6. Hope and Hope

2402 Words
"Bolehkah aku merasa nyaman walau hanya sesaat? Saat mata itu tak lagi menyorot amarah, saat bibir itu tertarik ke atas bukan ke bawah, dan saat tawa di antara kita pecah." ??? "Sayang, bangun .... Ini udah jam 5 lebih. Bangun, shalat." Natasha mengguncang-ngguncang bahu anak bungsunya. Bukannya bangun, Raga hanya menggeliat dan menarik selimutnya sampai menutupi wajah. "Raga, bangun!" Natasha mencubit pinggang Raga. "Auww! Sakit, Ma!" Raga terduduk sambil mengusap-usap pinggangnya yang dicubit. "Makanya buruan mandi, shalat, terus sarapan. Mama tunggu di bawah." Natasha mengusap pipi Raga lembut. "Hm." Raga beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Usai mandi dan shalat, Raga bergegas turun dari kamarnya. Sebelum Natasha mengomelinya panjang lebar dan berujung membeda-bedakannya dengan Jiwa. Ais, Raga benci hal itu. "Nih, dimakan dulu." Natasha menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Raga. Raga menerimanya. "Gimana sekolah kalian?" Natasha menatap Raga dan Jiwa bergantian. Raga melengos, Natasha mulai lagi. "Biasa aja." Raga menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. "Kalau kamu, Jiwa?" Natasha menatap Jiwa antusias. "Minggu depan Jiwa ikut olimpiade lagi, Ma." Natasha tersenyum senang. "Raga, contoh Kakak kamu ini. Dia rajin belajar sampai bisa ikut olimpiade, setidaknya kamu memegang peringkat pertama di kelas." Natasha memandang wajah Raga yang sangat mirip dengan almarhumah suaminya lembut. "Beberapa minggu lagi Raga ada turnamen." Raga menghentikan aktivitas makannya, meminum susunya sampai tandas, dan mencium tangan Natasha. "Makasih nasihatnya. Nanti Raga operasi plastik sekalian aja biar mirip Jiwa." Raga menatap sinis Jiwa dan berjalan menjauh. Natasha melongo mendengar perkataan Raga. Raga memang keras kepala. Natasha bukan berniat membeda-bedakan, tapi niatnya agar Raga menjadi pribadi yang baik seperti Jiwa. "Nasinya nggak dihabisin?" Natasha menatap Raga kecewa. "Raga berangkat." Raga membanting pintu dengan keras. "Nanti Jiwa bakal ngomong baik-baik sama Raga, Ma." Jiwa mengusap lengan Natasha, mencoba menenangkannya sebelum Natasa benar-benar menangis. Natasha mengangguk. "Mama nggak bisa bahagiain dia. Mama ingkar janji sama papa kamu. Mama nggak bisa liat Raga begini terus. Semoga kamu bisa bahagiain Raga dan merubah sikap arogannya." Natasha sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Dia terisak. Menunduk dalam. "Jiwa janji, Ma." Jiwa mengusap pipi Natasha yang berlinang air mata. Dia berjanji. ??? "Gimana, Kyan, papa kamu?" Echa yang baru saja sampai kelas langsung nimbrung percakapan Kyana dan Maora. Kyana tersenyum hangat. "Papa nggak bakal ditahan di penjara. 'Kan papa emang nggak salah." "Alhamdulillah. Mana tuh kakak kelas yang suka marah-marah nggak jelas? Bisanya cuma fitnah sana-sini." Echa mencebik. "Santai aja tuh mukanya, Neng." Maora menjawil pipi chubby Echa gemas. "Nggak usah pegang-pegang! Bukan mahram!" Echa melotot. "Bisa aja lo, Mbem." Kyana ikut-ikut menarik pipi Echa gemas. "Sakit!" Echa menyilangkan tangannya di depan d**a membuat Maora dan Kyana terkekeh. "Cha?" Maora memainkan ponselnya. "Apaan?" "Kemarin Jiwa nge-chat lo nggak?" "Emangnya kenapa?" "Kemarin minta nomer lo." "Beneran?!" Mata Echa membulat. Wajahnya langsung berseri-seri. "Berapa kali gue bilang, santai aja tuh muka." Maora men-scroll chat-nya dengan Jiwa di depan wajah Echa. "Tapi kok belum ada pesan masuk dari Jiwa?" Echa mengotak-atik ponselnya sambil menerka-nerka. "Sabar, nanti juga ada." Kyana menepuk bahu Echa. "Hm." Echa nampak lesu. "Coba lihat." Echa merampas ponsel Maora. Jiwa Minta nomernya Echa Maora O85xxxxxxxxx Lo suka sama Echa ya, Kak? Jiwa Bukan urusan lo. Maora Sadis amat. Bukannya bilang makasih malah kayak gitu! Tadinya sih niatnya pengen bantu. Jiwa Mksh Nggak butuh bantuan lo Maora Singkat banget:v Ya udah kalau nggak berhasil deketin Echa jangan salahin gue. Read "Tuh, apa kata gue. Dia itu dingin, sadis." Maora merebut ponselnya. Echa malah cengengesan. "Apa dia suka sama Echa, ya?" Echa menatap Maora dan Kyana bergantian. "Jangan terlalu berharap! Inget kata gue! Ini buat kalian berdua! Echa nggak usah ngarep sama Jiwa! Dan lo, Kyan. Nggak usah terlalu ngarep sama Aldi, ntar ujungnya sakit!" Maora menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lo tahu 'kan gimana gue sama Alvaro?" Mata Maora tampak sendu. Echa dan Kyana mengangguk bersamaan. Alvaro adalah sahabat Jiwa dan Aldi, mereka ke,mana-mana selalu bersama. Dulu, ternyata Alvaro dan Maora itu satu SMP. Alvaro pernah sangat perhatian dengan Maora. Setahu Maora, Alvaro menyukainya. Namun ternyata, dia hanya disuruh Amanda, Mama Maora, agar Alvaro menjaga anaknya. Pupus sudah semuanya saat dia tahu hal itu. Ditambah, Alvaro ternyata sudah memiliki pacar. Dan sekarang mereka bertemu kembali, satu SMA, dengan hati yang masih terkoneksi karena sering bersama. "Ya siapa tahu? Bikin Echa seneng dikit kenapa?" Echa menghela napas kesal. "Ya, ya.... Anak manja," cibir Maora. "Enak aja! Echa nggak manja!" Kyana tertawa. Bel masuk berbunyi, menghentikan adu mulut Echa dan Maora. Ketiga gadis itu langsung duduk manis karena pelajaran Pak Zendi akan dimulai. Hingga tiba waktu istirahat yang ditunggu-tunggu semua siswa agar bisa cepat keluar dari kelas dan menguras uang jajannya untuk bikin perut kenyang. "Pak Zendi nyebelin banget!" Echa merenggut disela-sela kunyahan siomainya. "Habisnya, siapa suruh lupa nggak ngerjain PR dihukum 'kan, lo." Kyana terkekeh geli membuat bibir Echa semakin maju. "Untung lo baru pertama kali nggak ngerjain PR, cuma disuruh berdiri di depan kelas, lha, gue? Lari keliling lapangan! Gempor, deh." Maora mengusap kakinya dengan raut menyedihkan. "Hahaha. Siapa suruh mikirin Alvaro terus, sampai lupa kalau ada PR." Echa mengerlingkan matanya jail. "Ih, najis gue mikirin cowok kayak dia." Maora geleng-geleng kepala tak sudi. Padahal, jelas terlihat Maora masih menyukai Alvaro. Maora itu cantik, banyak yang suka, tetapi kenapa dia masih setia dengan apa yang tidak mungkin baginya? Karena cinta itu buta. "Alah, apaan lo. Bilangnya aja nggak suka, setiap pagi, siang, sore, malam dispam terus. Nggak bosen apa dikacangin?" Kyana menonyor jidat Maora. "Bisanya cuma ngeledek! Ngaca dulu, Tante! Lo juga sering nyepam Aldi." Maora tertawa penuh kemenangan saat Kyana melotot. Echa menghela napas. "Berantem terus, sih, kalian?! Makan, tuh, makan, jangan sambil ngomong! Echa sunat bibirnya baru tahu rasa." Echa menginjak kaki Maora dan Kyana yang ada di depannya. Maora memekik. "Lo tega banget, sih." Gadis itu mengusap ujung sepatunya. "Dia aja yang disunat kalau ngomong asal nyembur." Kyana menatap sinis Maora. "Terser-" "Gue mau ngomong sama lo." Suara ngebass itu membuat kepala Echa menengok ke sumber suara. "Ngomong aja." Echa memasukkan siomai ke mulutnya dengan santai tanpa mau repot-repot menatap Raga. "Ikut gue." Mata elang itu kembali membuat Echa mendesah pasrah. "Echa lagi makan." Echa mengerucutkan bibirnya. "Bukan urusan gue. Mau lo makan, mau lo koprol, mau lo rol depan, mau nyungsep juga bukan urusan gue. Urusan gue adalah kita ngomong berdua!" Raga meninggikan suaranya membuat beberapa penghuni kantin menonton mereka. Echa bergumam. Dia melambaikan tangannya pada Maora dan Kyana seperti salam perpisahan padahal Echa hanya akan pergi sebentar. "Lebay," cibir Raga. Echa tak acuh. Mereka menyusuri koridor sekolah yang gelap. Melewati beberapa bangunan yang tadinya adalah kelas yang sekarang sudah tidak terpakai. Hingga keduanya sampai di taman belakang sekolah. Ini pertama kalinya Echa menginjakkan kaki ke sana. Kesan pertama adalah asri dan kelihatannya jarang ditempati. Namun, tetap terawat karena terlihat di ujung taman ada seorang tukang kebun. Raga duduk di bangku semen di bawah pohon beringin. Echa mau tak mau mengikutinya. Raga menatap Echa sinis. "Ngapain lo duduk di sini?!" Echa mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menggosok kupingnya yang sedikit pengang. Dia memang harus siap kuping jika berbicara pada Raga. Tanpa mau dibentak-bentak lagi, Echa berdiri. "Kalau mau ngomong cepetan, Echa masih laper dan pegel." Echa menghela napas kasar. "Pijitin pundak gue." "Ha?" "Pijitin!" Mata elang itu semakin tajam. "I-iya." Echa langsung menempatkan kedua tangannya di pundak Raga lalu memijitnya. Ini mah bukan ngomong berdua, tapi mau jadiin Echa babu! Wajah Echa mendadak menjadi kusut. Apa-apaan Raga? Menyuruh-nyuruhnya lagi seenak jidatnya! Saat asyik berdebat dengan dirinya sendiri, sebuah pertanyaan terlintas di kepala Echa. Mungkin, jika dia menanyakan pertanyaan itu pada Raga, lelaki itu pasti tahu jawabannya. "Ga? Echa mau nanya, Jiwa udah punya pacar belum?" Kacang. "Ga? Echa nanya serius. Jawab dong, please." Raga bergeming. Echa menghentikan pijitannya. "Siapa suruh berhenti? Lanjutin!" Echa membuang napas kasar. Dia kembali memijat pundak Raga dengan kesal. "Raga ganteng..., baik hati dan tidak sombong, apa Jiwa udah punya pacar?" Echa menarik paksa kedua sudut bibirnya. Raga berpikir. "Udah." "Beneran?!" Seperti ada petir menyambar di siang bolong, Echa melongo. "Nggak usah teriak-teriak! Kuping gue masih normal!" Raga menatap Echa kesal. "Emangnya Jiwa pacaran sama siapa?" Echa tak menghiraukan ocehan Raga, yang dia ingin dengarkan sekarang adalah tentang Jiwa. "Kepo banget sih lo jadi orang." Raga nampak sewot. Echa tiba-tiba duduk di sebelah Raga. Menatap Raga lurus dengan tatapan pertemanan. "Ngapain lo duduk?" Raga balas menatap mata hitam pekat itu dalam. "Echa suka sama Jiwa, Raga mau bantuin Echa? Raga 'kan adiknya pasti tahu semua hal tentang Jiwa." Raga melengos, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Entah kenapa dia merasa tak rela, seperkian detik dia menampar perasaan tak rela itu jauh-jauh. Lo mikir apaan sih? Jauh-jauh! "Nggak usah ngarep sama Jiwa. Dia emang terlalu baik sampai bikin baper anak orang. Lagian, dia udah punya pacar. Pacarnya cantik, seksi, bahenol, pinter, kaya, baik lagi. Nggak kayak lo, jelek, kerempeng, nggak ngebody, baperan, manja lagi." Raga tersenyum sinis. "Kamu kalau ngomong dijaga!" Echa tersulut emosi. "Lah, itu 'kan benar." Raga menatap Echa. Meremehkan. "Dasar Kakek Lampir! Jelek! Sombong! Nakal! Jahat! Sok kegantengan! Muka pas-pasan gitu aja sok-sokan! Nyebelin lagi! Beda banget sama Jiwa yang ganteng, baik, pinter, nggak kasar kayak kamu!" Echa berteriak di depan wajah Raga dengan tangan menuding. Dia benar-benar kesal! Raga melotot, membalikkan badannya, membuat Echa kaget karena Raga terlihat marah. Benar-benar marah karena ucapan Echa. Rahangnya mengetat. Tatapannya setajam silet. Tangannya mengepal erat. Echa mundur. Raga berjalan memutar. Dia melangkah mendekati Echa. Perlahan, tapi pasti, Echa terpojokkan sampai badannya mentok tembok pembatas sekolah. Jantung Echa berdentuman. Rasanya seperti sedang balapan liar. Raga terus menipiskan jarak di antara keduanya. Aroma min dari mulut Raga menjalar masuk ke hidungnya dan bereaksi pada tubuh Echa. Echa mendongak. Mata belok dengan pupil hitamnya bertemu langsung dengan mata elang nan dingin itu. Seperkian detik, keduanya saling tatap. Glek Raga ... ganteng. Aish, Echa. Kamu mikir apa?! Echa ingin sekali menampar otaknya keras-keras. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Dia berjengit. Raga dengan sengaja menempelkan jidatnya yang kalau kata Maora beberapa jam yang lalu saat ghibah, seksi. Echa tahu Raga ganteng, jadi jauh-jauh nggak usah pamer terus sampai nempel-nempel gini. Echa hanya berani membatin. Karena yang bisa dia lakukan hanya menghela napas. "Sekali lagi lo bentak gue ...." Suara rendah penuh penekanan itu membuat Echa memejam. "Ngata-ngatain gue. Gue pastiin lo bakal nyesel udah ngomong kayak gitu." Raga menjauh. Mengetuk jidat Echa. "Inget itu di sini." Echa membuka matanya. Raga masih berdiri di hadapannya. Lelaki itu menatapnya lurus "Utang lo masih lima hari." Raga mengingatkan. Echa bergeming. Lelaki itu pergi, meninggalkan Echa yang mengusap dadanya. "Sabar, ini ujian." ??? Hembusan angin yang menari di udara memainkan rambut Echa yang tergerai. Raga sesekali melirik kaca spion motornya untuk melihat seberapa betah Echa berada di sampingnya. Ternyata, Echa terlihat menikmatinya, walau Raga tahu Echa tertekan dengan sikapnya. "Kita mau ke mana?!" Echa meninggikan suaranya Karena kalah dengan suara banyak kendaraan di sekelilingnya. "Pantai. Lo suka pantai?" Hati Echa menghangat, pasalnya Raga tak pernah sedikit pun menanyakan apa yang Echa suka. Karena pasti, Raga akan bersikap seenak jidatnya. "Suka!! Apalagi sambil makan es krim, cokelat, martabak manis, air kelapa, terus disuruh nonton cowok ganteng manis-manis yang baik hati dan tidak sombong!" Echa tertawa sinis. Nih, bocah nyindir gue? Oke, gue ikutin permainan lo. Raga tersenyum tipis . Entah kesambet apa, Echa merasa senang saat melihat Raga tersenyum tipis dari kaca spion. Bagi Echa, ketampanan Raga bertambah berkali-kali lipat saat dia tersenyum. Apalagi kalau tertawa, pasti.... Echa mencubit lengannya sendiri. Pikirannya mulai ngawur. Sebelum makin menjadi, dia memilih mengikuti Raga yang sudah turun dari motornya beberapa detik yang lalu. Echa menatap ombak yang kejar-kejaran dengan senyum yang selalu menghiasi bibir tipisnya. Tanpa sadar, seseorang di sampingnya memperhatikannya sambil sesekali mengabadikan wajah Echa yang sedang tersenyum di ponselnya. Echa berlari. Memecah kesunyian pantai. Gadis itu merentangkan tangannya sambil berputar-putar. Matanya terpejam. "Echa rasa Echa pernah ke sini, tapi nggak tahu sama siapa." Raga yang mengekori gadis itu mengerutkan keningnya. "Maksud lo?" Dia mengindahkan perkataan Echa, hal langka bagi Echa karena Raga mau meresponnya. "Echa ngerasa ada yang aneh aja sama kepala Echa. Echa pernah kecelakaan dan hilang ingatan separuh, tahu 'kan maksud Echa?" Echa menatap Raga dengan satu alis terangkat. Raga mengangguk. "Gue punya banyak kenangan di sini." Raga menatap Echa tepat di manik matanya. Echa tak berkedip ditatap mata tajam yang meneduh itu. Echa berdehem. "Contohnya?" Raga mengangkat bahunya. "Rahasia." Echa merengut. Namun, tak bertahan lama. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh nan hangat menggenggam tangannya. Kehangatannya menjalar sampai ke sudut gelap dalam hatinya. "Contohnya ini." Raga menarik Echa lebih dekat dengan ombak. Mendorong tubuh Echa sampai terjatuh di air, lalu menyiprati wajah Echa dengan air. Ecah memekik. Tak mau kalah, dia berdiri lalu mendorong tubuh Raga. Gantian menyipratkan air ke wajah Raga dan membuat sebuah senyum lebar terbit di wajah tampan itu. Echa mematung. Menatap wajah itu lama dan dalam. Echa baru sadar bahwa Raga lebih tampan dari Jiwa. Bahkan, mata elang itu sebenarnya teduh dan menyiratkan kesedihan yang amat dalam. Raga terpaku saat tangan mungil Echa mengusap rambutnya. Merapikan poninya yang berantakan dibelai angin. Semerbak tubuh Echa memenuhi rongga dadanya. Mereka saling tatap. Echa mengulum senyum. "Echa baru sadar." Raga menatapnya bingung. "Echa baru sadar kalau Raga ...." "Kalau apa?" "Kalau Raga jelek banget!!" Echa mendorong tubuh Raga sampai terjebur di air, lalu berlari sebelum lelaki itu menghabisinya. Raga kaget bukan main. Dia menggeram. "Awas aja lo! Gue bales!" Lelaki itu bangkit. Kakinya melangkah lebar-lebar dan berlari mengejar Echa. Dia akan menangkap gadis nakal itu! Raga memerangkap tubuh Echa dari belakang. Mengurungnya dengan pelukan erat. "Mau lari kemana lo?" Raga berbisik di telinga Echa. Echa membalik badannya dan mendorong tubuh itu lagi. Namun, baru beberapa langkah, tangan kokoh itu membopong Echa seperti karung beras. "Raga!!!" "Ini akibat karena berani macem-macem sama gue." Raga tersenyum sinis. "Ih, enggak!! Turunin Echa!!" "Nggak akan!" "Turunin!" "Kalau enggak, ya, enggak!" "Raga! Echa ngambek, nih!" Echa memukuli punggung Raga bertubi-tubi. "Rasain!!!!" Raga tertawa. Echa terdiam kaku. Kali ini, Raga berbeda dari Raga yang kemarin. Apa mungkin ini Raga yang sebenarnya? Sosok yang baik dan bisa membuat orang lain tersenyum hanya karena melihat senyumannya? Echa suka cara kamu buat orang lain bahagia. Echa meringis. Mendadak, kepalanya berdenyut nyeri. Gadis itu memijat pelipisnya. Raga yang menyadari akan hal itu, lalu menghentikan langkahnya. Dia menurunkan Echa. "Lo kenapa?" tanya Raga. Echa meringis. Pertanyaan itu adalah hal terakhir yang bisa dia dengar karena setelahnya semua gelap. Echa tak sadarkan diri dengan Raga yang menahan badannya. "Cupu, lo kenapa?" Raga menepuk-nepuk pipi Echa. Echa tak membuka matanya. "Si*l*n. Cupu, jangan buat gue panik!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD