsung pulang, dia mendudukkan Amanda dan terus mengobrol bersama bayinya. Hanya di tempat itu dia akan leluasa. Karena diluar sana, anak buah Daniel tengah mengintainya. "Kapan kita akan membeli baju-baju bayinya?" tanya Damian. Amanda tersentak mendengar itu. "Masih lama, sekitar dua bulan lagi. Kata ibu, famali jika beli keperluan bayi di awal." "Bolehkah aku menghandel pakaian bayinya? Aku ingin memilihnya sendiri," ucap Damian sesak. "Tentu, kau papanya. Kita akan memilih baju bayi kita bersama-sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD