Chapter 39 Amanda bingung

1087 Words
Tuan Handoko pemilik perusahaan Arthur Company yang bergerak di bidang pembangunan, arsitektur dan sebagainya. Perusahaan Tomi selalu menghandle bagian pemasaran sekaligus menjadi wadah utama pertemuan pengusaha-pengusaha besar untuk mengajukan penjualan atau pembelian.   Kehilangan andil dengan Arthur Company membuat Tomi serasa di cekik perlahan. Bagaimana tidak, keuntungan terbesarnya ada di sana, saat semua pengusaha mendekat dan ikut join dengan perusahaan miliknya.   “Selamat siang, semuanya. Terimakasih sudah datang dan mengusulkan janji temu ini,” ucap Pak Handoko selaku klien yang kini di kunjungi.   “Selamat siang,” seru semua orang yang hadir.   Tomi menggeser berkasnya ke depan Amanda sebagai kode bahwa dia menyerahkan semua keputusan pada sahabatnya itu.   “Terimakasih juga telah mengundang kami, walau sebenarnya sedikit rancu karena kita tak memiliki hubungan pekerjaan,” ucap Daniel menatap Tomi.   Pak Handoko memperhatikan keduanya.   “Ya, tentu. Kami harus mengundang anda selaku orang ketiga dalam bisnis kami.”   “Wow, wow, wow,” Daniel tertawa mendengarnya.   “Angkasa grup tak pernah melakukan cara pecundang seperti itu. Bukti apa yang kalian punya hingga berani mengeluarkan kata kasar pada perusahaan kami. Jelas Arthur Company sedang tidak bekerja sama dengan pihak manapun, kontrak kerja kalian sudah berakhir. Bukan begitu Pak Handoko?” ucap Daniel meminta dukungan.   “Benar sekali, Pak.”   Tomi menoleh pada Amanda.   “Ehm, maaf Pak Handoko. Tapi, sebenarnya kontrak kerja anda dengan perusahaan kami belum berakhir, mungkin bapak lupa, tapi Bapak telah menandatangani surat kerja sama atas penjualan apartemen yang berada di pusat kota itu pada kami.”   Pak Handoko mengingat-ingat keputusannya itu.   “Apa Bapak lupa? Bapak telah meneken kontrak saat penjualan tiga bulan yang lalu mencapai target,” ucap Damian membantu Amanda.   Tomi berbalik tersenyum pada Daniel.   “Terkadang, sesuatu yang di rebut paksa itu takkan membuahkan manfaat. Kau tahu maksudku kan? Jangan memaksakan sesuatu yang memang bukan ranahmu.”   Daniel tampak tenang, meski hatinya kini begitu marah.   “Benarkah. Aku tak memaksakan apapun, Pak Tomi. Pak Handoko ini datang dengan sendirinya meminta untuk bekerja sama denganku. Aku bukan tipe orang yang mengejar sesuatu. Sebaliknya sesuatu itu yang mengejarku.”   Daniel menutup ucapannya dengan melirik ke arah Amanda.   Tomi dan Damian sangat mengerti maksud lelaki itu.   “Maaf, apa Bapak sudah ingat. Atau, perlu kami perlihatkan surat kerja samanya?” ucap Amanda fokus.   Suasana di dalam ruangan kini berubah menjadi panas. Tomi yang begitu percaya diri tak hentinya tersenyum menatap Daniel. Senyum meremehkan sekaligus menertawakan.   “Pak Handoko, selesaikan urusan anda. Saya tidak suka nama baik saya di pertaruhkan dengan tender tak seberapa ini.”   “Tenang, Pak Daniel. Saya hanya menandatangani satu proyek dengan mereka. Selebihnya saya akan memastikan jika perusahaan kita akan saling bekerja sama.”   “Maaf, hal itu tak dapat dilakukan,” cegat Amanda.   Pak Handoko maupun Daniel menatap lekat ke arahnya.   “Begini, dalam kontrak kerja sama kita terakhir kali. Tertulis jelas di sana. Bapak tidak bisa menerima kontrak kerja sama dengan perusahaan lain selama masih menjalin kerja sama dengan perusahaan kami. Di sana juga jelas tertulis bagi yang melanggar kesepakatan, akan mengganti rugi sesuai denda yang tertera di surat perjanjian.”   Pak Handoko tampak gelisah, Damian terus menatap Amanda membuat Daniel cemburu.   “Sudah ku bilang, kau tak dapat memiliki sesuatu yang tak di takdirkan untukmu. Walau kau memiliki banyak kuasa. Kau tahu uang tak dapat membeli segalanya.”   Amanda tertunduk saat tatapan Daniel terpusat kepadanya, dia merasa gugup bahkan saat Daniel tak bersuara.   Pak Handoko berkeringat dingin, dia meminta salinan kontraknya pada sang asisten dengan isyarat menjentikan tangan.   Daniel bersandar pada kursinya, dia tak percaya jika hanya karena Amanda dia akan di permalukan hari ini.   Sedangkan, Damian. Lelaki itu menenangkan Amanda dengan cara menggenggam tangan wanita itu di bawah meja.   Amanda sangat gugup, Damian dapat merasakannya.   “Permisi sebentar, Pak. Saya keluar dulu,” ucap Pak Handoko.   Tomi mengangguk mengiyakan. Kini hanya tinggal kubu Tomi dan Daniel di dalam sana.   Amanda tak berani menatap mata Daniel, entah mengapa dia merasa risih dan enggan. Wanita itu memilih berbalik pada Damian yang melempar pandangan kearah lain.   “Sebenarnya apa maumu, Daniel? Aku tahu, klien seperti Pak Handoko bukanlah typemu. Sebaliknya, perusahaan yang tidak seberapa ini, tak mungkin dapat membayar biaya pemasaran di tempatmu,” ucap Tomi.   Daniel melirik jam tangannya, masih bersikap santai dan menatap Tomi.   “Anggap saja aku memberi mereka diskon, aku sedang berbaik hati. Kau tahu, kita telah sampai di penghujung tahun.”   Entah apa maksudnya, tapi perhatian Damian teralihkan.   “Apa ini berhubungan dengan kita? Aku harap kau tidak melebar kemana-mana jika memang ingin berurusan denganku.”   Amanda mengerutkan kening mendengar ucapan Damian.   “Apa maksudmu? Kau dan Daniel saling mengenal?”   Damian tidak langsung menjawab ucapan Amanda.   “Hey, aku tidak tahu apa maksudmu. Kita disini untuk bisnis kan?” tatapan peringatan di berikan Daniel pada Damian.       “Oke, aku akan menganggapnya seperti itu.Tapi, jika kau ikut campur dalam masalah perusahaan tempat kami bekerja. Maka aku menganggapnya iya,” tegas Damian.     Amanda sontak berdiri membuat kursi ikut berderit.   “Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Urusan apa dan sejak kapan?” tanya Amanda melepaskan genggaman tangan Damian.   Daniel melihat itu membuat hatinya semakin meradang. “Bukan apa-apa, Mand. It’s okey, gua ada kok di sini, lo punya hutang kan sama dia, kita akan melunasinya bersama. Jangan merasa sendirian.”     Daniel tak dapat menahan diri, dia menyadari jika Tomi dan Damian sengaja melibatkan Amanda untuk menyerangnya.   “Hutang? Kau bicara tentang hutang ke mereka?”   Amanda mengeleng. Dia sangat takut Daniel akan tersinggung.   “Aku merasa kecewa, kau tahu itu.”   “Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa, percayalah.” Amanda akan menghampiri lelaki itu tapi Tomi menahannya.   “Tenanglah, kenapa kau begitu takut? Memangnya kenapa jika kami tahu. Asal kau tahu Amanda, dia akan menggunakan uang itu untuk memaksamu menikahinya.”   “Tomi cukup, Daniel tak seperti itu. Dia membantu keluargaku tapi tidak memaksaku untuk menikah dengannya. Dia memberiku kesempatan untuk membayarnya.”   “Sampai kapan?” tanya Damian.     Amanda diam membisu, Damian cemburu melihat Amanda begitu membela Daniel.   “Sudahlah, Dam. Dia hanya menjebak Amanda dengan kata-kata manisnya. Bahkan janjinya kepadamu belum tentu akan di tepati,” ucap Tomi.   Amanda semakin bingung, semua orang seperti sedang memainkan teka-teki yang dia sendiri yang tidak mengerti.   “Sebenarnya apa yang kalian bicarakan, janji apa?”   Daniel menatap berang pada Damian. Pembicaraan mereka terjeda karena kedatangan Pak Handoko.   “Pak Daniel, maaf.”   Daniel berdiri dan menatap semua orang.   “Kau percaya dengan apa yang mereka katakan? Ya, itu wajar. Aku bukan siapa-siapa, mereka orang-orang terdekatmu. Sedangkan kita baru memulai pertemanan.”   Daniel meninggalkan ruangan setelah meporak-porandakan hati Amanda.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD